"Dari Klareyan Menyapa Nusantara: Jejak Kesehatan dan Harapan di Posyandu Bersama Mahasiswa UNDIP"

PEMALANG - Di sebuah desa yang dilingkari sawah menghijau di Kabupaten Pemalang, terletak Desa Klareyan, kehidupan berjalan dengan ritme yang sederhana namun sarat makna. Desa ini bukan sekadar titik geografis di peta Indonesia, melainkan ruang nyata di mana denyut kehidupan masyarakat beradu dengan tantangan zaman. Di antara rumah-rumah yang hangat, jalanan kecil yang dilalui anak-anak sepulang sekolah, dan ladang-ladang yang menjadi sandaran ekonomi, ada sebuah cerita yang lahir, ditulis oleh langkah-langkah pengabdian seorang mahasiswa yang datang bukan hanya membawa ilmu, tetapi juga menghadirkan cahaya harapan.

Namanya Ramadhan Satria Wibowo, mahasiswa Fakultas Kedokteran dari tim KKNT-123 Universitas Diponegoro. Selama empat puluh lima hari, ia menjejakkan langkahnya di Desa Klareyan, bukan hanya untuk menjalankan tugas kuliah, tetapi juga untuk menyatu dengan denyut nadi masyarakat. Di desa ini, ia merenda kisah melalui program sosial kemasyarakatan yang begitu berarti: pemeriksaan kesehatan bagi para lansia di posyandu, serta edukasi kesehatan tentang Penyakit Tidak Menular (PTM) beserta pencegahannya.
Kegiatan ini mungkin terdengar sederhana, namun dalam praktiknya ia memancarkan makna yang dalam. Posyandu yang dihidupkan kembali dengan semangat para kader dan warga menjadi saksi bagaimana ilmu dan kepedulian berpadu dalam satu ikatan. Dalam setiap senyum yang lahir dari wajah para lansia, dalam setiap sapaan hangat, dan dalam setiap percakapan ringan tentang kesehatan, tersimpan getaran kuat yang membuktikan bahwa pengabdian sejati tidak pernah sia-sia.
Albert Einstein pernah berkata, “Hanya kehidupan yang dijalani untuk orang lain yang bernilai.” Kutipan itu seakan menjadi napas yang menyertai Ramadhan dalam langkahnya. Baginya, apa artinya ilmu kedokteran jika hanya berhenti pada teori, tanpa pernah hadir nyata di tengah mereka yang membutuhkan? Maka, melalui posyandu, ia mencoba menurunkan ilmu yang ia pelajari menjadi praktik sederhana yang bisa dipahami oleh masyarakat, terutama para lansia yang sering kali tidak memiliki akses penuh terhadap layanan kesehatan.
Hari-hari di Desa Klareyan tidak pernah terasa monoton baginya. Setiap pagi ia menyapa udara sejuk desa yang menenangkan. Lalu, bersama para kader posyandu—ibu-ibu desa yang dengan penuh dedikasi sudah lama menjadi garda terdepan kesehatan masyarakat—ia menggelar kegiatan pemeriksaan kesehatan. Dari pengukuran tekanan darah, pemeriksaan gula darah sederhana, hingga konseling kesehatan, semua dilakukan dengan penuh kesabaran. Lansia yang datang ke posyandu bukan sekadar mencari pelayanan, melainkan juga ruang untuk merasa diperhatikan, didengarkan, dan dihargai.

