Mengoptimalisaikan Kembali Pemberdayaan Ekonomi Peternak Bebek Dusun Satu Desa Klareyan: Kolaborasi KKN-T 123 dan Peternak Bebek Ciptakan 'INOTEL', Inovasi Telur Bebek Premium

Pemalang - Desa Klareyan menjadi tempat kegiatan yang penuh makna, sebuah hari di mana masa lalu yang gemilang bertemu dengan masa depan yang cemerlang. Bagi para mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Tim 123 dan para peternak bebek tangguh di Dusun 1, tanggal 23 Juli 2025 akan tercatat sebagai momen dimulainya sebuah kebangkitan melalui inovasi. Hari itu tidak hanya diisi dengan satu, melainkan dua agenda krusial yang saling berkelindan: sebuah sesi konsultasi mendalam di pagi hari yang dilanjutkan dengan peluncuran program inovatif yang energik di sore harinya. Puncaknya adalah lahirnya "INOTEL: Inovasi Telur Lokal Berkualitas" baik dari cara menghasilkan hingga meningkatkan kualitas telur yang dihasilkan, sebuah inisiatif yang dirancang untuk mengembalikan sekaligus melampaui kejayaan para peternak bebek Dusun Satu Desa Klareyan. Pemalang (23/7/2025).


Pagi itu, sekitar pukul 10.00 WIB, suasana di peternak bebek Dusun 1 terasa khidmat. Salah satu pengurus kelompok ternak bebek duduk berhadapan dengan para mahasiswa KKN-T 123. Ini bukanlah pertemuan formal yang kaku, melainkan sebuah forum curah pendapat yang tulus. Agenda utamanya adalah untuk membedah akar permasalahan yang selama ini menghambat laju para peternak: tantangan pakan bebek petelur dan dampaknya yang signifikan terhadap penurunan kualitas telur. Dalam diskusi tersebut, terungkap sebuah fakta yang membanggakan sekaligus memilukan. Para peternak ini bukanlah pemain baru; mereka adalah para jawara. Pada tahun 2021, kelompok ternak dari Desa Klareyan berhasil meraih predikat juara nasional dalam sebuah perlombaan bergengsi berkat kualitas telur bebek mereka yang unggul. 

Namun, kejayaan itu kini terasa seperti kenangan yang mulai memudar. “Dulu, kami sangat bangga bisa membawa nama desa ke tingkat nasional. Telur kami dinilai punya cangkang yang tebal, warna kuning telur yang pekat, dan rasa yang gurih. Tapi sekarang, untuk mempertahankan kualitas seperti itu saja rasanya setengah mati,” ungkap salah seorang pengurus ternak dengan nada sendu. Ia menjelaskan bagaimana harga pakan pabrikan yang terus meroket memaksa mereka mencari alternatif yang lebih murah, yang sayangnya berdampak langsung pada nutrisi bebek dan kualitas telur yang dihasilkan. 


