Dusun Siampel Jadi Inspirasi: Warga Bersama Mahasiswa UNDIP Kelola Limbah Jadi Pestisida Alami dari Limbah jadi Berkah

PEMALANG - Klareyan, 10 Agustus 2025 — Suasana hangat menyelimuti Dusun 3 Siampel, Desa Klareyan, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang, pagi itu. Puluhan warga, mayoritas ibu rumah tangga dan petani lokal, tampak antusias menghadiri kegiatan sosialisasi yang digagas oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Diponegoro. Di antara mereka, hadir pula Kepala Desa Klareyan, Bapak Wiharnyo, S.T., serta Kepala Dusun Siampel, Bapak Dwiono Setiawan, yang memberikan dukungan penuh atas terselenggaranya kegiatan tersebut. 
Program ini dipandu langsung oleh Tiurma Fransiska Simanullang, mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Kimia Industri, Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro, yang menjalani KKN Tematik bersama rekan-rekannya di bawah pendampingan Dosen Pembimbing Lapangan, yakni Dr. Siti Fatimah, M.Kes., Luthfansyah Mohammad, A.Md., S.Tr.T., M.T., dan Yusuf Ma’rifat Fajar Azis, S.T., M.T.
Hari itu menjadi momentum penting dalam perjalanan KKN di Desa Klareyan. Dengan semangat berbagi ilmu dan kepedulian terhadap lingkungan, Tiurma memperkenalkan sebuah inovasi sederhana namun berdampak besar: pengolahan limbah dapur menjadi pestisida alami. Program ini dirancang sebagai jawaban atas permasalahan yang dihadapi masyarakat, yaitu tingginya ketergantungan pada pestisida kimia yang seringkali menimbulkan efek samping terhadap kesehatan, biaya produksi, serta kualitas lingkungan. Di sisi lain, limbah organik rumah tangga seperti kulit bawang, batang serai, dan air cucian beras kerap terbuang percuma, padahal memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk bermanfaat.
Desa Klareyan, yang sebagian besar warganya berprofesi sebagai petani dan pelaku usaha kecil, menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan limbah rumah tangga. Selama ini, kulit bawang dan air cucian beras hanya dianggap sampah yang tidak bernilai, sering kali dibuang begitu saja ke saluran air atau ditimbun di lahan kosong. Kebiasaan ini selain mencemari lingkungan, juga memicu bau tidak sedap dan berpotensi menimbulkan masalah kesehatan. Pada saat yang sama, para petani di desa ini masih bergantung pada pestisida kimia untuk melindungi tanaman pekarangan maupun perkebunan mereka.
Kondisi tersebut mendorong lahirnya gagasan program pengolahan limbah dapur menjadi pestisida alami. Gagasan ini tidak hanya menawarkan solusi ramah lingkungan, tetapi juga sejalan dengan prinsip pertanian berkelanjutan. “Jika kita bisa memanfaatkan limbah yang ada di sekitar, kita tidak hanya mengurangi pencemaran, tetapi juga bisa mendapatkan produk yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari,” ujar Tiurma dalam sesi pembukaan sosialisasi. Pernyataan ini disambut tepuk tangan hangat dari warga yang hadir.
Kegiatan dimulai dengan penjelasan teoritis mengenai potensi bahan-bahan alami yang kerap terbuang di dapur. Tiurma memaparkan kandungan aktif dari limbah kulit bawang yang memiliki sifat antimikroba alami, serta manfaat air cucian beras yang kaya nutrisi untuk memperkuat ketahanan tanaman. Materi disampaikan dengan bahasa sederhana agar mudah dipahami oleh seluruh peserta, terutama para ibu rumah tangga yang menjadi sasaran utama program.
Setelah sesi teori, warga diajak melakukan praktik langsung pembuatan pestisida alami. Dengan alat sederhana berupa ember plastik, saringan kain, botol bekas, dan wadah fermentasi, masyarakat diperkenalkan pada teknik fermentasi organik. Proses ini melibatkan pencampuran kulit bawang dan air cucian beras yang kemudian didiamkan selama beberapa hari agar terbentuk larutan yang efektif sebagai pengendali hama. Tiurma menjelaskan langkah-langkah dengan telaten, mulai dari pemilihan bahan, proses pencampuran, hingga teknik penyimpanan.
