DariLimbahMenjadiBerkah:InovasiProdukPengusirSerangga GingerGone Berbasis Jahe dan SeraiRommelOtnielPangihutanManik–TeknikIndustri
PEMALANG - Indonesia dikenal sebagai negara agraris dengan kekayaan sumber daya alam melimpah, termasuktanamanrempah-rempahyangsejaklamamenjadicirikhasdankekuatanutamabangsa.Salah satu tanaman rempah yang cukup populer adalah jahe (Zingiber officinale). Jahe telah lama dimanfaatkanolehmasyarakatIndonesia,baiksebagaibahanobattradisional,minumanherbal,maupun bumbumasakan.Namundemikian,dalamprosespengolahanjahe,terutamaolehpelakuUsahaMikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), sering kali dihasilkan limbah berupa kulit jahe, ampas, atau sisa ekstraksiyangtidaktermanfaatkansecaraoptimal.Padahal,limbahtersebutmasihmemilikikandungan bioaktifsepertigingerol,shogaol,danminyakatsiriyangberpotensiuntukdimanfaatkandalamproduk lain yang bernilai tambah.
Di Desa Klareyan, tempat pelaksanaan program Kuliah Kerja Nyata (KKN), masyarakat setempat, khususnya UMKM berbasis jahe, masih menghadapi tantangan dalam memanfaatkan limbah hasil produksi. Selama ini, limbah tersebut sebagian besar hanya dibuang atau dijadikan pakan ternak dalam jumlah terbatas. Kondisi ini tentu kurang optimal mengingatlimbahjahemasihmenyimpanpotensibesaruntukdiolahmenjadiprodukinovatif. Oleh karena itu, perlu adanya pendekatan kreatif yang tidak hanya berorientasi pada pengurangan limbah, tetapi juga mampu menghasilkan produk baru yang memiliki nilai jual serta manfaat langsung bagi masyarakat.
Salah satu potensi yang dapat dikembangkan adalah pemanfaatan limbah jahe sebagai bahan dasar pengusir serangga (insektisida alami). Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa jahe memiliki kandungan minyak atsiri, khususnya senyawa zingiberene, gingerol, dan shogaol, yang dapat memberikan efek penolak terhadap serangga. Ditambah lagi, kombinasi dengan bahan herbal lain seperti serai (Cymbopogon citratus) semakin meningkatkan efektivitas produk, karena serai dikenal mengandung sitronelal dan geraniol yang berfungsi sebagai penolak nyamuk alami. Penggunaan bahan alami ini jelas lebih aman dibandingkan dengan produk komersial berbasis bahan kimia sintetis, yang dalam jangka panjang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan manusia maupun lingkungan.
Produk pengusir serangga yang akan dikembangkan ini diberi nama “GingerGone”, sebuah inovasi yang menggabungkan nilai ekologis, kesehatan, serta pemberdayaan masyarakat. GingerGone dirancang sebagai produk pengusir serangga berbentuk cairan semprot(spray)denganbahanutamalimbahjahedanserai.Produkinidiharapkandapat
menjadi solusi ramah lingkungan untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap produk komersial berbahan kimia. Selain itu, GingerGone juga menjadi contoh konkret penerapan prinsip waste utilization atau pemanfaatan limbah yang bernilai ekonomis.
LatarbelakangpengembanganGingerGonejugatidakterlepasdarifenomenatingginya kasus penyakit yang ditularkan melalui gigitan serangga, terutama demam berdarah dengue (DBD).IndonesiamerupakansalahsatunegaradengantingkatkasusDBDcukuptinggisetiap tahunnya. Oleh sebab itu, kehadiran produk pengusir serangga alami sangat relevan sebagai upaya preventif untuk melindungi kesehatan masyarakat. Dengan memanfaatkan bahan lokal yangmudahdidapat,GingerGonebukanhanyamemberikanalternatifpengendalianserangga, tetapi juga mendukung program kesehatan masyarakat desa secara langsung.
