Energi Alternatif Ramah Lingkungan Berbasis Limbah Jahe dan Sekam Padi sebagai Solusi Pemanfaatan Limbah Organik Bernilai Ekonomis dengan Emisi Asap Rendah

PEMALANG, 6 Agustus 2025
Di sebuah desa yang tenang bernama Desa Klareyan, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang, masyarakat sebagian besar menggantungkan hidup dari hasil pertanian. Padi merupakan tanaman utama yang menjadi sumber pangan, sementara jahe juga cukup banyak dibudidayakan sebagai komoditas tambahan, terutama bagi warga yang memiliki lahan kecil di pekarangan rumah. Setiap kali musim panen tiba, pemandangan hamparan padi yang menguning seolah menjadi lukisan alami yang indah. Namun di balik keindahan itu, ada masalah serius yang perlu mendapat perhatian seperti limbah sekam padi dan limbah jahe yang jumlahnya melimpah, seringkali hanya berakhir sebagai sampah tanpa nilai tambah.


Sekam padi biasanya dibakar begitu saja, menghasilkan asap pekat yang mencemari udara dan dapat mengganggu kesehatan masyarakat. Pembakaran terbuka tidak hanya menyebabkan polusi udara, tetapi juga melepaskan gas rumah kaca yang berkontribusi pada perubahan iklim. Sementara itu, limbah jahe, baik berupa kulit jahe, potongan kecil yang tidak digunakan, maupun sisa produksi dari UMKM pengolah jahe instan, kerap menumpuk dan dibiarkan membusuk.

 Padahal, jika diolah dengan tepat, keduanya memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan menjadi energi alternatif ramah lingkungan dengan emisi asap rendah.
Berangkat dari permasalahan ini, seorang mahasiswa dengan program studi Teknologi Rekayasa Kimia Industri yang tergabung dalam TIM Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) 123 Universitas Diponegoro hadir membawa gagasan inovatif dengan mengolah limbah jahe dan sekam padi menjadi energi alternatif yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga bernilai ekonomis bagi masyarakat Desa Klareyan.
Sejak awal perencanaan, program ini dirancang bukan hanya untuk mengolah limbah sekam padi dan jahe, tetapi juga untuk menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Tujuan utamanya adalah memberdayakan potensi lokal dengan cara sederhana namun berdampak besar. Dalam sebuah diskusi awal bersama perangkat desa, dosen pembimbing, dan masyarakat, tersirat betapa besar harapan yang dititipkan kepada program ini. Di rumah produksi UMKM yang sederhana, mahasiswa KKN-T 123 duduk melingkar bersama warga.