Para warga tampak bersemangat mengikuti setiap tahap. Beberapa ibu rumah tangga bahkan saling bertanya mengenai variasi bahan yang bisa digunakan, seperti tambahan batang serai atau daun sirsak. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab dengan sabar, sekaligus menegaskan bahwa inovasi ini bersifat fleksibel dan dapat disesuaikan dengan ketersediaan bahan di rumah masing-masing. “Kuncinya adalah konsistensi dalam mencoba. Jangan takut gagal, karena bahan yang digunakan sangat mudah diperoleh dan murah,” jelas Tiurma.
Kegiatan ini semakin bermakna dengan hadirnya Kepala Desa Klareyan, Bapak Wiharnyo, S.T., yang memberikan sambutan sekaligus apresiasi atas inisiatif mahasiswa UNDIP. Dalam pidatonya, beliau menekankan pentingnya kolaborasi antara akademisi dan masyarakat dalam memecahkan masalah nyata di desa. “Kami sangat berterima kasih kepada adik-adik mahasiswa yang sudah membawa ilmu pengetahuan ke desa kami. Inovasi seperti ini sangat dibutuhkan, karena tidak hanya mengurangi sampah, tetapi juga memberikan solusi bagi petani agar tidak sepenuhnya bergantung pada pestisida kimia,” ujar Wiharnyo.
Senada dengan itu, Kepala Dusun Siampel, Bapak Dwiyono, menyampaikan rasa bangganya terhadap warga yang antusias mengikuti kegiatan. Ia menilai program ini bisa menjadi langkah awal bagi Dusun Siampel untuk menjadi percontohan dalam pengelolaan limbah organik. “Semoga ibu-ibu dan bapak-bapak bisa meneruskan ilmu ini di rumah masing-masing. Jangan sampai kegiatan ini berhenti hanya sampai hari ini,” katanya.
Dalam program ini, Tiurma tidak hanya berperan sebagai fasilitator, tetapi juga bertanggung jawab penuh dalam menyusun materi edukasi, menyiapkan alat dan bahan, serta membimbing warga dalam praktik lapangan. Ia memastikan setiap peserta memahami fungsi bahan, cara kerja fermentasi, hingga teknik filtrasi sederhana untuk menghasilkan larutan pestisida alami yang efektif. Selain itu, dokumentasi kegiatan juga dilakukan sebagai bagian dari laporan KKN serta bahan evaluasi untuk keberlanjutan program. 

Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini menjadi bukti nyata implementasi ilmu pengetahuan di tengah masyarakat. Sebagai mahasiswa Teknologi Rekayasa Kimia Industri, Tiurma memanfaatkan pengetahuan akademisnya untuk menciptakan solusi yang aplikatif dan relevan dengan kebutuhan desa. “Kami ingin menunjukkan bahwa ilmu yang kami pelajari di bangku kuliah bisa benar-benar bermanfaat bagi masyarakat, terutama dalam menghadapi masalah sehari-hari,” ungkapnya.
Awalnya, sebagian warga mengaku ragu apakah pestisida alami yang dibuat dari limbah dapur benar-benar efektif. Namun, keraguan itu mulai sirna setelah mereka mencoba langsung proses pembuatannya. Seorang ibu rumah tangga bernama Sulastri, yang hadir dalam kegiatan, mengatakan bahwa ia baru mengetahui kulit bawang ternyata bisa digunakan untuk mengusir hama. “Selama ini kulit bawang saya buang begitu saja, tidak tahu kalau bisa dijadikan obat tanaman. Kalau memang bisa berhasil, tentu ini akan sangat membantu kami,” ujarnya.
Petani lokal pun menyambut baik program ini. Meskipun belum sepenuhnya yakin, mereka berkomitmen untuk mencoba menerapkan pestisida alami di lahan masing-masing. Harapannya, inovasi ini dapat mengurangi biaya pembelian pestisida kimia yang selama ini cukup membebani pengeluaran. Dengan begitu, pendapatan petani bisa lebih stabil dan lingkungan pun lebih terjaga.