Selainaspekkesehatan,pengembanganGingerGonememilikidimensiekonomiyangpenting. PrograminidiarahkanagarmitraUMKMDesaKlareyandapatmengolahlimbahjahemenjadi produk baru yang bernilai jual, sehingga menambah diversifikasi produk unggulan mereka. Diversifikasi produk ini penting agar UMKM tidak hanya bergantung pada penjualan produk utama (seperti jahe instan), tetapi juga memiliki portofolio produk turunan lain yang mampu meningkatkandayasaing.Apalagi,trenpasarglobalsaatinimenunjukkanadanyapeningkatan minat terhadap produk berbasis herbal dan ramah lingkungan, sehingga GingerGone berpotensi memiliki peluang pasar yang luas, baik di tingkat lokal maupun lebih jauh lagi.
Latarbelakanglainnyaadalahadanya dukunganmultidisiplinilmu dalampelaksanaan KKN ini. Mahasiswa dari berbagai jurusan seperti Teknik Industri, Kimia, Manajemen, Antropologi, hingga Sastra Inggris dapat berkolaborasi dalam setiap tahap pengembangan produk. Teknik Industri berperan dalam perancangan proses produksi yang efisien dan penerapan prinsip 5S di tempat produksi, jurusan Kimia berkontribusi pada formulasi dan uji efektivitas, Manajemen dan Ekonomi berfokus pada strategi bisnis, sementara Sastra Inggris mendukung branding dan promosi dalam bahasa asing. Kolaborasi lintas jurusan ini menjadikanGingerGonebukansekadarproduk,tetapijugasebagaiwujudnyatadariintegrasi keilmuan untuk pemberdayaan masyarakat.
Dengan demikian, pengembangan GingerGone berangkat dari permasalahan sederhana,yaitulimbahjaheyangkurangtermanfaatkan,namunditransformasimenjadisolusi yang bernilai tinggi. Melalui pendekatan ini, diharapkan GingerGone mampu memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat Desa Klareyan, baik dari sisi kesehatan, ekonomi, maupunlingkungan.Prokerinijugadiharapkanmenjadiinspirasiuntuklahirnyainovasiserupa yang berbasis pada kearifan lokal dan potensi desa, sehingga mampu mendukung pencapaian tujuanpembangunanberkelanjutan(SDGs),khususnyapadapoinGoodHealthandwell-being, Decent Work and Economic Growth, serta Responsible Consumption and Production.
Program multidisiplin yang diberi judul “Dari Limbah Menjadi Berkah: Inovasi Produk Pengusir Serangga GingerGone Berbasis Jahe dan Serai” memiliki tujuan yang bersifat menyeluruh, mencakup aspek kesehatan,lingkungan, ekonomi, dan sosial.Tujuan ini dirancangtidakhanyauntukmenghasilkansebuahprodukbaru,tetapijugauntukmemberikan dampak nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat Desa Klareyan, khususnya mitra UMKM yang bergerak di bidang pengolahan jahe.
Pertama,tujuanutama dari program iniadalah mengurangi limbahjahe hasil produksi UMKM. Proses pengolahan jahe instan maupun produk turunan lainnya sering menghasilkan limbah berupa ampas, kulit, atau sisa ekstrak yang selama ini tidak dimanfaatkan secara optimal. Melalui program ini, limbah tersebut diolah kembali menjadi bahan dasar utama produk pengusir serangga GingerGone. Dengan demikian, terjadi optimalisasi pemanfaatan sumber daya lokal, sekaligus mendukung prinsip ekonomi sirkular yang berorientasi pada pengurangan limbah dan pemanfaatan kembali bahan yang sebelumnya dianggap tidak berguna.
