“Mahasiswa KKN UNDIP Hadirkan LowCal SaltEgg: Telur Asin Rendah Kolesterol dari Bebek Lokal Desa Klareyan”

PEMALANG, 6 Agustus 2025 Sore di Desa Klareyan terasa begitu damai. Mentari perlahan turun ke ufuk barat, meninggalkan sinar jingga keemasan yang memantul di dinding rumah-rumah sederhana di Dusun 2. Angin sepoi-sepoi berhembus, membawa aroma khas pedesaan yang berpadu dengan riuh rendah suara ayam dan anak-anak yang masih asyik bermain di halaman. Suasana tenteram itu kian semarak ketika di salah satu rumah warga, halaman dan terasnya telah disulap menjadi ruang pertemuan sederhana.
Tikar digelar rapi memenuhi lantai. Di atas tikar, sekitar 40 ibu-ibu Dawis tampak duduk lesehan dengan penuh semangat. Ada yang datang dengan daster, ada pula yang mengenakan pakaian terbaiknya dengan wajah yang sudah di poles sedemikian rupa, tetapi semuanya menunjukkan raut wajah yang sama rasa ingin tahu dan antusiasme. Mereka datang bukan hanya untuk berkumpul, tetapi juga untuk belajar sesuatu yang baru yang diyakini bisa membawa manfaat nyata. Di bagian dalam ruangan sudah tertata toples plastik, garam, rempah-rempah, dan beberapa butir telur bebek segar. Perlengkapan sederhana itu menjadi pusat perhatian sore itu, karena akan digunakan dalam demonstrasi pembuatan produk inovatif. Di samping itu, beberapa mahasiswa KKN-T 123 Universitas Diponegoro berdiri dengan penuh kesiapan, siap memandu jalannya kegiatan.
“Alhamdulillah, kita bisa berkumpul sore ini untuk belajar sesuatu yang baru. Terima kasih untuk adik-adik mahasiswa KKN yang sudah mau berbagi ilmu,” ucapnya. Kalimat singkat itu disambut dengan tepuk tangan meriah dari para ibu-ibu Dawis yang hadir. 

Riuh tepuk tangan dan wajah-wajah penuh antusiasme membuat suasana sore itu terasa begitu hangat.
Hari itu, program kerja sosial bertajuk “Pembuatan LowCal SaltEgg Bebek Lokal Bernilai: Inovasi Teknologi Pengolahan Telur Asin Rendah Kolesterol di Desa Klareyan” resmi diperkenalkan. Program ini bukan sekadar pelatihan biasa, melainkan hasil riset dan gagasan kreatif yang diusung oleh Rani Sofiani, salah satu mahasiswi KKN jurusan Teknologi Pangan yang sejak awal mencermati potensi lokal desa. 

Rani meyakini, inovasi sederhana ini dapat menjadi solusi dua sisi sekaligus yakni menjaga kesehatan masyarakat sekaligus membuka peluang ekonomi baru.
Dengan suara lantang namun ramah, Rani membuka acara. “Ibu-ibu semua, siapa yang suka makan telur asin?” tanyanya sambil tersenyum lebar. Pertanyaan itu langsung disambut antusias. Hampir semua tangan terangkat tinggi, disertai tawa kecil yang spontan pecah dari barisan peserta. Beberapa ibu bahkan bersuara, “Saya, Mbak! Apalagi kalau sama nasi hangat.” Suasana pun menjadi cair, penuh keakraban. 
“Ibu-ibu semua tentu sudah sangat familiar dengan telur asin. Rasanya gurih, cocok untuk segala jenis lauk, dan banyak digemari. Tetapi ada satu hal yang sering menjadi masalah, yaitu kandungan kolesterolnya yang tinggi,” ujarnya. Spontan beberapa ibu mengangguk sambil berbisik kecil kepada tetangga di sebelahnya. Rani lalu melanjutkan, “Hari ini kita akan belajar membuat LowCal SaltEgg, yaitu telur asin rendah kolesterol dengan metode sederhana yang bisa dipraktikkan di rumah. Jadi, kita tetap bisa menikmati enaknya telur asin, tapi dengan cara yang lebih sehat.”
Suasana pun semakin cair. Ibu-ibu Dawis terlihat makin antusias, beberapa di antaranya sudah menyiapkan buku catatan kecil untuk menulis langkah-langkah yang dijelaskan. Mahasiswa KKN kemudian memperlihatkan bahan-bahan, cara membersihkan telur, hingga proses merendam dengan larutan garam bercampur rempah alami. Rani menekankan bahwa selain lebih sehat, teknik ini juga bisa meningkatkan nilai jual telur asin jika dipasarkan.
“Kalau ibu-ibu mau, produk ini bisa dijadikan usaha bersama. Bayangkan, Desa Klareyan punya telur asin sehat yang berbeda dari lainnya. Bisa dipasarkan sebagai oleh-oleh khas,” tambah Rani dengan penuh semangat. Ucapannya langsung disambut tepuk tangan dan bisikan setuju dari banyak peserta.
Sore itu, suasana sederhana di teras rumah warga berubah menjadi ruang penuh ide dan harapan. Dari tikar pandan, dari canda tawa ibu-ibu Dawis, lahirlah semangat baru bahwa inovasi bukan hanya milik kota besar, tetapi bisa tumbuh dari desa, dari bahan sederhana, dan dari kerja sama yang tulus. Ucapannya langsung memantik semangat baru. Beberapa ibu terlihat mengangguk lebih mantap, bahkan ada yang bersuara, “Wah, kalau bisa dijual pasti laris!” Tawa kecil kembali pecah, namun kali ini disertai aura optimisme.
Suasana menjadi semakin hidup. Rani kemudian mulai menjelaskan satu per satu bahan yang digunakan, bagaimana cara mencuci dan membersihkan telur, serta proses merendam dengan larutan garam dan tambahan rempah alami seperti kunyit, daun salam, akar alang-alang, dan kayu secang. Ibu-ibu memperhatikan dengan seksama. Beberapa bahkan mencatat dengan cepat di buku kecil yang mereka bawa, sementara yang lain menatap penuh rasa ingin tahu.

