Edukasi Hukum Lingkungan Untuk Masyarakat Petani Kopi; Membangun Kesadaran Sosial Dalam Praktik Pertanian Berkelanjutan dan Perlindungan Ekosistem
PEMALANG – Di balik hamparan kebun kopi yang menghijau di lereng Desa Jurangmangu, tersimpan kisah tentang perjuangan masyarakat menjaga keseimbangan antara produktivitas pertanian dan kelestarian lingkungan. Desa yang berada di dataran tinggi ini dikenal sebagai salah satu sentra kopi rakyat di Kabupaten Pemalang. Namun, potensi besar tersebut diiringi tantangan serius berupa kerusakan lingkungan akibat pembukaan lahan yang tidak terkendali, yang berisiko merusak ekosistem pegunungan dan mengancam keberlanjutan hidup masyarakat setempat.
Berangkat dari keprihatinan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari sebuah perguruan tinggi melaksanakan program sosial kemasyarakatan bertema Edukasi Hukum Lingkungan untuk Masyarakat Petani Kopi; Membangun Kesadaran Sosial dalam Praktik Pertanian Berkelanjutan dan Perlindungan Ekosistem. Program ini diharapkan menjadi jembatan antara pengetahuan akademis dengan praktik pertanian di lapangan, sehingga masyarakat tidak hanya memahami cara bertani yang baik, tetapi juga memahami aturan hukum yang melindungi lingkungan mereka.
Kegiatan ini melibatkan perangkat desa, kelompok tani, serta tokoh masyarakat setempat. Mahasiswa KKN tidak sekadar memberikan penyuluhan di balai desa, tetapi juga terjun langsung ke kebun kopi milik warga. Mereka mengajak petani melihat secara nyata titik-titik rawan longsor, mempraktikkan penanaman tanaman penutup tanah, dan memperlihatkan cara membuat sistem drainase yang dapat mencegah limpasan air. Pendekatan lapangan ini membuat warga lebih mudah memahami pentingnya penerapan prinsip-prinsip pertanian berkelanjutan.
Salah satu inovasi yang dihadirkan adalah buku saku berjudul Edukasi Hukum Lingkungan untuk Masyarakat Petani Kopi; Membangun Kesadaran Sosial dalam Praktik Pertanian Berkelanjutan dan Perlindungan Ekosistem. Buku ini dirancang dengan bahasa sederhana dan ilustrasi menarik, memuat penjelasan singkat mengenai aturan hukum lingkungan, dampak pembukaan kebun di kawasan konservasi, serta langkah-langkah praktis untuk mencegah erosi dan longsor. Kehadiran buku saku ini menjadi panduan praktis yang dapat dibawa ke kebun, dibaca bersama keluarga, atau digunakan sebagai bahan diskusi kelompok tani.
Diskusi interaktif antara mahasiswa dan warga menjadi momen yang paling berkesan. Para petani saling berbagi pengalaman, mulai dari kisah gagal panen akibat serangan hama hingga kerugian besar karena lahan mereka terdampak longsor. Seorang petani senior, Pak Suripto, menceritakan pengalamannya kehilangan sebagian kebun karena tebing longsor setelah pohon pelindung di sekitarnya ditebang. “Kalau kita tebang pohon pelindung, tanah jadi cepat terkikis. Pernah longsor waktu hujan besar, bikin panen gagal,” ujarnya dengan nada prihatin.
Seiring berjalannya kegiatan, terlihat perubahan pola pikir di kalangan petani. Mereka mulai memahami bahwa menjaga alam berarti menjaga sumber penghidupan mereka sendiri. Beberapa warga bahkan berinisiatif membentuk kelompok pengawasan untuk memantau pembukaan lahan baru agar tetap sesuai aturan. Kepala Desa Jurangmangu menyambut baik semangat baru ini dan berkomitmen untuk terus menggunakan buku saku sebagai bahan sosialisasi resmi dalam pertemuan kelompok tani. “Kami akan terus gunakan buku saku ini dalam pertemuan kelompok tani, supaya pengetahuan ini tidak berhenti setelah mahasiswa pulang,” katanya.
Program KKN ini meninggalkan jejak yang lebih dari sekadar kegiatan sementara. Ia membangun kesadaran kolektif bahwa kelestarian lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan kewajiban bersama. Harapannya, langkah kecil yang dimulai di Desa Jurangmangu ini menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di kawasan pegunungan. Sebab, pertanian berkelanjutan tidak hanya menjaga tanah tetap subur dan panen tetap melimpah, tetapi juga memastikan bahwa generasi mendatang masih bisa menikmati udara segar, air bersih, dan secangkir kopi hangat hasil bumi mereka sendiri. (Eko B Art).
Comments
Post a Comment