Edukasi Kepada Peternak Kambing dan Masyarakat Mengenai Pengolahan Limbah Kotoran Kambing Menjadi POP (Pupuk Organik Padat)
PEMALANG -Desa Klareyan, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang, memiliki potensi besar dalam bidang peternakan kambing. Hampir di setiap sudut desa, terutama di Dusun 2, dapat dijumpai kandang kambing milik warga. Hewan ternak ini sudah lama menjadi bagian penting dalam perekonomian desa. Namun, di balik manfaatnya, terdapat persoalan yang tak kalah penting yaitu limbah kotoran kambing yang melimpah. Selama ini, kotoran kambing hanya ditumpuk di belakang kandang.
Sebagian memang ada yang dimanfaatkan langsung untuk pupuk tanaman, tapi penggunaannya tidak teratur dan sering menimbulkan bau menyengat. Akibatnya, warga sekitar merasa kurang nyaman, dan limbah ini lebih sering dianggap sebagai masalah daripada peluang.
Melihat kondisi itu, Rhasna Wiritanaya Witrisnanti seorang mahasiswa dengan program studi Teknologi Rekayasa Kimia Industri yang tergabung dalam TIM Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) 123 Universitas Diponegoro hadir membawa program edukasi tentang pengolahan limbah kotoran kambing menjadi Pupuk Organik Padat (POP). Program ini diharapkan tidak hanya membantu mengurangi bau dan limbah, tetapi juga memberi nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
Rhasna mengadakan kegiatan edukasi di sawah Dusun 2. Lokasi ini dipilih karena berada di tengah area peternakan sekaligus pertanian, sehingga masyarakat dapat langsung melihat manfaat nyata dari pengolahan limbah. Sawah yang luas memberi ruang cukup untuk praktik pembuatan POP, sekaligus menghadirkan suasana segar dan alami. sore itu, sekitar pukul 16.30 WIB, warga Dusun 2 sudah berkumpul di sawah. Mereka membawa peralatan sederhana: cangkul, sekop, ember, dan karung berisi kotoran kambing segar.
Di bawah rindangnya pohon kelapa, sebuah terpal besar sudah digelar untuk menampung campuran bahan. Kehadiran warga membuat suasana sawah yang biasanya sepi menjadi ramai penuh semangat gotong royong.
Acara dibuka oleh Rhasna Wiritanaya Witrisnanti, mahasiswa Prodi Teknologi Rekayasa Kimia Industri Universitas Diponegoro, memperkenalkan diri. “Selamat pagi, Bapak Ibu. Hari ini kita akan praktik langsung bagaimana cara mengolah kotoran kambing menjadi pupuk organik padat. Jangan khawatir, caranya sederhana dan bisa dilakukan bersama-sama. Hasilnya bisa dipakai sendiri untuk sawah dan kebun, bahkan bisa dijual untuk menambah pendapatan.” Warga mengangguk penuh semangat. Beberapa pemuda karang taruna terlihat tak sabar untuk segera memulai praktik.
Suara burung pipit terdengar di kejauhan, sesekali angin sawah berhembus membawa aroma khas jerami dan tanah basah. Di tengah sawah, terpal biru besar terbentang, menjadi tempat utama warga beraktivitas.
Rhasna berdiri di depan tumpukan karung berisi kotoran kambing, sambil tersenyum menyapa warga. “Bapak Ibu, hari ini kita bukan sekadar belajar teori, tetapi langsung praktik. Jadi nanti semua ikut mencoba ya, supaya bisa mengulang di rumah masing-masing.” Ungkap Rhasna. Warga mengangguk bersemangat. Beberapa bapak sudah membuka karung, menumpahkan kotoran kambing ke atas terpal. Aroma khas kandang kambing tercium, tetapi suasana tetap cair karena warga sudah terbiasa.
Tumpukan kotoran kambing makin besar di atas terpal. Beberapa anak muda karang taruna membantu menuangkan jerami kering di atasnya. “Wah, ternyata banyak juga kotoran kalau dikumpulkan begini. Selama ini tidak sadar kalau limbahnya melimpah sekali.” Ucap Pak Sardi, yang langsung dibalas Pak Supri “Iya, biasanya dibiarkan saja di belakang kandang. Padahal kalau diolah, hasilnya bisa luar biasa.”
Rhasna lalu meminta beberapa warga untuk bergantian mencangkul dan mengaduk. Kotoran kambing, jerami kering, abu sekam, dan sedikit kapur pertanian dicampur menjadi satu. Suara cangkul menghantam campuran terdengar ritmis, seolah menjadi musik latar di sawah pagi itu. Ibu-ibu yang menonton dari tepi sawah tak tahan untuk ikut berkomentar. Setelah beberapa menit, warga sudah berkeringat. Tapi wajah mereka tetap semangat. Andi dan kawan-kawannya sesekali bergurau sambil mencangkul, membuat suasana semakin meriah.
Campuran bahan sudah cukup merata. Kini saatnya penyiraman. Warga mengambil air dari saluran irigasi sawah menggunakan ember, lalu menyiramkan ke atas campuran. Rhasna mengingatkan agar air tidak terlalu banyak. “Ingat, Bapak Ibu, pupuk harus lembab, bukan becek. Kalau terlalu basah, proses fermentasi tidak berjalan baik.” Ucap Rhasna. Warga mengangguk-angguk, mencatat dalam ingatan mereka. Setelah cukup lembab, tumpukan ditutup dengan terpal. Rhasna menjelaskan proses fermentasi selama 2–3 minggu. Untuk memberikan gambaran, Rhasna mengeluarkan contoh pupuk organik padat yang sudah matang dari percobaan sebelumnya. Warga mendekat, penasaran. Beberapa warga langsung berbisik-bisik, membicarakan kemungkinan menjual pupuk organik dalam karung 25 kg.
Setelah praktik selesai, warga duduk berkelompok di pematang sawah, menikmati teh hangat dan singkong rebus yang disiapkan ibu-ibu. Angin sepoi-sepoi membuat suasana semakin nyaman. Menjelang siang, kegiatan ditutup dengan doa bersama di sawah. Setelah itu, warga, mahasiswa, dan perangkat desa berfoto bersama di depan tumpukan bahan yang baru saja diolah. Foto diambil dengan format landscape, memperlihatkan kebersamaan seluruh peserta dengan latar belakang hamparan padi hijau.
Bagi warga Dusun 2, hari itu bukan sekadar kegiatan KKN, melainkan awal perubahan cara pandang: dari melihat kotoran kambing sebagai masalah, menjadi melihatnya sebagai peluang. (Eko B Art).
Comments
Post a Comment