Malam itu lampu neon menyala terang, dan suasana terasa akrab. Setelah sambutan pembuka, salah satu mahasiswa berdiri menyampaikan tujuan kegiatan.
“Bapak dan Ibu, program ini saya susun untuk memanfaatkan limbah pertanian, khususnya sekam padi dan jahe, agar tidak lagi menjadi masalah lingkungan. Melalui inovasi briket ramah lingkungan dengan emisi asap rendah, kita ingin mengubah sesuatu yang dianggap sampah menjadi energi alternatif yang bisa bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari.” Ungkap Rhasna selaku pemilik gagasan ide yang saat ini sedang mempresentasikan idenya kepada masyarakat. 
Beberapa warga saling berbisik. Ada yang terlihat kagum, ada juga yang penasaran. Seorang bapak pemilik UMKM jahe Bernama Pak Eko yang duduk di barisan depan angkat tangan. “Jadi maksudnya, ampas jahe yang biasanya kami buang begitu saja bisa diubah jadi bahan bakar lagi? Bukan cuma untuk pakan ternak?”. 
“Betul, Pak. Sekam padi akan kami olah dengan tambahan limbah jahe sebagai bahan campuran, sehingga menghasilkan briket yang apinya stabil, asapnya tipis, bahkan bisa lebih awet untuk memasak.” Jawab Rhasna selaku pemateri. 
Mendengar penjelasan itu, Seorang ibu Bernama Sindi menambahkan dengan suara tegas namun penuh semangat “Saya sangat setuju dengan tujuan program ini. Jangan sampai limbah hanya jadi beban. Kalau bisa diolah, jadikan peluang. Kalau bisa jadi usaha, manfaatkan untuk kesejahteraan. Saya berharap briket ramah lingkungan ini bisa menjadi produk khas desa kita.”
Dosen pembimbing, Dr. Siti Fatimah, M.Kes., yang hadir malam itu, ikut menambahkan.  “Saya sangat mendukung kegiatan ini. KKN bukan hanya tentang mahasiswa belajar dari masyarakat, tapi juga bagaimana mahasiswa bisa berbagi ilmu yang bermanfaat. Tujuan akhirnya adalah agar masyarakat mampu mandiri mengolah limbah pertanian, sehingga tidak hanya mengurangi pencemaran tetapi juga menambah penghasilan.” Setelah sesi diskusi, wajah warga tampak sumringah. Mereka merasa tujuan program ini bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan mereka, melainkan sangat dekat dengan kebutuhan sehari-hari. Dari obrolan sederhana itu, semangat gotong royong dan rasa ingin tahu semakin kuat. 
Warga pun terlihat semakin antusias. Beberapa pemuda karang taruna berbisik satu sama lain, membayangkan kemungkinan produk briket ini dipasarkan secara online. Seorang pemuda bernama Andi akhirnya mengutarakan pendapatnya. “Kalau briket ini dikemas dengan desain modern dan dijual lewat internet, mungkin bisa menarik pembeli dari luar desa, Mbak.” Ungkap Andi salah satu anggota karang taruna
“Itu ide bagus sekali, Mas Andi. Selain tujuan utama kita untuk mengurangi limbah, kita juga bisa menjadikan produk ini sebagai peluang bisnis baru. Jadi manfaatnya ganda: lingkungan lebih bersih, masyarakat juga mendapat tambahan penghasilan.” Jawab Rhasna 
Senja mulai turun ketika halaman rumah produksi UMKM milik Pak Eko penuh oleh warga. Meja kayu panjang sudah dipenuhi baskom besar, saringan, timbangan, gelas ukur, panci untuk merebus perekat, cetakan pipa paralon, serta loyang jemur. Tumpukan sekam padi kering ada di sisi kiri, sementara ampas jahe (sisa serutan dan parutan dari produksi jahe instan) sudah dijemur tipis di atas tampah bambu. 
“Bapak Ibu, malam ini kita praktik dari awal sampai uji bakar. Targetnya briket minim asap, api stabil, dan gampang dibuat ulang di rumah. Kita mulai ya.” Ujar Rhasna. 
Rhasna, mahasiswa KKN-T 123 Universitas Diponegoro, berdiri di depan warga dengan senyum ramah. Di tangannya ada segenggam sekam padi yang masih berwarna keemas an dan ampas jahe. Ia mengangkatnya tinggi-tinggi sambil berkata, “Inilah bahan utama kita malam ini. Sekam padi, yang biasanya dibuang atau dibakar begitu saja, bisa kita ubah menjadi briket minim asap. Dan kita akan campur dengan ampas jahe dari produksi UMKM ini, supaya hasilnya lebih padat, lebih ramah lingkungan, dan punya aroma khas.”
Beberapa warga saling menatap kagum. Bu Marni, penjual jamu yang sering datang ke rumah produksi, berkomentar sambil tersenyum, “Kalau benar bisa dipakai buat masak tanpa banyak asap, wah ini bisa jadi penyelamat dapur saya, Mbak. Biasanya kalau bakar sekam, sampai mata perih.” 
Rhasna mengangguk dan mulai menjelaskan tahap awal. Sekam padi kering yang menumpuk di sudut ruangan sebagian dimasukkan ke wajan besar di atas tungku, lalu ditutup rapat. Asap tipis mengepul keluar dari lubang kecil di tutupnya. “Ini namanya pengarangan ringan. Sekam dipanaskan pelan-pelan, bukan sampai jadi abu, hanya sampai agak kehitaman. Dengan cara ini, gas-gas penyebab asap berlebihan bisa berkurang.” Ujar Rhasna. 
Anak-anak muda karang taruna yang berdiri di belakang memperhatikan serius. Salah satunya, Andi, mendekat sambil bertanya, “Kalau nggak punya wajan besar, bisa pakai apa, Mbak?” yang langsung dijawab oleh Rhasna Bisa pakai drum kecil atau panci apa saja Mas,  yang penting tertutup rapat. 