Kegiatan itu melampaui sekadar pemeriksaan medis. Ia adalah perjumpaan manusiawi, di mana mahasiswa belajar tentang arti pengabdian, dan masyarakat merasakan kembali bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi kerentaan usia. Seorang nenek yang rambutnya memutih sempat berkata kepadanya, “Nak, terima kasih sudah mau datang. Kalau tidak ada posyandu, kami sering lupa memperhatikan kesehatan sendiri. Kamu jadi dokter yang hebat ya nanti.” Kata-kata sederhana itu menggema lebih dalam daripada teori panjang di ruang kuliah, karena ia lahir dari hati yang tulus.
Edukasi kesehatan tentang Penyakit Tidak Menular (PTM) menjadi bagian lain dari pengabdiannya. Ia tahu bahwa Indonesia sedang menghadapi beban ganda kesehatan: penyakit menular yang belum sepenuhnya hilang, dan penyakit tidak menular yang semakin meningkat akibat gaya hidup. Hipertensi, diabetes, penyakit jantung, stroke semuanya menghantui, termasuk masyarakat pedesaan yang kini tidak lagi kebal dari dampak perubahan pola hidup. Maka, dengan bahasa sederhana, ia menyampaikan pentingnya menjaga pola makan, berolahraga rutin, serta mengurangi konsumsi garam, gula, dan lemak berlebih.
“Pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan,” kata pepatah Latin “Prevention is better than cure” yang pernah disampaikan oleh Desiderius Erasmus. Kalimat itu seakan menemukan konteks nyata di posyandu Klareyan, di mana setiap pengetahuan kecil yang disampaikan bisa menjadi tameng bagi masyarakat menghadapi ancaman penyakit kronis. Tak jarang Ramadhan menggunakan perumpamaan-perumpamaan sederhana agar edukasi kesehatan mudah diterima. Ia mengibaratkan tubuh sebagai sawah yang harus dirawat. Jika sawah dibiarkan tanpa perhatian, gulma akan tumbuh dan merusak tanaman. Begitu pula tubuh manusia: jika gaya hidup dibiarkan tanpa kendali, penyakit akan muncul dan merenggut kesehatan. Dengan cara ini, masyarakat desa yang akrab dengan dunia pertanian dapat langsung memahami pesan yang disampaikan.
Di balik semua itu, kebersamaan dengan kader posyandu menjadi bagian yang sangat berharga. Ramadhan menyaksikan sendiri bagaimana para kader, meski dengan keterbatasan sarana, tetap berdiri teguh menjalankan peran mereka. Mereka adalah para pahlawan tanpa tanda jasa yang menjadi penghubung antara sistem kesehatan formal dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Bersama mereka, ia belajar tentang ketekunan, kesabaran, dan semangat melayani.
Seperti kata Mahatma Gandhi, “The best way to find yourself is to lose yourself in the service of others.” Kalimat itu bukan hanya sekadar kutipan baginya, melainkan cermin perjalanan selama KKN. Dalam melayani masyarakat desa, ia menemukan kembali makna dari profesi yang kelak akan dijalaninya sebagai seorang tenaga kesehatan. Bahwa menjadi dokter bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan jiwa untuk menyalakan lilin kecil di tengah kegelapan.
Empat puluh lima hari di Desa Klareyan mungkin terasa singkat jika dihitung dengan kalender, namun sesungguhnya sangat panjang dalam ruang pengalaman batin. Ada banyak kisah kecil yang tak tertulis: bagaimana tawa para lansia saat mereka bercanda setelah diperiksa tekanan darahnya, bagaimana wajah lega seorang bapak yang baru tahu kadar gula darahnya normal, hingga bagaimana semangat anak-anak muda desa yang turut hadir belajar tentang kesehatan. Semua itu menyulam dirinya menjadi bagian dari desa, bukan sekadar tamu yang datang lalu pergi.
Bagi masyarakat Klareyan, kegiatan posyandu bersama mahasiswa UNDIP ini bukan hanya tentang angka pemeriksaan kesehatan. Ia adalah tentang rasa diperhatikan, tentang jalinan kebersamaan, dan tentang harapan bahwa kesehatan adalah hak yang bisa diraih siapa saja, bahkan di desa kecil sekalipun.
Ramadhan tahu betul, tugasnya di desa akan segera usai. Namun jejak yang ia tinggalkan tidak berhenti ketika ia kembali ke kampus. Ia berharap kader-kader posyandu yang sudah terlibat akan terus melanjutkan semangat ini, dan edukasi kesehatan yang sudah diberikan akan menjadi pengetahuan yang diwariskan dari mulut ke mulut, dari keluarga ke keluarga. Ia percaya bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil, dari desa, dari komunitas, hingga meluas ke nusantara.

Seperti yang pernah dikatakan Nelson Mandela, “Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.” Edukasi kesehatan yang ia berikan mungkin sederhana, namun ia yakin jika terus ditanamkan, pengetahuan itu akan tumbuh menjadi senjata paling ampuh untuk melawan penyakit. Kisah ini bukan hanya tentang seorang mahasiswa dan sebuah desa. Ia adalah tentang Indonesia, tentang bagaimana anak muda bangsa mau turun ke akar rumput, menyatu dengan masyarakat, dan memberikan ilmunya untuk kemaslahatan bersama. Ia adalah cermin bahwa perguruan tinggi bukan menara gading yang terpisah dari rakyat, melainkan sumber cahaya yang harus menerangi masyarakat di sekitarnya.
Desa Klareyan kini punya cerita baru untuk dikenang, sebuah posyandu yang hidup kembali dengan semangat, sebuah ruang kebersamaan antara mahasiswa dan warga, dan sebuah pengingat bahwa kesehatan adalah pondasi kehidupan. Dari desa di Kabupaten Pemalang, cerita ini menyebar, menyapa, dan menginspirasi Nusantara. Bahwa pengabdian, meski sederhana, selalu memiliki gaung yang jauh lebih besar daripada apa yang kita bayangkan. Dan ketika Ramadhan menatap kembali perjalanan singkatnya, ia tahu satu hal: pengabdian itu bukan tentang seberapa besar yang kita lakukan, melainkan seberapa dalam dampaknya bagi hati manusia. Dari Klareyan, ia belajar bahwa kesehatan adalah hak, bahwa kebersamaan adalah obat, dan bahwa setiap langkah kecil pengabdian adalah bagian dari karya besar membangun bangsa. (Eko B Art). 

Comments

Popular posts from this blog

Mahasiswa KKN Multidisiplin Dorong Kopi Jurangmangu Tembus Pasar Lewat Branding Berbasis Budaya Lokal

​HUT IGTKI ke-76 Kabupaten Pemalang Meneguhkan Komitmen Guru Sejahtera dan Pendidikan Berkualitas Menuju Wajib Belajar 13 Tahun

​Gagas Visi "Sinau Seduluran", Eko Budiarto Ajak Warga Losari Membangun Desa dengan Hati