Kedua, program ini bertujuan untuk menghasilkan inovasi produk ramah lingkungan berupa pengusir serangga berbahan dasar alami. GingerGone mengombinasikan ekstrak jahe denganserai, duabahan herbalyangsudah dikenalmemilikikandungan senyawaaktifseperti
gingerol,shogaol,zingiberene,sitronelal,dangeraniol.Senyawa-senyawainiberperansebagai insektisida alami yang aman digunakan oleh manusia, sekaligus lebih bersahabat dengan lingkungandibandingkanprodukpengusirseranggaberbahankimiasintetis.Tujuaninisejalan dengan tren global yang semakin menekankan pentingnya produk berbasis bahan alami dan berkelanjutan.
Ketiga, program ini diarahkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya penggunaan produk alami dalam kehidupan sehari-hari. Kehadiran GingerGone menjadi contoh nyata bahwa bahan lokal yang sering terabaikan ternyata bisa menjadi solusi alternatif yang efektif. Dengan adanya produk ini, masyarakat didorong untuk lebih peduli terhadap lingkungan, sekaligus lebih berhati-hati dalam memilih produk rumah tangga yang aman bagi kesehatan keluarga.
Program multidisiplin 1 yang berfokus pada pembuatan produk pengusir serangga ramah lingkungan GingerGone yang finalisasinya dilaksanakan pada anggal 31 Juli 2025Periode ini dipilih karena bertepatan dengan masa pelaksanaan KKN-T UNDIP di Desa Klareyan, sehingga seluruh anggota tim dapat terlibat secara langsung dalam setiap tahap kegiatan.PemilihanwaktutersebutjugamempertimbangkankondisimitraUMKMyangpada bulan-bulan tersebut sedang aktif melakukan proses produksi jahe instan, sehingga ketersediaan bahan baku berupa limbah jahe relatif melimpah dan mudah diperoleh.
Lokasikegiatanberpusatdi kediamanmitraUMKMJaheDesaKlareyan,milikBapak Eko, yang juga menjadi tempat berlangsungnya berbagai proses produksi jahe instan. Rumah Bapak Eko dipilih bukan hanya karena strategis dan dekat dengan sumber bahan baku, tetapi jugakarenatempatinimerupakanpusataktivitasUMKMyangsudahdikenalolehmasyarakat sekitar. Lingkungan rumah yang sederhana, dengan peralatan produksi seadanya, justru memberikan gambaran nyata mengenai kondisi UMKM desa yang sesungguhnya. Hal ini sekaligus menjadi tantangan tersendiri bagi tim KKN untuk bisa mengintegrasikan inovasi produk baru dalam keterbatasan fasilitas yang ada.
Pelaksanaan kegiatan di lapangan tidaklah mudah. Sejak awal, tim dihadapkan pada berbagai keterbatasan, mulai dari alat-alat yang sederhana, kondisi ruangan produksi yang masihbercampurdenganaktivitasrumahtangga,hinggamasalahteknisdalammeracikbahan. Proses pembuatan GingerGone bukan sekadar teori di atas kertas, tetapi benar-benar melalui tahap uji coba berulang kali untuk menemukan formulasi yang tepat. Beberapa kali larutan hasil percobaan awal justru terlalu encer, aromanya kurang tajam, atau daya tahannya tidak stabil. Hal ini memaksa tim untuk kembali menyesuaikan komposisi bahan, menambah kadar serai, hingga mencoba variasi perbandingan jahe yang berbeda.
Keterbatasan tempat produksi juga menuntut adanya improvisasi. Ruangan yang biasanyadipakaiuntukmenjemurbahanbakujahekiniharusdiaturulangagarbisadigunakan sebagai ruang peracikan produk GingerGone. Mahasiswa Teknik Industri berusaha menerapkan prinsip5Ssederhanaagaraktivitasperacikanlebihteratur, sementaramahasiswa RekayasaKimiamencobamencariformulasipalingefisiendenganbahanyangtersedia.Semua itudilakukandirumahmitrayangsuasananyaramai,karenaselaindigunakanuntukproduksi, rumah juga menjadi tempat berkumpul warga sekitar.