Tujuannya bukan membakar habis, tapi mengurangi kadar asap.”
Setelah sekam dan Ampas jahe selesai diproses, tahap berikutnya adalah membuat larutan perekat. Di atas kompor lain, air mendidih di dalam panci kecil, lalu dimasukkan tepung tapioka. Warga yang menonton tampak penasaran melihat cairan putih itu berubah menjadi bening dan kental. “Oh, ini kayak lem ya, Mbak? Buat ngeikat sekam sama jahe?” ungkap Pak Pak Slamet. “Betul sekali, Pak. Perekat ini yang bikin briket padat dan nggak gampang hancur saat dibakar.” Jawab Rhasna. 
Setelah perekat dingin, Rhasna mengajak warga mencampur bahan. Sekam hasil pengarangan, ampas jahe kering yang ditumbuk halus, dan larutan tapioka dituangkan ke baskom besar. Warga ikut mencoba mengaduk dengan tangan menggunakan sarung plastik. Rhasna kemudian memperagakan uji kepalan: ia menggenggam adonan, lalu membukanya di depan warga. Adonan itu tetap padat, tidak pecah dan tidak terlalu basah. “Kalau seperti ini tandanya pas. Kalau terlalu kering nanti rapuh, kalau terlalu basah briketnya lama kering dan bisa berjamur.” Ungkap Rhasna. 
Warga tampak antusias. Beberapa ibu mencoba menggenggam adonan, tertawa kecil saat adonan terlalu lengket di tangan mereka. Tahap selanjutnya adalah pencetakan. Cetakan dari paralon kecil sudah disiapkan. Rhasna memasukkan adonan setengah bagian, lalu menusukkan sebatang bambu di tengahnya sebelum menambahkan sisa adonan. Setelah dipadatkan, bambu ditarik, meninggalkan lubang udara di tengah. “Lubang di tengah itu buat apa, Mbak?” tanya Andi. “Kalau cuaca mendung, bisa dijemur pakai atap plastik atau bahkan dikeringkan di oven kecil dengan api rendah. Yang penting kadar airnya turun, jadi lebih awet.” Jawab Rhasna
Setelah beberapa briket selesai dibuat, waktunya uji bakar. Warga berkumpul di halaman rumah produksi. Beberapa briket yang sudah lebih dulu disiapkan dimasukkan ke tungku sederhana. Api dinyalakan, dan hanya dalam beberapa menit nyala api tampak stabil dengan asap tipis yang cepat hilang. Pak Eko selaku pemilik UMKM mengungkapkan “Wah, beda sekali dengan sekam biasa. Kalau biasanya dapur penuh asap, ini lebih bersih.” Bu marni juga menambahkan “Betul, dan apinya juga awet. Cocok sekali kalau dipakai buat masak jamu saya.”
Warga tampak semakin bersemangat. Beberapa pemuda mulai menghitung berapa lama briket itu bisa menyala. Mereka juga berdiskusi soal kemungkinan menjual briket dalam kemasan kecil untuk dipasarkan lewat online shop. “Kalau kita kasih label yang bagus, ini bisa jadi produk khas desa. Bukan cuma dipakai sendiri.” Saran Andi.  “Iya, betul sekali. Briket ini bukan hanya solusi lingkungan, tapi juga bisa jadi peluang ekonomi baru.” Jawab Rhasna. 
Malam itu, suasana rumah produksi UMKM terasa hidup. Api dari tungku briket menjadi saksi bahwa limbah sekam padi dan jahe yang sebelumnya terbuang, kini bisa diubah menjadi energi alternatif ramah lingkungan.
Api briket yang menyala tenang di tungku sederhana seakan menjadi pusat perhatian malam itu. Warga Desa Klareyan, baik tua maupun muda, mengelilinginya dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. Asap tipis yang perlahan menghilang membuat suasana terasa lebih nyaman. Tidak ada mata yang perih, tidak ada batuk akibat kepulan asap, hanya hangatnya api yang stabil menyala di tengah keramaian.