Kebahagiaan warga Desa Klareyan, khususnya di Dusun 3 Siampel, benar-benar terpancar usai pelaksanaan sosialisasi pengolahan limbah dapur menjadi pestisida alami pada 10 Agustus 2025. Bagi banyak warga, kegiatan ini terasa seperti sebuah jawaban atas keresahan mereka selama ini. Limbah dapur yang dulunya dianggap tidak berguna, kini dapat diubah menjadi sesuatu yang memiliki nilai nyata. Seorang ibu rumah tangga bernama Ibu Rukiyah mengaku sangat gembira karena biasanya ia hanya membuang kulit bawang ke tempat sampah atau menimbunnya di halaman belakang, yang kadang menimbulkan bau tidak sedap. Kini, dengan adanya pengetahuan baru, kulit bawang tersebut bisa dimanfaatkan menjadi pestisida alami untuk sayur-sayuran yang ia tanam di pekarangan rumah.
Kegembiraan itu bukan hanya dirasakan oleh ibu rumah tangga, tetapi juga oleh para petani lokal. Bapak Santoso, salah satu petani yang mengikuti pelatihan, menyampaikan bahwa biaya membeli pestisida kimia cukup memberatkan, apalagi harga pupuk dan obat tanaman semakin tinggi dari tahun ke tahun. Dengan adanya pelatihan ini, ia melihat peluang untuk mengurangi biaya produksi. Ia bahkan sudah berencana untuk mulai memproduksi pestisida alami bersama kelompok tani di dusunnya, memanfaatkan limbah yang sebelumnya hanya dibuang percuma. Menurutnya, jika satu rumah tangga saja bisa menyumbangkan kulit bawang dan air cucian beras, maka dalam satu RT bisa terkumpul cukup banyak bahan untuk membuat pestisida alami yang dapat dipakai bersama-sama.
Keberhasilan kegiatan ini juga terlihat dari antusiasme masyarakat ketika melihat hasil praktik pembuatan pestisida alami. Setelah proses fermentasi selesai, cairan yang dihasilkan tampak berwarna kecokelatan, memiliki aroma khas yang tidak menyengat, dan siap digunakan sebagai penyemprot alami. Saat dicoba pada beberapa tanaman cabai milik warga, hasilnya cukup menggembirakan. Daun tanaman terlihat lebih segar, dan beberapa hama kecil yang biasanya hinggap mulai berkurang. Hal ini membuat masyarakat semakin yakin bahwa apa yang mereka pelajari bukan sekadar teori, melainkan benar-benar bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu hal yang membuat warga semakin senang adalah kenyataan bahwa semua bahan untuk membuat pestisida alami ini sangat mudah didapat. Kulit bawang merupakan limbah dapur yang setiap hari ada di hampir semua rumah tangga. Air cucian beras juga tersedia rutin setiap kali ibu rumah tangga memasak nasi. Bahkan, ada juga tambahan bahan sederhana seperti batang serai kering atau sisa-sisa bumbu dapur lain yang bisa dimanfaatkan. Semua bahan ini tidak perlu dibeli di pasar karena memang sudah ada dalam kehidupan sehari-hari. Kesederhanaan bahan ini menjadikan pestisida alami lebih mudah diterapkan secara luas, tanpa harus menunggu bantuan dari pihak luar atau modal besar.
Selain bahan, kemudahan lain juga terletak pada wadah fermentasi yang digunakan. Dalam praktik pelatihan, botol plastik bekas air mineral berukuran 1,5 liter digunakan sebagai tempat fermentasi utama. Botol bekas ini dipilih karena mudah ditemukan, murah, dan bisa didaur ulang. Warga merasa senang karena selama ini botol plastik biasanya menumpuk menjadi sampah yang sulit terurai. Kini, botol tersebut bisa dipakai kembali untuk sesuatu yang lebih bermanfaat. Dengan cara sederhana, botol diisi dengan kulit bawang dan air cucian beras, kemudian ditutup rapat untuk menjalani proses fermentasi selama beberapa hari. Hasilnya, cairan fermentasi ini siap digunakan sebagai pestisida alami yang aman dan ramah lingkungan.
