DariJaheMenjadiInovasi:PembuatanDisinfektanNanoGingerShieldBerbasis Nanoemulsi Jahe dan SeraiRommelOtnielPangihutanManik–TeknikIndustri
PEMALANG - Pandemi Covid-19 telah membawa kesadaran baru di masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan diri maupun lingkungan. Produk disinfektan, antiseptik, dan pembersih tanganmenjadikebutuhanharian,tidakhanyadiperkotaantetapijugadipedesaan.Sayangnya, sebagian besar produk tersebut masih berbahan kimia sintetis yang jika digunakan terus- menerus dapat menimbulkan efek samping, baik bagi kesehatan maupun lingkungan. Hal ini menimbulkan kebutuhan akan alternatif produk disinfektan yang lebih ramah lingkungan, aman, dan memanfaatkan sumber daya lokal.
Desa Klareyan, yang dikenal dengan UMKM jahe instan, menghasilkan limbah jahe dalam jumlah besar setiap bulannya. Limbah berupa kulit, ampas, dan sisa rebusan jahe ini sering kali hanya dibuang begitu saja tanpa pemanfaatan lebih lanjut. Padahal, jahe mengandung senyawa bioaktif seperti gingerol, shogaol, dan zingerone yang memiliki sifat antibakteri dan antimikroba alami. Dengan pengolahan yang tepat, limbah jahe sebenarnya dapat dimanfaatkan menjadi bahan dasar pembuatan produk disinfektan.
Selain jahe, serai juga memiliki potensi besar sebagai bahan aktif pengusir kuman. Senyawa sitronelal dan geraniol yang terkandung dalam serai terbukti memiliki efek antimikroba sekaligus memberikan aroma segar yang menenangkan. Kombinasi antara jahe dan serai menghasilkansinergialamiyangkuat,sehinggadapatmenjadiformulaunggulandalamproduk disinfektan herbal.
Agar lebih inovatif, produk ini tidak hanya dibuat sebagai disinfektan biasa, tetapi diformulasikan menggunakan teknologi nanoemulsi. Nanoemulsi adalah sistem pencampuran minyak atsiri dengan air menggunakan emulsifier sehingga menghasilkan partikel berukuran nano(sangatkecil).Denganukuranyanglebihkecil,efektivitasbahanaktifmeningkatkarena daya serap dan distribusinya lebih merata.Teknologi sederhana ini dapat diaplikasikan dalam skala UMKM tanpa memerlukan peralatan laboratorium yang rumit, menjadikannya solusi tepat untuk inovasi berbasis desa.
Dari latar belakang tersebut, lahirlah produk NanoGinger Shield, sebuah cairan disinfektan kental yang dikemas dalam botol pump seperti sabun cair. Produk ini diformulasikan dari limbah jahe dan serai, dipadukan dengan etanol, emulsifier (Tween 80), sertaairsuling.NanoGingerShielddirancanguntukmenjadialternatiframahlingkunganyang dapat membantu menjaga kebersihan tangan maupun permukaan, sekaligusmemberikan nilai tambah bagi limbah jahe yang sebelumnya dianggap tidak berguna.
Program multidisiplin 2 dengan produk NanoGinger Shield memiliki beberapa tujuan utama, yaitu:
Mengembangkan inovasi produk baruberbasis potensi lokal Desa Klareyan denganmemanfaatkan limbah jahe sebagai bahan utama.
Menerapkanteknologinanoemulsisederhanauntukmeningkatkanefektivitassenyawa aktif jahe dan serai sebagai disinfektan.
Menciptakanprodukalternatiframahlingkunganyanglebihamandigunakandibandingkan disinfektan berbahan kimia sintetis.
Memberikandiversifikasiusaha bagimitraUMKMjaheinstanagardapatmemperluas lini produk dan meningkatkan daya saing.
Memberikanmanfaatlangsungkepadamasyarakatmelaluipenyediaanprodukhigienis yang aplikatif, praktis, dan sesuai kebutuhan sehari-hari.
