Inovasi Hand Sanitizer Herbal dari Jahe (Zingiber officinale), Kayu Manis (Cinnamomum burmannii), dan Binahong (Anredera cordifolia) sebagai Antibakteri dan Anti Serangga

PEMALANG , 12 Agustus 2025
Desa Klareyan, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang, dikenal sebagai salah satu desa dengan potensi besar di bidang pertanian dan pengolahan hasil tanaman herbal. Warga di desa ini sudah terbiasa menanam jahe di pekarangan rumah, memanfaatkan kayu manis untuk ramuan minuman, serta menanam binahong sebagai tanaman obat keluarga. Namun, sebagian besar pemanfaatannya masih terbatas untuk kebutuhan rumah tangga, belum berkembang menjadi produk bernilai ekonomis yang memiliki daya saing tinggi.
Di tengah kondisi masyarakat yang mulai sadar pentingnya menjaga kebersihan setelah pandemi, muncul kebutuhan akan produk-produk kesehatan yang aman, praktis, sekaligus terjangkau. Salah satunya adalah hand sanitizer. Sayangnya, hand sanitizer yang banyak beredar di pasaran umumnya mengandung bahan kimia sintetis yang jika digunakan berulang kali dapat menyebabkan kulit kering, iritasi, bahkan reaksi alergi pada sebagian orang. Selain itu, harganya yang relatif mahal seringkali membuat masyarakat menengah ke bawah enggan membeli secara rutin.
Melihat persoalan tersebut, Rhasna salah satu angga tim KKN-T 123 Universitas Diponegoro menghadirkan sebuah program inovasi yang sederhana namun memiliki manfaat besar, yakni pembuatan Hand Sanitizer Herbal dari Jahe (Zingiber officinale), Kayu Manis (Cinnamomum burmannii), dan Binahong (Anredera cordifolia). Ketiga bahan ini dipilih bukan tanpa alasan, Jahe memiliki kandungan gingerol dan shogaol yang dikenal sebagai antibakteri dan antiinflamasi alami, mengandung cinnamaldehyde yang berfungsi sebagai antiseptik alami sekaligus memberikan aroma harum yang menenangkan, dan tanaman merambat yang mudah tumbuh di pekarangan warga, kaya akan flavonoid, saponin, dan alkaloid yang bermanfaat sebagai antibakteri sekaligus anti serangga. Dengan kombinasi ketiga bahan tersebut, hand sanitizer herbal ini tidak hanya berfungsi sebagai pembersih tangan, tetapi juga membantu mencegah gigitan serangga, yang kerap menjadi masalah di lingkungan pedesaan.
Kegiatan ini dilaksanakan di rumah produksi UMKM milik Pak Eko, seorang pengusaha kecil yang biasanya membuat jamu tradisional dari bahan jahe dan rempah-rempah. Dipilihnya rumah produksi ini sebagai lokasi kegiatan karena suasananya yang akrab dengan masyarakat, serta fasilitas sederhana yang bisa dimanfaatkan langsung untuk praktik. Selain itu, warga sudah terbiasa datang ke rumah produksi ini untuk kegiatan bersama, sehingga suasana penyuluhan terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Di ruangan sederhana dengan meja kayu panjang, berjejer bahan-bahan alami: potongan jahe segar, batang kayu manis kering, dan daun binahong yang baru dipetik dari pekarangan warga. Ada juga peralatan praktis seperti blender, panci kecil, saringan kain, botol kaca, alkohol 70%, serta botol semprot plastik yang nantinya akan dipakai untuk produk jadi. Suasana terasa akrab ketika Rhasna Wiritanaya Witrisnanti, mahasiswa Prodi Teknologi Rekayasa Kimia Industri Universitas Diponegoro, berdiri di depan warga dengan senyum ramah.
“Bapak Ibu, hari ini kita akan belajar bersama membuat hand sanitizer herbal. Kenapa herbal? Karena kita ingin memanfaatkan tanaman yang ada di sekitar kita. Jahe berfungsi sebagai antibakteri, kayu manis sebagai anti jamur dan pengharum alami, sedangkan binahong mengandung senyawa bioaktif yang bisa mempercepat penyembuhan kulit sekaligus berfungsi sebagai anti serangga. Jadi produk ini punya manfaat ganda.” Ucap Rhasna. Beberapa warga tampak mengangguk kagum. Bu Marni, pedagang jamu, bersuara lantang “Wah, kalau bisa dibuat sendiri dari bahan alami, berarti lebih aman untuk anak-anak. Soalnya saya sering khawatir dengan hand sanitizer kimia di pasaran yang bikin tangan kering.” “Betul sekali, Bu. Dengan bahan alami, kulit lebih terlindungi, tidak mudah iritasi, dan aromanya pun lebih segar.” Jawab Rhasna.
Di barisan depan, Pak Eko,Pemilik UMKM Jahe ikut angkat suara. “Kalau begitu, bisa juga dijual, ya Mbak? Jadi selain dipakai sendiri, bisa jadi usaha baru?” “Iya, Pak. Justru itu harapannya. Supaya Desa Klareyan punya produk khas yang tidak hanya bermanfaat untuk kesehatan, tetapi juga bisa meningkatkan ekonomi warga.” Jawab Rhasna dengan mantap. Tepuk tangan pun terdengar, menandai semangat warga yang semakin tinggi.
Setelah sambutan dan perkenalan selesai, warga mulai merapat ke meja panjang tempat bahan dan peralatan sudah tersusun rapi. Suasana di rumah produksi UMKM terasa akrab, ada yang duduk di kursi plastik, ada yang berdiri sambil menatap penasaran. Anak-anak kecil berlarian di halaman, sementara aroma jahe segar yang sudah dipotong kecil-kecil memenuhi udara.