Rani kemudian mulai menyiapkan bahan-bahan yang sudah disediakan. Telur bebek segar dikeluarkan, cangkangnya tampak bersih berkilau setelah dicuci ringan. Di sampingnya, terdapat toples plastik berisi garam halus siap dipakai. Beberapa wadah kecil berisi rempah-rempah kering, seperti daun salam, kayu manis, dan ekstrak tumbuhan, turut diperlihatkan. Bahan-bahan itu sontak membuat ibu-ibu Dawis yang duduk lesehan di tikar semakin penasaran. Mereka saling berbisik, menebak-nebak apa fungsi rempah-rempah dalam pembuatan telur asin.

Dengan penuh ketelitian, Rani Sofiani kemudian memulai demonstrasi. Ia menjelaskan setiap tahap secara perlahan agar mudah dipahami. Pertama, ia memperlihatkan bagaimana telur harus dibersihkan hingga benar-benar bebas dari kotoran. “Kalau masih ada kotoran menempel, bisa memengaruhi rasa dan aroma telur asin,” jelasnya sambil mengelap telur dengan kain bersih. Para ibu menyimak dengan seksama, beberapa bahkan mengangguk tanda setuju.
Langkah berikutnya adalah pembuatan larutan garam. Rani menuangkan air ke dalam baskom besar, lalu menaburkan garam halus dengan takaran yang sudah disiapkan. Ia mengaduk larutan itu hingga benar-benar larut. “Perbandingan air dan garam harus pas. Kalau terlalu asin, nanti hasilnya tidak enak, tapi kalau kurang, telur tidak awet,” terangnya. Sesekali, ibu-ibu terdengar berdecak kagum melihat kesederhanaan proses yang ternyata bisa dilakukan di rumah.
Tahap selanjutnya, Rani menunjukkan peran penting rempah-rempah. Ia memasukkan daun salam dan sedikit ekstrak alami ke dalam larutan garam. “Nah, di sinilah perbedaan LowCal SaltEgg dengan telur asin biasa. Rempah alami ini bisa membantu menurunkan kadar kolesterol sekaligus memberi aroma khas,” ucapnya sambil memperlihatkan campuran larutan yang mulai beraroma wangi.
Setelah larutan siap, Rani memasukkan beberapa butir telur bebek ke dalam baskom. Ia menjelaskan bahwa proses perendaman memerlukan waktu beberapa hari agar rasa asin meresap sempurna. “Kalau ingin hasil lebih rendah kolesterol, bisa ditambahkan ekstrak tumbuhan tertentu. Jadi kita tetap makan enak, tapi lebih sehat,” katanya.
Sepanjang demonstrasi, ibu-ibu duduk rapi di tikar, memperhatikan setiap gerakan dengan mata berbinar. Suasana penuh keakraban namun tetap serius, seolah mereka tak ingin melewatkan satu detail pun. Sesekali terdengar komentar kecil, “Oh begitu caranya,” atau, “Ternyata mudah, ya.” Meskipun mereka tidak langsung mencoba, rasa penasaran dan semangat belajar jelas terlihat. Sore itu, teras rumah warga benar-benar berubah menjadi ruang pembelajaran yang hangat, tempat ilmu baru ditanamkan, sekaligus harapan untuk membuka peluang usaha baru di Desa Klareyan.
Setelah praktik pembuatan selesai diperagakan, suasana di teras rumah itu masih terasa hangat. Mahasiswa KKN tidak langsung menutup kegiatan, melainkan melanjutkan dengan sesi diskusi ringan mengenai potensi ekonomi dari inovasi LowCal SaltEgg. Rani Sofiani, yang sejak awal memandu acara, dengan tenang menjelaskan mengapa produk sederhana ini bisa menjadi peluang besar bagi masyarakat desa.
Menurut Rani, perubahan gaya hidup masyarakat, terutama di perkotaan, sedang bergerak ke arah yang lebih sehat. Banyak orang kini lebih selektif dalam memilih makanan, tidak hanya mencari rasa, tetapi juga mempertimbangkan manfaat kesehatan. “Tren gaya hidup sehat ini membuat produk-produk inovatif lebih mudah diterima. Telur asin sehat ini bisa menjadi salah satu jawabannya. Dengan kadar kolesterol yang lebih rendah, ia memiliki nilai lebih dibandingkan telur asin biasa,” jelasnya. Ucapan itu membuat sebagian ibu yang hadir saling pandang, seolah membayangkan peluang yang terbuka.