Program pembuatan NanoGinger Shield dilaksanakan pada periode 31 Juli 2025, bersamaan dengan kegiatan KKN-T UNDIP di Desa Klareyan. Lokasi kegiatan berpusat di kediaman mitra UMKM Jahe milik BapakEko, yang selama ini menjadi sentra produksi jahe instan desa.
Proses kegiatan di lokasi mitra tidaklah mudah. Berbeda dengan produk GingerGone yangrelatifcairdanmenggunakanbotolspray, NanoGingerShielddirancanglebihkentaldan dikemasdalambotolpump.Halinimenuntuttimuntukbekerjaekstrahati-hatidalammeracik konsistensi larutan, terutama saatmenentukan perbandingan antara ekstrak jahe, serai, etanol, Tween 80, dan air suling.
Selamalebihdarisebulan,timmelakukanserangkaianujicobadirumahproduksiyang sederhana. Ruangan yang biasanya digunakan untuk menjemur bahan jahe kini harus disulap menjadilaboratoriumkeciluntukpercobaannanoemulsi.Tidakjarangtimmenemuihambatan, seperti campuran yang terlalu encer, busa berlebih karena emulsifier, hingga aroma yang kurang stabil. Namun, semangat kebersamaan dan dukungan penuh dari Bapak Eko membuat proses ini dapat dijalani dengan tekun.
Momen-momen kebersamaan seperti duduk bersama hingga larut malam, mencoba berbagaiperbandinganformulasi,hinggatertawakarenahasilpercobaangagal,menjadibagian tak terlupakan dari perjuangan ini. Pada akhirnya, dengan ketekunan dan kerja sama multidisiplin,timberhasilmenghasilkanformulasi NanoGingerShieldyangstabil,kental,dan sesuai harapan.
Berikut ini merupakan alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan Nano GingerShield.
Alat:
Wadah stainlessuntukperacikan.
Gelasukurdanpipet untukpresisivolume.
Alatekstraksisederhana(rebusan+saringankain).
Corongplastikuntukmenuangkebotol.
Botol pump 500 ml untuk kemasan akhir.
Label produkuntuk identitasdan petunjukpenggunaan.
Bahan:
Ekstraklimbah jahe (200 ml).
Ekstrakserai(100ml).
Etanol(50–100ml,disesuaikan).
Tween80(50–70ml sebagai emulsifier).
Airsuling(hingga total volume 500ml).
Berikutmerupakantahapanprosesproduksi dari produkNanoGingerShield.
Ekstraksi bahan utama: Limbah jahe dan serai diblender, direbus, dan disaring hingga diperoleh ekstrak murni.
Pencampuranfaseair:Airsulingdansebagianetanoldicampursebagai pelarut.
Pencampuranfaseminyak:Ekstrakjahedanseraidicampurdenganemulsifier(Tween 80).
Pembuatan nanoemulsi: Fase minyak ditambahkan perlahan ke fase air sambil diaduk kuat hingga tercapai campuran stabil berwarna homogen.
Pengemasanakhir:Larutankentaldimasukkankebotolpump500ml,diberilabel,dan siap digunakan.
LuaranutamadariprogrammultidisiplinduainiadalahterciptanyaprodukNanoGinger Shield, sebuah cairan disinfektan herbal kental berbahan dasar limbah jahe dan serai yang diformulasikandenganteknologinanoemulsisederhana.Produkinidikemasdalambotolpump berukuran 500 ml dengan desain label yang informatif, sehingga mudah digunakan oleh masyarakat maupun dipasarkan oleh mitra UMKM. Wujud nyata produk ini bukan sekadar sebagai bukti keberhasilan kegiatan KKN-T, tetapi juga sebagai hasil inovasi yang dapat langsung dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.
Manfaat dari NanoGinger Shield dirasakan dari berbagai sisi. Dari segi kesehatan, produk ini mampu memberikan alternatif disinfektan yang lebih aman dibandingkan produk berbahan kimia sintetis. Aroma alami dari jahe dan serai memberikan kesegaran tersendiri, sekaligus memiliki efek menenangkan ketika digunakan. Dari segi lingkungan, pemanfaatan limbah jahe yang sebelumnya terbuang percuma menjadi bahan utama NanoGinger Shield berhasilmengurangipotensipencemarandanmengubahlimbahmenjadisesuatuyangbernilai. Dari segi ekonomi, produk ini membukapeluang diversifikasi usaha bagi UMKM jahe instan diDesaKlareyan,sehinggamitratidakhanyamengandalkansatujenisproduksaja,melainkan bisa memperluas lini usaha ke arah produk kesehatan dan kebersihan yang sangat relevan dengan kebutuhan pasar saat ini.