Para mahasiswa mendengarkan dengan saksama, mencatat setiap keluhan dan harapan. Sesi konsultasi pagi itu berhasil memetakan masalah secara presisi, menciptakan fondasi yang kokoh untuk solusi yang akan mereka tawarkan.
Fakta ini seketika mengubah arah diskusi. Para mahasiswa dari Kelompok 1 saling berpandangan, menyadari bahwa mereka tidak sedang berhadapan dengan komunitas yang butuh diajari dari nol, melainkan komunitas juara yang sedang kehilangan arah. Masalahnya bukan ketiadaan potensi, melainkan ketiadaan strategi untuk beradaptasi dengan zaman. Hasil diskusi pagi itu menjadi sangat jelas: para peternak ini memiliki warisan kualitas yang luar biasa, namun mereka terjebak dalam model bisnis tradisional. Di sisi lain, pasar modern di luar sana sedang giat mencari produk sehat, fungsional, dan memiliki cerita. Terciptalah sebuah kesimpulan bersama: diperlukan sebuah terobosan, sebuah inovasi pada pakan untuk mengembalikan kualitas juara tersebut, dan inovasi pada produk olahan untuk mendongkrak nilai jualnya secara signifikan.
Menyadari bahwa bebek memiliki jadwal makan yang teratur pada pagi dan sore hari, tim mahasiswa mengambil keputusan strategis. Pukul 11.30, setelah sesi konsultasi usai, mereka pamit untuk kembali ke posko. "Bapak-bapak, kami sudah catat semua masukannya. Izinkan kami kembali dulu untuk mempersiapkan bahan-bahan. Nanti sore, sekitar pukul setengah empat, kami akan kembali ke sini untuk langsung praktik bersama, bertepatan dengan jadwal makan sore bebek," ujar koordinator Kelompok 1. Keputusan ini menunjukkan sebuah pendekatan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga empatik, menghargai ritme dan kearifan lokal yang sudah ada.
Masa jeda beberapa jam itu dimanfaatkan dengan efisien. Kelompok 1 mempersiapkan bahan untuk praktek pada sore harinya. Saya sebagai pelaku utama dalam program ini menumbuk daun kelor kering yang kaya antioksidan, yang lain memarut kunyit dan temulawak segar dengan alat yang sederhana. Ada pula yang menyiapkan lembaran daun jeruk purut dan rempah-rempah lainnya. Ini bukan sekadar persiapan bahan, ini adalah proses meramu sebuah solusi yang membumi, menggunakan kekayaan alam yang ada di sekitar desa untuk menjawab tantangan yang dihadapi warganya.
Tepat pukul 15.30, sesuai janji, rombongan kecil mahasiswa kembali ke kandang bebek di Dusun Satu. Kali ini, mereka tidak datang dengan buku catatan, melainkan dengan ember-ember berisi bahan-bahan herbal dan peralatan praktik. Atmosfer sore itu terasa jauh lebih bersemangat. Salah satu peternak bebek yang tadi pagi tampak murung, kini menyambut dengan sorot mata penuh rasa ingin tahu. Sesi aksi nyata pun dimulai. Pelatihan pertama langsung menyasar jantung permasalahan: pakan. Mahasiswa mendemonstrasikan pembuatan pakan herbal menggunakan bahan-bahan yang melimpah di desa. Daun kelor kering yang kaya antioksidan, kunyit parut sebagai anti-inflamasi alami, dan temulawak untuk meningkatkan imunitas bebek, semuanya dicampurkan ke dalam pakan standar berbasis dedak dan jagung. Ini adalah solusi brilian yang mengubah pakan dari sekadar ‘pengisi perut’ menjadi ‘peningkat kualitas’. Para peternak diajak untuk mencampur sendiri, merasakan teksturnya, dan mencium aroma herbal yang segar.