Meski penuh tantangan, keberadaan Bapak Eko sebagai mitra memberikan motivasi tersendiri. Beliau aktif mendampingi tim, memberikan wawasan seputar pengalaman panjangnya dalam mengolah jahe, serta menyemangati mahasiswa untuk tidak mudah menyerah.Dukungandarikeluargabeliaujugamembuatsuasanakerjalebihhangat,meskipun terkadangtimharusrelabekerjahinggalarutmalamuntukmenyelesaikantahapperacikandan pengemasan.SemangatgotongroyonginilahyangmenjadicirikhaskegiatanKKNdidesa,di mana keterbatasan fasilitas dapat diimbangi dengan solidaritas dan kerja sama yang erat.
Selama kurang lebih sebulan, tim secara bertahap berhasil menyelesaikan proses perancangan, peracikan, hingga uji coba produk GingerGone. Meski sederhana, setiap botol GingerGone yang dihasilkan mencerminkan perjuangan panjang tim multidisiplin dalam mengubah limbah jahe yang semula dianggap tidak berguna menjadi produk bernilai jual. Waktuyangrelatifsingkattersebutbenar-benardimaksimalkanuntukmemastikanprodukbisa selesaitepatwaktu,diujisecarasederhana,dandipresentasikankepadamitrasertamasyarakat desa.
Dengan demikian, kegiatan pembuatan GingerGone bukan hanya sekadar aktivitas teknis,melainkanjugaperjalananpenuhmaknayangmemperlihatkanbagaimanaketerbatasan di lapangan dapat diatasi dengan kreativitas, kerja keras, dan dukungan masyarakat. Lokasi sederhana di kediaman Bapak Eko menjadi saksi lahirnya inovasi yang diharapkan mampu memberikan manfaat jangka panjang, baik bagi mitra UMKM maupun masyarakat Desa Klareyan secara luas.
Dalampembuatanprodukpengusirserangga GingerGone,penggunaanalatdanbahan memegang peranan penting agar produk yang dihasilkan memiliki kualitas baik, meskipun dilakukan dalam skala sederhana di rumah mitra UMKM Desa Klareyan. Seluruh alat dan bahan dipilih dengan pertimbangan ketersediaan di lapangan, kemudahan diperoleh, serta keterjangkauanharga,sehinggamitraUMKMnantinyajugabisamelanjutkanproduksisecara mandiri tanpa bergantung pada fasilitas canggih.
Alat
WadahPeracikan(Baskom/StainlessBowl)
Digunakan sebagai tempat mencampur semua bahan dasar seperti ekstrak jahe, serai, alkohol, dan air. Pemilihan wadah stainless dianjurkan karena lebih higienis, tidak mudah bereaksi dengan bahan, serta mudah dibersihkan.
GelasUkur dan PipetTetes
Alat ini diperlukan untuk mengukur volume cairan dengan presisi. Keakuratan dalam takaran sangat penting agar formulasi produk stabil dan konsisten antar batch.
Blender/Grinder
Alat ini digunakan untuk menghancurkan limbah jahe dan serai hingga halus sebelum diekstraksi. Semakin halus tekstur bahan, semakin banyak senyawa aktif yang dapat keluar.
AlatEkstraksiSederhana(Rebusan+SaringanKain/Filter)
Karena dilakukan dalam skala UMKM, ekstraksi dilakukan dengan cara sederhana, yaitumerebusjahedanseraidalamairlalumenyaringnyamenggunakankainbersihataufilter.
BotolSpray 500 ml
Botol ini digunakan sebagai kemasan akhir GingerGone. Pemilihan botol spray memungkinkan produk mudah digunakan masyarakat, praktis, dan sesuai dengan karakter produk pengusir serangga komersial.
CorongPlastik
Membantumenuangkancairanhasilperacikankedalambotolsprayagartidaktumpah dan lebih efisien.