Lebih jauh, keberadaan produk NanoGinger Shield memberikan nilai edukatif dan inspiratif bagi masyarakat desa. Produk ini menjadi contoh nyata bahwa teknologi sederhana sekalipun, seperti nanoemulsi, dapat diterapkan di tingkat desa asalkan ada kemauan dan kolaborasi. Inovasi ini sekaligus menunjukkan bahwa desa memiliki kapasitas untuk menghasilkan produk yang tidak kalah dengan hasil industri besar, jika potensi lokal diolah dengan kreativitas dan pendekatan ilmiah. Dengan kata lain, NanoGinger Shield menjadi simbol bahwa inovasi tidak melulu lahir di kota besar atau laboratorium modern, melainkan juga bisa tumbuh di tengah masyarakat desa yang mau berinovasi.
Secara keseluruhan, program multidisiplin dua dengan produk NanoGinger Shield dapat dikatakan berhasil. Meskipun prosesnya penuh tantangan, seperti kesulitan dalam mendapatkan kekentalan larutan yang sesuai, uji coba yang berulang kali gagal, hingga keterbatasan fasilitas produksi di rumah mitra, semua kendala tersebut akhirnya bisa diatasi dengankerja sama tim dansemangat pantang menyerah.Perjalananpanjangselamalebih dari
satu bulan di Desa Klareyan bukan hanya menghasilkan sebuah produk disinfektan herbal, tetapi juga memberikan pengalaman berharga tentang arti perjuangan, kesabaran, dan kolaborasi.
KesuksesanNanoGingerShieldtidaklepasdariperanaktifmitraUMKM,yaituBapak Eko, yang dengansabarmendukung setiap prosespercobaan hingga produkakhirnya berhasil diformulasikan. Dukungan masyarakat sekitar yang ikut mencoba produk dan memberikan masukan juga memperkuat keyakinan bahwa NanoGinger Shield layak untuk dikembangkan lebih lanjut. Produk ini bukan sekadar cairan pembersih, melainkan cerminan dari semangat kolaborasimahasiswa denganmasyarakatdalammengolah potensilokalmenjadisolusi nyata bagi kebutuhan bersama.
Harapan besar ke depan adalah agar NanoGinger Shield tidak berhenti sebagai hasil prototipe kegiatan KKN, tetapi bisa terus diproduksi, dikembangkan, dan dipasarkan secara berkelanjutan.MitraUMKMmemilikipeluanguntukmenjadikannyasebagaiprodukunggulan baru yang dapat meningkatkan daya saing sekaligus memperluas pangsa pasar. Dengan branding yang tepat dan dukungan teknologi lebih lanjut, bukan tidak mungkin NanoGinger Shield akan menjadi salah satu produk inovatif unggulan Desa Klareyan.
Pada akhirnya, keberhasilan program ini membuktikan bahwa dari limbah sederhana dapatlahirsebuahinovasiluarbiasa.NanoGingerShieldadalahwujudnyatabagaimanasains, teknologi,danpotensilokalbisamenyatuuntukmenghasilkanmanfaatyangluas.Kesuksesan initentubukanakhirdariperjalanan,melainkanawaldarilangkahlebihbesaruntukmembawa Desa Klareyan menuju kemandirian inovasi dan keberlanjutan usaha berbasis potensi lokal. Dengansemangatyangsama,kedepandiharapkanakanlahirlebihbanyaklagiinovasiserupa yangmampumenjawabkebutuhanmasyarakatsekaligusmengangkatnamadesasebagaipusat kreativitas dan pengembangan UMKM berbasis kearifan lokal. (Eko B Art).
Comments
Post a Comment