Rhasna memulai penjelasan dengan nada lembut, sambil mengangkat sepotong jahe yang sudah dipersiapkan. “Baik Bapak Ibu, kita mulai dengan bahan pertama yaitu jahe. Jahe yang dipakai sebaiknya segar dan dicuci bersih. Potong kecil-kecil agar mudah diekstraksi. Jahe ini mengandung senyawa gingerol dan shogaol yang ampuh sebagai antibakteri alami.” Beberapa warga berbisik kecil, kagum dengan istilah-istilah baru. Bu Marni, pedagang jamu, mengangguk-angguk. “Pantas saja kalau wedang jahe itu bisa bikin badan hangat dan sehat. Ternyata ada antibakterinya juga, ya.”
Setelah jahe, Rhasna mengambil batang kayu manis kering yang sudah dipatah-patahkan. “Selanjutnya, kayu manis. Bapak Ibu pasti sering pakai kayu manis untuk masakan atau jamu. Tapi selain sebagai rempah, kayu manis ini mengandung cinnamaldehyde yang berfungsi sebagai antiseptik alami dan penghambat pertumbuhan jamur. Jadi, ketika kita campurkan, hand sanitizer ini tidak hanya membersihkan, tapi juga memberi aroma harum yang khas.” Warga spontan tersenyum ketika Rhasna menggosok sedikit kayu manis di telapak tangannya. Aroma manis hangat menyebar, membuat suasana makin akrab. 
Langkah berikutnya, daun binahong yang baru dipetik dari pekarangan warga diletakkan di atas meja. Daunnya hijau segar, agak tebal, dan mudah diremas. “Nah, ini yang istimewa: daun binahong. Tanaman ini sering kita lihat merambat di pagar rumah. Ternyata binahong punya kandungan flavonoid, alkaloid, dan saponin yang baik untuk kulit. Selain antibakteri, ekstraknya juga bisa menghalau serangga, sehingga produk kita punya manfaat ganda.” Pak Slamet, yang terkenal suka bercocok tanam, tersenyum bangga. “Wah, tanaman yang sering saya abaikan ternyata punya manfaat sebesar ini. Besok saya rajin rawat binahong di rumah.” Ucap Pak Slamet. 
Semua bahan utama sudah diperkenalkan. Kini waktunya masuk ke praktik ekstraksi sederhana. Dimulai dari merebus bahan, Jahe, kayu manis, dan daun binahong dimasukkan ke dalam panci berisi air bersih. Api dinyalakan, dan warga memperhatikan dengan seksama saat air mulai mendidih. Dalam beberapa menit, aroma harum jahe dan kayu manis bercampur dengan aroma segar binahong, memenuhi ruangan. “Mbak, wanginya kayak minuman herbal. Kalau dicampur gula bisa jadi wedang, ya?” Ucap Adit salah satu pemuda karang taruna. “Iya, bisa sekali. Bedanya, hari ini kita tidak minum, tapi kita manfaatkan ekstraknya untuk kesehatan kulit.” Jawab Rhasna. 
Tahap selanjutnya adalah Penyaringan, Setelah direbus ±20 menit, cairan herbal itu berwarna kecokelatan. Rhasna mematikan api, lalu menyaring cairan menggunakan kain bersih. Warga bergiliran membantu, dan beberapa ibu tampak senang bisa memegang langsung hasil rebusan. “Cantik sekali warnanya. Jadi ini nanti yang dicampur dengan alkohol, ya?” tanya Bu Siti. “Betul, Bu. Tapi sebelum dicampur, kita dinginkan dulu agar kandungan aktifnya tetap terjaga.” Jawab Rhasna.
Selanjutnya masuk ke tahap pencampuran dengan Alkohol. Setelah cairan agak dingin, Rhasna menuangkan ke dalam wadah besar. Kemudian ia menambahkan alkohol medis 70%. Semua warga langsung memperhatikan serius. “Kenapa harus alkohol 70%, Mbak? Kenapa bukan 100% biar lebih kuat?” tanya Pak Eko pemilik UMKM. “Pertanyaan bagus, Pak. Justru yang paling efektif membunuh kuman itu alkohol 70%. Kalau 100%, kuman malah bisa membentuk lapisan pelindung sehingga tidak mati sempurna.” Jawab Rhasna. Warga saling berpandangan, kagum dengan penjelasan yang baru mereka tahu.
Selanjutnya, Agar produk tidak membuat kulit kering, ditambahkan aloevera gel dalam jumlah kecil. Rhasna menunjukkan cairan kental bening itu sebelum menuangkannya. “Aloevera gel ini fungsinya untuk melembabkan kulit. Jadi hand sanitizer kita tetap aman dipakai sehari-hari, tidak membuat kulit pecah-pecah.”
Kini saatnya menuangkan cairan ke dalam botol semprot kecil. Rhasna memberikan kesempatan kepada warga untuk ikut mengisi botol satu per satu. Suasana jadi lebih meriah ketika warga mencoba sendiri menuangkan cairan herbal itu. Bu Marni sambil mencoba semprot berkta “Wah, aromanya enak sekali, ada hangat jahenya, manis kayu manis, dan segar binahong. Tidak seperti hand sanitizer biasa yang baunya tajam.” “Kalau kita kasih label dan nama, ini bisa jadi produk khas Desa Klareyan. Anak-anak muda bisa bantu promosikan.” Ucap adit. 
Warga kemudian diminta mencoba langsung. Satu per satu mereka menyemprotkan hand sanitizer herbal ke telapak tangan. Ada yang langsung menghirup aromanya, ada yang menggosok tangan sambil tersenyum puas. “Tangan saya jadi wangi, Mbak. Tidak lengket, malah terasa lembut.” Ucap Bu Siti. “Kalau begini, saya mau pakai setiap habis dari sawah. Tidak perlu beli hand sanitizer mahal-mahal lagi.” Ucap Pak Eko. 
Suasana semakin hangat ketika anak-anak kecil juga ikut mencoba. Mereka tampak senang menyemprotkan cairan ke tangan, lalu saling menunjukkan aroma segar yang menempel.