Label&Stiker
Digunakan untuk menempelkan identitas produk, komposisi, cara pakai, dan keterangan lain agar lebih profesional dan mudah dikenali masyarakat.
Bahan
EkstrakLimbah Jahe(200 ml)
Limbahjahe yang digunakanberupakulit,ampas,atau sisa rebusan dari produksijahe instan mitra UMKM. Jahe mengandung senyawa aktif seperti gingerol, shogaol, dan zingiberene yang diketahui memiliki sifat insektisida alami dan mampu mengusir serangga.
Ekstrak Serai(100ml)
Seraiditambahkankarena mengandungsitronelaldangeraniolyangberfungsisebagai penolak nyamuk dan serangga lainnya. Kombinasi jahe dan serai memperkuat aroma serta meningkatkan efektivitas produk.
Etanol(100ml)
Alkoholdigunakansebagaipelarutdanjugamembantumenguapkancairanlebihcepat setelah disemprotkan. Etanol juga memiliki efek antiseptik ringan yang memberikan perlindungan tambahan.
AirSuling (100 ml)
Digunakan sebagai pelarut tambahan agar cairan memiliki konsistensi yang tepat.Air suling dipilih karena lebih murni dibanding air mineral biasa, sehingga mengurangi risiko adanya mineral atau zat lain yang bisa mengganggu stabilitas larutan.
Emulsifier(Tween80)–10ml
Berfungsi membantu mencampurkan bahan berbasis minyak (minyak atsiri jahe dan serai) dengan air agar larutan lebih stabil dan tidak cepat terpisah.
WewangianOpsional(EssentialOil –beberapatetes)
Ditambahkan untuk meningkatkan aroma produk agar lebih menyenangkan bagi pengguna, meskipun opsional.
Programmultidisiplin1yangberjudul“DariLimbahMenjadiBerkah:InovasiProduk Pengusir Serangga GingerGone Berbasis Jahe dan Serai” akhirnya dapat terlaksana dengan baik dan mencapai hasil yang membanggakan. Seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari tahap perencanaan, pengumpulan bahan baku, proses peracikan, hingga pengemasan produk, telah dilakukan dengan penuh dedikasi meskipun dihadapkan pada berbagai keterbatasan fasilitas dansumberdaya.Apayangsemulahanyaberupagagasansederhanakiniberhasildiwujudkan menjadi produk nyata yang memiliki nilai manfaat tinggi, tidak hanya bagi mitra UMKM, tetapi juga bagi masyarakat Desa Klareyan secara luas.
Keberhasilaninitidaklepasdarisemangatkerjasamalintasdisiplinilmuyangmenjadi fondasi programmultidisiplin. MahasiswaTeknik Industri berperandalammenyusunalur kerja produksiyanglebihsistematis,mahasiswaRekayasaKimiamerumuskanformulasiyangtepat, mahasiswa Manajemen dan Ekonomi merancang strategi bisnis dan pemasaran sederhana, sementara mahasiswa Antropologi dan Sastra Inggris memperkuat sisi sosial dan branding produk. Kolaborasi ini memperlihatkan bagaimana perbedaan bidang keilmuan justru saling melengkapi, menghasilkan sebuah inovasi yang lebih komprehensif dibandingkan bila hanya dikerjakan secara parsial.
Produk GingerGone sendiri berhasil menunjukkan potensi besar sebagai alternatif pengusir serangga alami. Hasil uji coba sederhana membuktikan bahwa aroma kuat dari kombinasi jahe dan serai mampu mengusir nyamuk dan serangga kecil lainnya. Selain itu, produk ini relatif aman digunakan karena tidak mengandung bahan kimia sintetis berbahaya. FaktabahwaGingerGoneberasaldarilimbahjahejugasemakinmemperkuatnilaitambahnya,
karenamampumengubahsesuatuyangawalnyatidakmemilikinilaiekonomimenjadiproduk inovatif dengan daya jual.