Kepala Dusun 3 Siampel, Bapak Dwiyono, menuturkan bahwa penggunaan botol plastik bekas sebagai wadah fermentasi ini memberikan dua manfaat sekaligus. Pertama, mengurangi jumlah sampah plastik yang biasanya hanya dibuang begitu saja. Kedua, membantu masyarakat mendapatkan sarana murah untuk memproduksi pestisida alami tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan. Ia menyebut program ini sebagai “dua langkah dalam satu kegiatan”, karena tidak hanya mengatasi limbah organik, tetapi juga mengurangi limbah anorganik. Pandangan tersebut membuat masyarakat semakin termotivasi untuk mencoba mempraktikkan pembuatan pestisida alami di rumah masing-masing.
Kepala Desa Klareyan, Bapak Wiharnyo, S.T., juga menyampaikan apresiasinya terhadap program ini. Beliau menekankan bahwa masyarakat desa memang membutuhkan inovasi sederhana yang aplikatif, tidak memberatkan biaya, dan bisa langsung dipraktikkan. Menurutnya, kelebihan utama dari program ini adalah sifatnya yang sangat membumi, karena menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat. "Kita semua setiap hari memasak, setiap hari membuang limbah dapur. Jika limbah itu bisa dimanfaatkan menjadi pestisida alami, maka kita tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga membantu keberlanjutan pertanian masyarakat," ujarnya.
Masyarakat Dusun 3 Siampel pun mulai memandang limbah rumah tangga dengan cara yang berbeda. Jika dulu mereka terbiasa membuang begitu saja, kini mereka merasa sayang membuang kulit bawang atau air cucian beras. Ibu-ibu rumah tangga bahkan sudah mulai mengumpulkan limbah dapur di wadah khusus agar tidak tercampur dengan sampah lain. Ada semangat baru untuk menjaga lingkungan, bukan karena kewajiban, tetapi karena mereka melihat manfaat langsung bagi tanaman di pekarangan rumah. Cabai, tomat, kangkung, hingga tanaman hias yang biasanya rawan hama kini bisa dirawat dengan lebih baik menggunakan pestisida alami.
Lebih jauh lagi, ada kebanggaan tersendiri bagi warga karena mereka bisa menghasilkan sesuatu yang benar-benar ramah lingkungan. Pestisida alami ini tidak meninggalkan residu berbahaya pada tanaman maupun tanah. Hal ini berbeda dengan pestisida kimia yang sering menimbulkan masalah jangka panjang, seperti menurunnya kesuburan tanah dan membahayakan kesehatan manusia. Dengan pestisida alami, masyarakat merasa lebih aman karena produk pangan yang mereka hasilkan juga lebih sehat. Beberapa warga bahkan sudah berencana menggunakan pestisida alami ini untuk tanaman buah seperti mangga dan jambu, agar hasil panennya lebih organik dan memiliki nilai jual lebih tinggi.
Selain dampak langsung bagi pertanian dan lingkungan, program ini juga menumbuhkan rasa kebersamaan di tengah masyarakat. Warga mulai terbiasa berkumpul untuk saling berbagi pengalaman tentang cara membuat pestisida alami, menukar bahan, hingga melakukan praktik bersama di kebun. Suasana gotong royong terasa kembali hidup, seperti semangat desa pada masa lalu yang penuh kebersamaan. Hal ini menunjukkan bahwa program tidak hanya membawa dampak teknis, tetapi juga sosial dan budaya. Ada rasa bangga bersama karena inovasi ini lahir dari kesederhanaan namun membawa manfaat yang luas.
Sebagai pelaksana program, saya, Tiurma Fransiska Simanullang, merasa sangat terharu melihat antusiasme masyarakat. Awalnya saya khawatir apakah masyarakat akan tertarik dengan konsep pengolahan limbah dapur, tetapi ternyata respon mereka jauh di luar dugaan. Warga begitu terbuka, mau belajar, dan cepat memahami proses yang diajarkan. Bahkan beberapa warga sudah langsung mencoba membuat pestisida alami di rumah masing-masing setelah sosialisasi selesai. Melihat semangat itu, saya yakin bahwa program ini tidak akan berhenti pada tahap pelatihan saja, tetapi akan berlanjut menjadi kebiasaan positif yang berkelanjutan.