Rani melanjutkan penjelasannya dengan memberi gambaran sederhana. Jika telur asin biasa dijual dengan harga tertentu, maka LowCal SaltEgg bisa ditawarkan sedikit lebih tinggi karena membawa keunggulan tambahan. “Orang akan rela membayar lebih, karena bukan hanya membeli rasa gurihnya, tapi juga manfaat kesehatannya. Itu artinya ada peluang pasar yang bisa kita tangkap, terutama kalau nanti ada wisatawan atau orang luar desa yang berkunjung ke Klareyan,” tambahnya.
Mendengar penjelasan itu, antusiasme para ibu semakin terlihat. Beberapa mulai berbisik, sementara yang lain mengangguk penuh semangat. Bu Eni, salah satu peserta yang duduk di barisan depan, langsung mengangkat tangan. Dengan nada bersemangat, ia berkata, “Kalau begitu, kita bisa kerja sama. Ibu-ibu Dawis bisa bikin bareng-bareng, lalu hasilnya dijual di pasar atau dititipkan di toko oleh-oleh. Lumayan sekali untuk tambahan penghasilan keluarga.”
Ucapan Bu Eni sontak memicu percakapan ramai di antara peserta. Beberapa ibu mengusulkan agar dibentuk kelompok kecil untuk memproduksi bersama, sementara yang lain mengingatkan pentingnya konsistensi rasa agar pembeli tidak kecewa. Suasana menjadi lebih hidup, seperti rapat dadakan yang penuh ide.
Mahasiswa KKN menyambut baik antusiasme tersebut. Mereka menekankan bahwa langkah awal memang dimulai dari skala kecil misalnya, produksi terbatas untuk dicoba dijual di lingkungan sekitar. Jika penerimaan masyarakat baik, barulah diperluas ke pasar yang lebih besar. Rani bahkan mengingatkan pentingnya menjaga kualitas dan kebersihan agar produk benar-benar dipercaya konsumen.
Sore itu, teras rumah yang awalnya hanya menjadi tempat pertemuan sederhana berubah menjadi ruang diskusi penuh harapan. Ibu-ibu Dawis bukan hanya menjadi peserta, tetapi mulai melihat diri mereka sebagai calon pelaku usaha baru. Dari obrolan ringan dan percikan ide, lahirlah keyakinan bahwa LowCal SaltEgg tidak sekadar makanan, melainkan peluang ekonomi nyata yang bisa memperkuat perekonomian keluarga sekaligus mengangkat nama Desa Klareyan.
Acara semakin hidup ketika sesi tanya jawab dibuka. Setelah materi utama selesai disampaikan, Rani Sofiani mempersilakan para peserta untuk menyampaikan pertanyaan atau keraguan mereka. Spontan, beberapa tangan langsung terangkat. Ibu-ibu Dawis yang sejak tadi duduk lesehan di tikar pandan tampak bersemangat, sebagian bahkan saling berebut kesempatan untuk bertanya lebih dulu.
“Kalau begini, tahan berapa lama, Mbak?” tanya Bu Marni, yang duduk di barisan depan sambil sedikit mencondongkan tubuhnya.
“Dengan pengemasan vakum, bisa tahan hingga 3 minggu, Bu. Kalau hanya disimpan biasa, biasanya sekitar 1–2 minggu saja,” jawab Rani dengan sabar. Penjelasan itu membuat beberapa ibu tampak mengangguk-angguk, ada pula yang berbisik ke tetangganya, membandingkan dengan pengalaman mereka membuat telur asin konvensional.
Pertanyaan berikut datang dari seorang ibu yang duduk di sisi kanan. “Bagaimana kalau telurnya tidak semua menetas bagus, apakah masih bisa dipakai?” tanyanya polos, membuat beberapa peserta lain ikut tersenyum.
“Bisa, Bu,” Rani menjawab. “Asal telurnya tidak busuk atau retak parah, tetap bisa diproses menjadi LowCal SaltEgg. Jadi tidak ada yang terbuang sia-sia.” Jawaban itu disambut lega, seolah memberikan harapan bahwa keterbatasan bahan baku pun tetap bisa diatasi.