Capaianinitentutidakdiperolehdenganmudah.Selamaprosesproduksi,timbeberapa kali harus menghadapi kendala, mulai dari formulasi larutan yang kurang stabil, aroma yang terlalu lemah, hingga keterbatasan alat peracikan. Namun, dengan semangat pantang menyerah, tim terus melakukan percobaan berulang hingga akhirnya menemukan komposisi yangpas.Setiapkegagalandijadikanbahanevaluasi untukperbaikan,dansetiapkeberhasilan kecil dirayakan sebagai motivasi untuk melangkah lebih jauh. Perjuangan ini justru membuat keberhasilan akhir terasa lebih bermakna, karena lahir dari kerja keras dan konsistensi yang tidak kenal lelah.
Dampak dari program ini juga sudah mulai terlihat. Bagi mitra UMKM, GingerGone menjadi pintu masuk untuk memperluas lini produk yang sebelumnya hanya berfokus pada jaheinstan.Denganadanyadiversifikasiini,potensikeuntungandandayasaingUMKMdapat meningkat, sekaligus membuka peluang pemasaran yang lebih luas. Bagi masyarakat desa, GingerGone menjadi bukti bahwa produk ramah lingkungan tidak hanya bisa dihasilkan oleh industri besar, tetapi juga dapat lahir dari tangan-tangan kreatif desa dengan memanfaatkan potensi lokal yang ada.
Lebihjauh,GingerGonejugamemberiinspirasibahwainovasitidakselaluharusrumit. Terkadang, solusi sederhana yang berangkat dari permasalahan sehari-hari justru bisa menghasilkan terobosan yang berdampak luas. Dalam konteks ini, pengolahan limbah jahe menjadiprodukpengusirseranggabukanhanyasoalmenciptakanprodukbaru,melainkanjuga soal mengubah cara pandang masyarakat terhadap limbah, lingkungan, dan peluang usaha.
Pada akhirnya, keberhasilan program GingerGone ini menegaskan bahwa kegiatan KKN bukan hanya sekadar pengabdian mahasiswa kepada masyarakat, melainkan juga ruang pembelajaran yang kaya akan pengalaman berharga. Mahasiswa belajar beradaptasi dengan kondisi nyata di lapangan, mengasah kemampuan problem solving, sekaligus merasakan kepuasan batin karena kontribusinya memberi manfaat langsung. Sementara itu, masyarakat desa juga mendapatkan keuntungan berupa peningkatan keterampilan, peluang usaha baru, serta produk inovatif yang bisa digunakan dan dipasarkan.
Dengan selesainya program ini, harapan ke depan adalah agar GingerGone tidak berhenti sebagai prototipe semata, melainkan dapat dikembangkan lebih lanjut oleh mitra UMKMbersamamasyarakatDesaKlareyan.Dukungandariberbagaipihak,baikpemerintah
desa,perguruantinggi,maupunlembagaterkait,diharapkanmampumendorongkeberlanjutan produk ini sehingga benar-benarmenjadi ikon inovasi desa. Jika dikelola dengan serius, tidak menutupkemungkinanGingerGonedapatberkembangmenjadiprodukunggulandaerahyang dikenal luas, sekaligus menjadi bukti nyata bahwa dari desa lahir inovasi yang memberi manfaat bagi bangsa.
Singkatnya, program multidisiplin 1 ini dapat disimpulkan sebagai sebuah perjalanan dari keterbatasan menuju keberhasilan. GingerGone lahir dari limbah yang diremehkan, melalui perjuangan mahasiswa dan masyarakat, hingga akhirnya berdiri sebagai produk inovatifyangsaratmanfaat.Kesuksesaninibukanlahakhir,melainkanawaldarilangkahlebih besaruntukmenjadikanDesaKlareyansebagaicontohinspiratifbagaimanapotensilokaldapat diolah menjadi solusi berkelanjutan. (Eko B Art).
Comments
Post a Comment