Bagi saya pribadi, pengalaman ini menjadi pelajaran yang sangat berharga. Sebagai mahasiswa Program Studi Teknologi Rekayasa Kimia Industri, Fakultas Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro, saya merasa ilmu yang dipelajari di bangku kuliah benar-benar bisa diterapkan secara nyata di masyarakat. Tidak harus dengan teknologi canggih atau alat modern, tetapi justru melalui inovasi sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Inilah esensi dari ilmu yang bermanfaat: memberikan solusi praktis, murah, dan ramah lingkungan.
Melihat senyum warga saat memahami bahwa limbah rumah tangga mereka kini memiliki nilai baru, saya semakin yakin bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil. Kulit bawang yang biasanya terbuang kini menjadi cairan bermanfaat, botol plastik bekas yang menumpuk kini berubah fungsi menjadi wadah fermentasi, dan air cucian beras yang dianggap kotor kini justru menjadi nutrisi untuk tanaman. Semua ini menunjukkan bahwa keberlanjutan bukanlah sesuatu yang jauh atau rumit, melainkan bisa dimulai dari dapur rumah kita sendiri.
Program ini memang sederhana, tetapi dampaknya terasa luas. Dengan biaya yang hampir nol, masyarakat bisa menghasilkan pestisida alami yang sehat, mengurangi ketergantungan pada produk kimia, menjaga lingkungan tetap bersih, dan meningkatkan hasil pertanian. Lebih dari itu, ada kebanggaan karena semua dilakukan dengan kemandirian, memanfaatkan apa yang sudah ada, dan dengan semangat kebersamaan. Warga Dusun 3 Siampel kini memiliki harapan baru bahwa pertanian mereka bisa lebih berkelanjutan tanpa harus membebani ekonomi keluarga.
Program ini tidak lepas dari bimbingan dan dukungan para Dosen Pembimbing Lapangan Universitas Diponegoro, yakni Dr. Siti Fatimah, M.Kes., Luthfansyah Mohammad, A.Md., S.Tr.T., M.T., dan Yusuf Ma’rifat Fajar Azis, S.T., M.T. Para dosen tersebut berperan memberikan arahan sejak tahap perencanaan, memastikan metode yang digunakan sesuai dengan prinsip ilmiah namun tetap mudah diaplikasikan masyarakat. Kehadiran mereka juga menjadi simbol keterhubungan antara dunia akademik dan realitas sosial.
Ke depan, diharapkan program ini tidak berhenti pada satu kali kegiatan. Melainkan, dapat berkembang menjadi gerakan kolektif masyarakat Desa Klareyan dalam mengelola limbah organik. Dengan dukungan pemerintah desa, para petani, dan kelompok ibu rumah tangga, pengolahan limbah dapur menjadi pestisida alami bisa menjadi bagian dari pola hidup berkelanjutan di desa tersebut. Bahkan, bukan tidak mungkin Desa Klareyan kelak menjadi model desa ramah lingkungan yang mampu menginspirasi daerah lain.
Bagi Tiurma, pengalaman ini menjadi pelajaran berharga yang tidak ternilai. Ia merasakan langsung bagaimana ilmu yang dipelajari di kampus menemukan makna ketika diterapkan di tengah masyarakat. “Saya belajar bahwa perubahan besar bisa dimulai dari hal-hal kecil. Mengajak masyarakat untuk tidak membuang limbah sembarangan dan menjadikannya sesuatu yang berguna, bagi saya itu sudah merupakan langkah nyata menuju keberlanjutan,” tuturnya.
Lebih jauh, ia berharap program ini bisa membuka wawasan generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk terus berinovasi dan berkontribusi bagi masyarakat. Menurutnya, KKN bukan hanya tentang kewajiban akademik, tetapi juga kesempatan untuk membangun ikatan emosional dan sosial dengan masyarakat. (Eko B Art). 

Comments

Popular posts from this blog

Mahasiswa KKN Multidisiplin Dorong Kopi Jurangmangu Tembus Pasar Lewat Branding Berbasis Budaya Lokal

​HUT IGTKI ke-76 Kabupaten Pemalang Meneguhkan Komitmen Guru Sejahtera dan Pendidikan Berkualitas Menuju Wajib Belajar 13 Tahun

​Gagas Visi "Sinau Seduluran", Eko Budiarto Ajak Warga Losari Membangun Desa dengan Hati