Setelah semua tahap selesai, warga saling bertukar pendapat. Beberapa langsung berpikir soal peluang usaha, ada pula yang lebih menekankan manfaat kesehatan. Kalau ada pelatihan lanjutan, saya ingin produksi lebih banyak untuk dijual bersama jamu saya.” Ucap Bu Marni. “Kita bisa buat tim kecil, Pak. Kalau produksi rutin, tinggal bikin label, terus jual di pasar atau online. Anak muda siap bantu promosi.” Ucap Andi. Dan Pak Slamet yang berkta “Yang penting bahan baku tersedia. Jahe dan binahong kita punya banyak. Tinggal kayu manis saja yang harus beli, tapi harganya masih terjangkau.”
Setelah uji coba selesai, suasana rumah produksi UMKM terasa riuh penuh antusias. Warga masih saling mencoba hand sanitizer herbal yang baru mereka buat. Botol-botol kecil berpindah dari satu tangan ke tangan lain, dipencet berkali-kali sambil mencium aromanya yang khas. Ada rasa bangga tersendiri karena mereka bisa menghasilkan produk yang sebelumnya hanya mereka lihat di toko atau apotek.
Bu Siti yang sejak awal tampak antusias, mengusap tangannya berulang-ulang lalu berkata dengan senyum lebar “Biasanya kalau saya beli hand sanitizer di toko, cepat bikin kulit kering. Tapi yang ini beda, lebih lembut di tangan. Saya jadi tidak takut memakainya sering-sering.” Ucapan itu membuat beberapa ibu rumah tangga lain mengangguk setuju. Mereka merasa bahwa produk ini benar-benar sesuai dengan kebutuhan sehari-hari.
Pak Slamet, yang selalu aktif bertanya, kembali menyampaikan pendapatnya “Kalau begini, berarti kita tidak hanya sehat, tapi juga bisa hemat. Selama ini saya beli hand sanitizer untuk anak-anak sekolah, harganya lumayan. Kalau kita bisa bikin sendiri dari bahan di desa, jelas lebih terjangkau.” Kata-kata Pak Slamet disambut dengan tepuk tangan kecil dari warga. Mereka mulai melihat produk ini bukan hanya sebagai kebutuhan kesehatan, tetapi juga sebagai solusi ekonomi rumah tangga.
Melihat antusiasme warga, Andi, pemuda karang taruna, angkat bicara. “Mbak Rhasna, bagaimana kalau kita buat kelompok kecil untuk produksi hand sanitizer ini secara rutin? Anak-anak muda bisa bantu pengemasan dan promosi lewat media sosial. Kita buat nama brand khusus, misalnya Klareyan Herbal Care atau Natural Touch Klareyan.” Warga langsung ramai membicarakan ide itu. Beberapa ibu menambahkan bahwa produk ini bisa dijual di warung-warung desa atau dititipkan di koperasi sekolah. Bahkan ada yang mengusulkan agar produk ini menjadi oleh-oleh khas Desa Klareyan.
Pak Eko, pemilik rumah produksi UMKM, juga menanggapi serius. “Rumah produksi saya biasanya dipakai untuk membuat jamu. Tapi kalau warga setuju, tempat ini bisa kita manfaatkan juga untuk produksi hand sanitizer. Kita atur jadwal, misalnya seminggu sekali, biar tetap jalan.” Semua yang hadir menyambut dengan semangat. Bahkan ibu-ibu sudah membayangkan desain label botol yang cantik, dengan gambar jahe, kayu manis, dan binahong. “Saya merasa bangga sekali melihat warga Klareyan bisa menerima ilmu baru dengan penuh semangat. Inovasi hand sanitizer herbal ini bukan sekadar produk, tetapi bukti bahwa desa kita mampu berkreasi dengan bahan lokal. Saya harap setelah ini ada tindak lanjut, jangan hanya berhenti di pelatihan. Mari kita bentuk kelompok kerja, supaya produk ini bisa benar-benar dipasarkan.” Ucap Pak Eko. 