Diskusi semakin hangat. Ada yang menanyakan tentang rasa, ada pula yang penasaran apakah metode ini bisa diterapkan untuk telur ayam atau telur puyuh. Rani menjawab dengan detail, menjelaskan bahwa prinsipnya sama, hanya saja hasil rasa dan teksturnya akan berbeda. Penjelasan itu memicu gelak tawa ringan ketika salah satu ibu berseloroh, “Wah, nanti bisa jadi bisnis telur asin aneka jenis, dari bebek sampai puyuh!” Candaan itu membuat ruangan penuh tawa, mencairkan suasana yang sejak tadi serius.
Tidak terasa, waktu sudah hampir dua jam berlalu. Namun semangat para ibu seolah tidak surut. Mereka masih aktif bertanya, berbagi pengalaman, bahkan mulai mengajukan ide-ide baru. Ada yang menyarankan untuk mencoba menjual produk ini saat acara hajatan atau arisan, ada pula yang berpendapat produk ini cocok dipasarkan menjelang hari raya.
Bagi Rani, momen tanya jawab ini menjadi bukti nyata bahwa program miliknya tidak hanya dipahami, tetapi juga benar-benar menumbuhkan rasa penasaran dan antusiasme. Sore itu, teras rumah yang sederhana berubah menjadi ruang belajar yang penuh semangat. Gelak tawa, diskusi hangat, dan percikan ide-ide baru menjadi penutup manis bagi kegiatan, sekaligus awal dari harapan besar: lahirnya inovasi pangan sehat dari tangan-tangan ibu Desa Klareyan.
Menjelang senja, ketika cahaya matahari mulai meredup dan langit Desa Klareyan berwarna jingga keemasan, acara pembuatan LowCal SaltEgg akhirnya ditutup dengan doa bersama. Lantunan doa yang khidmat membuat suasana terasa hangat dan penuh kekeluargaan. Setelah doa usai, wajah-wajah puas dan gembira terlihat jelas dari para ibu-ibu Dawis yang duduk lesehan di atas tikar pandan. Beberapa bahkan tampak saling berbisik, merencanakan untuk segera mencoba resep telur asin rendah kolesterol tersebut di rumah masing-masing.
Ketua Dawis Dusun 2 kemudian menyampaikan apresiasi mewakili seluruh peserta. Dengan nada penuh syukur, ia berkata, “Kegiatan ini benar-benar membuka wawasan kami. Selama ini kami hanya tahu cara membuat telur asin biasa, tapi sekarang kami bisa membuat yang lebih sehat. Kami berharap ada pendampingan lebih lanjut agar produk ini benar-benar bisa dipasarkan.” Ucapan itu sontak disambut tepuk tangan semangat dari seluruh peserta, menandakan betapa besar harapan yang mulai tumbuh di hati mereka.
Rani Sofiani bersama tim KKN-T 123 Universitas Diponegoro tersenyum lega mendengar respon positif itu. Baginya, keberhasilan sebuah program tidak hanya diukur dari hasil produk yang berhasil dibuat, melainkan juga dari semangat masyarakat untuk mencoba, percaya, dan mengembangkan bersama. “Bagi kami, keberhasilan bukan hanya ketika produk berhasil dibuat, tetapi ketika masyarakat mau mencoba, mau percaya, dan mau mengembangkan bersama,” tutur Rani menutup kegiatan dengan nada penuh harap.
Sore itu, di sebuah rumah sederhana di Dusun 2, lahirlah sebuah harapan baru. Harapan bahwa dari tangan ibu-ibu desa yang penuh ketekunan, LowCal SaltEgg bisa tumbuh menjadi produk unggulan yang tidak hanya menyehatkan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan keluarga. Sebuah bukti bahwa inovasi besar bisa lahir dari desa, dari semangat sederhana, dan dari kebersamaan yang tulus. (Eko B Art). 






Comments

Popular posts from this blog

Mahasiswa KKN Multidisiplin Dorong Kopi Jurangmangu Tembus Pasar Lewat Branding Berbasis Budaya Lokal

​HUT IGTKI ke-76 Kabupaten Pemalang Meneguhkan Komitmen Guru Sejahtera dan Pendidikan Berkualitas Menuju Wajib Belajar 13 Tahun

​Gagas Visi "Sinau Seduluran", Eko Budiarto Ajak Warga Losari Membangun Desa dengan Hati