Pak Slamet, seorang petani berusia 50 tahun yang sehari-hari bekerja di sawah, mendekat sambil mengelus dagu. “Kalau saya lihat, ini lebih praktis daripada bakar sekam langsung. Biasanya kalau saya buang sekam di pinggir sawah, lama-lama orang bakar, asapnya kemana-mana. Kalau begini, malah bisa dipakai lagi buat masak. Bahkan bisa dijual, ya Mbak?”. “Betul sekali, Pak. Briket ini punya nilai jual. Sekam yang Bapak anggap limbah bisa jadi sumber tambahan penghasilan kalau diolah dengan cara ini.” Jawab Rhasna. 
Warga yang lain saling mengangguk, seakan baru saja menemukan harta karun yang selama ini tersembunyi di depan mata. Di sudut lain, Bu Marni yang berjualan jamu, ikut berbagi pengalamannya. “Kalau masak jamu, saya biasanya pakai kayu bakar. Tapi asapnya bikin batuk-batuk. Kalau briket ini bisa menyala lama dan asapnya tipis, saya yakin lebih enak dipakai. Bahkan pelanggan saya pasti tertarik kalau saya bilang jamu ini direbus dengan bahan bakar ramah lingkungan.” Komentar itu membuat warga tertawa kecil, tetapi mereka sadar, ide itu tidak main-main. Briket bukan hanya solusi untuk dapur, tetapi bisa menjadi identitas baru bagi produk lokal.
Andi, pemuda karang taruna yang sedari tadi aktif bertanya, mengambil ponselnya dan mulai merekam. Ia memotret briket yang menyala, lalu menyalakan kamera video untuk merekam percakapan. “Mbak Rhasna, kalau kita bikin video sederhana tentang cara bikin briket ini, lalu diunggah ke media sosial, kira-kira bisa menarik perhatian orang luar nggak?” “Tentu bisa, Andi. Sekarang banyak produk lokal yang dikenal karena promosi lewat media sosial. Apalagi kalau kita kasih nama produk, desain label, dan cerita tentang manfaatnya, pasti menarik.” Jawab Rhasna. 
Percakapan itu memicu semangat baru. Beberapa pemuda mulai berdiskusi sendiri, membayangkan kemasan briket dengan logo khas Desa Klareyan. Mereka bahkan membicarakan kemungkinan bekerja sama dengan UMKM setempat untuk memproduksi dalam jumlah lebih besar. 
Sementara itu, Bu Siti, ibu rumah tangga yang sehari-hari memasak untuk keluarganya, mencoba mengangkat salah satu briket yang sudah dingin setelah dibakar. Ia mengetuknya pelan dengan sendok logam, dan terdengar bunyi nyaring, tanda bahwa briket itu padat. “Kuat juga ini, ya. Kalau begini bisa disimpan lama. Kalau musim hujan, nggak usah repot cari kayu bakar.” “Betul Bu, asalkan disimpan di tempat kering. Kalau briket sudah kering sempurna, bisa tahan berbulan-bulan.” Ungkap Rhasna. 
Pemilik UMKM, Bapak Eko yang ikut menyaksikan dari awal, akhirnya angkat bicara untuk memberikan refleksi. Suaranya tenang, namun penuh wibawa. “Saya melihat malam ini sebagai awal dari sesuatu yang besar. Kita seringkali menganggap limbah hanya beban. Tapi lewat program ini, kita diajari bahwa limbah bisa jadi peluang. Saya ingin briket ini tidak hanya berhenti di uji coba, tetapi benar-benar diproduksi warga. Kita punya bahan baku melimpah, kita punya tenaga muda yang kreatif, dan kita punya UMKM yang siap berkembang. Mari kita manfaatkan semua itu.” Tepuk tangan warga pun bergemuruh, mengisi ruangan rumah produksi UMKM dengan semangat kebersamaan.
Dr. Siti Fatimah, M.Kes., selaku dosen pembimbing, menambahkan pesan singkat. “Mahasiswa datang bukan untuk menggurui, tetapi untuk berbagi ilmu. Tugas kami hanya memberi contoh, tapi keberhasilan sebenarnya ada di tangan masyarakat. Saya berharap warga Desa Klareyan bisa meneruskan apa yang sudah dipraktikkan hari ini.”