Di tengah suasana penuh semangat itu, Dr. Siti Fatimah, M.Kes., selaku dosen pembimbing, juga menyampaikan pendapat. “Saya senang melihat bagaimana masyarakat Klareyan mau belajar dan terbuka dengan inovasi. Mahasiswa datang untuk berbagi, tapi keberhasilan sebenarnya ada di tangan warga sendiri. Kalau produk ini bisa diproduksi secara berkelanjutan, tentu akan berdampak positif pada kesehatan, ekonomi, dan citra desa.”
Bagi Rhasna Wiritanaya Witrisnanti, momen itu adalah pengalaman berharga. Dalam hati, ia merasa bersyukur bisa menjalankan program KKN yang tidak hanya memberi pengetahuan, tetapi juga langsung bermanfaat bagi masyarakat. “Apa yang dipelajari di kampus terasa lebih bermakna ketika bisa diterapkan di desa. Jahe, kayu manis, dan binahong bukan hanya bahan tumbuhan, tetapi pintu bagi warga untuk hidup lebih sehat dan mandiri.” Ucap Rhasna. Rhasna menatap warga yang tersenyum sambil memegang botol kecil berisi cairan herbal. Senyum itu menjadi bukti nyata bahwa ilmu tidak pernah sia-sia jika dibagikan dengan tulus.
Menjelang sore, kegiatan ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat. Suasana hening, penuh harap agar usaha kecil ini membawa kebaikan bagi seluruh warga. Setelah doa, dilakukan sesi foto bersama. Semua yang hadir—warga, mahasiswa, dosen pembimbing, dan kepala desa—berpose sambil memegang botol hand sanitizer herbal mereka.
Kegiatan Inovasi Hand Sanitizer Herbal dari Jahe, Kayu Manis, dan Binahong membuktikan bahwa desa mampu berinovasi dengan sumber daya alam yang sederhana. Produk ini memiliki keunggulan seperti menggunakan bahan herbal lokal yang ramah kulit, berfungsi sebagai antibakteri sekaligus anti serangga, memanfaatkan tanaman sekitar dan mengurangi ketergantungan pada produk berbahan kimia, membuka peluang usaha baru bagi UMKM dan masyarakat. Lebih dari itu, kegiatan ini menumbuhkan rasa kebersamaan, semangat gotong royong, dan kesadaran bahwa inovasi bisa lahir dari hal-hal kecil yang ada di sekitar kita.
Dan di balik keberhasilan kegiatan ini, tercatat nama mahasiswa yang menjadi motor penggerak:
Rhasna Wiritanaya Witrisnanti
Program Studi Teknologi Rekayasa Kimia Industri
Universitas Diponegoro
Peserta KKN-T 123 Desa Klareyan, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang
Dosen Pembimbing: Dr. Siti Fatimah, M.Kes.
Kepala Desa: Wiharnyo, S.T.
(Eko B Art). 

Comments

Popular posts from this blog

Mahasiswa KKN Multidisiplin Dorong Kopi Jurangmangu Tembus Pasar Lewat Branding Berbasis Budaya Lokal

​HUT IGTKI ke-76 Kabupaten Pemalang Meneguhkan Komitmen Guru Sejahtera dan Pendidikan Berkualitas Menuju Wajib Belajar 13 Tahun

​Gagas Visi "Sinau Seduluran", Eko Budiarto Ajak Warga Losari Membangun Desa dengan Hati