Rhasna sendiri berdiri dengan mata berbinar. Ia tidak menyangka antusiasme warga begitu besar. Dalam hatinya, ia merasa tujuan KKN ini tercapai: bukan hanya mengaplikasikan ilmu di luar kampus, tetapi juga melihat langsung senyum warga ketika menemukan solusi untuk masalah mereka. Malam semakin larut, namun warga masih enggan beranjak. Beberapa di antara mereka bahkan sudah mulai merencanakan untuk mencoba membuat briket keesokan harinya dengan bahan yang mereka punya sendiri. 
Bapak Eko pemilik rumah produksi, tampak sumringah. Ia menatap ruangan yang biasanya hanya dipenuhi aroma jahe kini dipenuhi semangat baru. “Rumah produksi saya biasanya hanya untuk jahe instan. Tapi malam ini, rasanya jadi laboratorium bersama. Saya senang sekali bisa jadi tuan rumah untuk inovasi ini. Semoga nanti kita bisa produksi briket secara rutin, mungkin bahkan dijual bareng produk jahe saya.” 
Menjelang pukul 22.00 WIB, kegiatan ditutup dengan doa bersama. Semua yang hadir—warga, mahasiswa, perangkat desa, hingga dosen pembimbing—berdiri melingkar. Suasana hening, hanya suara doa yang terdengar, memohon agar usaha kecil ini membawa berkah bagi Desa Klareyan. Setelah doa selesai, sesi dokumentasi dimulai. Warga dan mahasiswa berfoto bersama di depan rumah produksi UMKM. Lampu neon yang terang, tumpukan sekam di sudut halaman, serta tungku yang masih menyisakan bara merah menjadi saksi sejarah kecil: malam ketika limbah pertanian diubah menjadi harapan baru.
Sebelum semua pulang, Rhasna menyempatkan diri berbicara terakhir di hadapan warga. “Terima kasih atas antusiasme Bapak Ibu malam ini. Saya senang sekali melihat semangat kita bersama. Saya berharap, setelah ini, produksi briket bisa diteruskan oleh warga. Kalau ada kendala, mari kita cari solusi sama-sama. Saya yakin Desa Klareyan bisa jadi contoh desa inovatif yang peduli lingkungan sekaligus mandiri secara ekonomi.” Ucapan itu ditutup dengan tepuk tangan meriah. Senyum warga terpancar jelas, seakan mereka merasa bangga telah menjadi bagian dari perubahan kecil namun berarti.
Kegiatan malam itu bukan hanya sekadar penyuluhan, tetapi juga momen kebersamaan yang mengajarkan arti penting kolaborasi. Mahasiswa membawa ilmu, masyarakat menyediakan bahan dan semangat, perangkat desa memberi dukungan, dan UMKM membuka pintu rumah produksinya sebagai tempat belajar bersama.
Briket dari sekam padi dan jahe bukan hanya produk, melainkan simbol bahwa inovasi bisa lahir dari hal sederhana. Dari sesuatu yang dianggap sampah, tercipta energi baru yang ramah lingkungan. Dari kegiatan yang sederhana, lahir harapan besar untuk masa depan.
Dan di balik semua itu, nama seorang mahasiswa tercatat sebagai penggagas kegiatan:
Rhasna Wiritanaya Witrisnanti
Program Studi Teknologi Rekayasa Kimia Industri
Universitas Diponegoro
Peserta KKN-T 123 Desa Klareyan, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang. (Eko B Art). 




Comments

Popular posts from this blog

Mahasiswa KKN Multidisiplin Dorong Kopi Jurangmangu Tembus Pasar Lewat Branding Berbasis Budaya Lokal

​HUT IGTKI ke-76 Kabupaten Pemalang Meneguhkan Komitmen Guru Sejahtera dan Pendidikan Berkualitas Menuju Wajib Belajar 13 Tahun

​Gagas Visi "Sinau Seduluran", Eko Budiarto Ajak Warga Losari Membangun Desa dengan Hati