Praktik pertama difokuskan pada inovasi pakan untuk menciptakan apa yang disebut Telur Bebek Herbal (Functional Egg). "Pak, ini adalah jawaban untuk masalah pakan kita. Daripada bergantung pada pakan pabrikan, kita perkaya pakan yang ada dengan ramuan herbal ini," jelas seorang mahasiswi sambil menunjukkan campuran daun kelor, kunyit, temulawak, dan sedikit daun sirih kering. Ia menjelaskan dengan sederhana namun detail bagaimana setiap bahan memiliki manfaatnya: daun kelor sebagai antioksidan, kunyit dan daun sirih sebagai antibakteri alami, serta temulawak untuk meningkatkan imunitas bebek. Para peternak diajak langsung untuk mencampurkan 5-10% bahan herbal tersebut ke dalam pakan standar mereka yang terdiri dari dedak, jagung halus, dan nasi aking. Mereka merasakan sendiri teksturnya, mencium aromanya, dan yang terpenting, memahami logikanya. Ini adalah transfer pengetahuan yang sesungguhnya, di mana teori bertemu langsung dengan praktik di lapangan. Praktik pertama pada sore itu difokuskan pada inovasi pakan untuk menciptakan apa yang disebut Telur Bebek Herbal (Functional Egg). Dengan tempat dan bahan yang sederhana saya telah menata dengan rapi berbagai bahan yang akan menjadi kunci dari terobosan ini dengan senyum hangat saya memulai penjelasannya."Pak, ini adalah jawaban untuk masalah pakan yang kita diskusikan tadi pagi. Dari pada terus bergantung pada pakan pabrikan yang harganya tidak menentu, kita akan perkaya pakan yang sudah ada dengan ramuan herbal alami ini," jelasnya sambil menunjuk ke jajaran wadah berisi bahan-bahan herbal.
Saya kemudian memulai penjelasan langkah demi langkah, persis seperti resep yang telah mereka siapkan. Langkah pertama, saya meminta salah seorang peternak untuk membawa seember pakan bebek standar yang biasa mereka gunakan. "Langkah pertama adalah menyiapkan pakan dasarnya, bisa pakan biasa atau yang sudah difermentasi seperti yang Bapak-bapak gunakan sehari-hari," ujarnya. Pakan yang terdiri dari campuran dedak, jagung halus, dan nasi aking pada satu ember. Langkah kedua adalah bagian yang paling inti: pencampuran bahan herbal. Saya mengambil setiap bahan satu per satu dan menjelaskan manfaatnya secara detail kepada peternak yang mengerumun. "Yang pertama, ini adalah daun kelor kering yang sudah dihancurkan. Daun ini sangat kaya akan antioksidan tinggi, sangat bagus untuk menjaga kesehatan bebek," sambil membiarkan peternak melihat dan merasakan tekstur daun tersebut. "Selanjutnya, kita punya kunyit yang sudah dicincang kecil. Aroma khasnya ini menandakan fungsinya sebagai anti-inflamasi dan antibakteri alami." Ia lalu beralih ke wadah berikutnya. "Yang ini adalah temulawak yang juga dicincang kecil bersamaan dengan kunyit. Manfaatnya untuk meningkatkan imunitas bebek, jadi tidak gampang terserang penyakit," lanjut saya. "Dan yang terakhir, ini sifatnya opsional tapi sangat kami sarankan, yaitu daun sirih kering yang juga berfungsi sebagai anti-bakteri."
Setelah semua bahan diperkenalkan, saya menjelaskan takaran yang tepat. "Untuk formulanya, kita cukup campurkan sekitar 5 sampai 10 persen bahan herbal ini ke dalam setiap 1 kilogram pakan bebek yang sudah kita siapkan tadi," tuturku sambil mencontohkan cara menakar dan menaburkannya di atas pakan utama. Bapak peternak diajak langsung untuk ikut mengaduk campuran tersebut. Pakan kini merasakan tekstur baru, dan indra penciuman menangkap aroma herbal yang segar, sebuah hal baru yang menjanjikan. Langkah ketiga, saya menekankan pentingnya konsistensi. "Pakan herbal ini bukan obat instan, Pak. Jadi, pakan ini perlu diberikan setiap hari secara rutin selama minimal 7 hingga 14 hari," jelasnya dengan sabar. "Tujuannya agar semua nutrisi dari herbal ini benar-benar terserap oleh bebek dan memberikan dampak maksimal pada kualitas telur yang akan dihasilkannya." Memasuki langkah keempat, saya dengan bangga memperkenalkan nama dari hasil akhir proses ini. "Nantinya, telur yang dihasilkan dari bebek-bebek yang rutin mengonsumsi pakan racikan kita ini, itulah yang akan kita sebut sebagai 'Functional Egg'.
Setelah bebek-bebek diberi pakan inovatif tersebut, pelatihan tidak berhenti di situ. Energi peternak yang mulai bangkit dijaga tetap menyala saat para mahasiswa beralih ke sesi inovasi produk olahan. Fokusnya adalah mengubah produk yang sudah sangat familiar—telur asin—menjadi sebuah karya kuliner premium yang memiliki nilai jual jauh lebih tinggi. Konsep yang diperkenalkan adalah Telur Asin Premium Aroma Daun Jeruk / Rempah Lokal. Saya mengambil alih peran sebagai pemandu, berdiri di samping sebuah kompor portabel yang di atasnya telah diletakkan sebuah panci besar. "Sekarang kita akan membuat telur asin, tapi bukan telur asin biasa. Kita akan membuat telur asin yang 'naik kelas', yang bisa menjadi oleh-oleh khas premium dari Desa Klareyan," serunya membuka sesi.

Langkah pertama dalam proses ini, ia menjelaskan, adalah membuat larutan garam yang sempurna. Dengan sigap, ia menuangkan 1,5 liter air bersih ke dalam panci, diikuti dengan 1 kg garam kasar. "Kunci dari telur asin yang masir dan awet adalah larutan garam yang jenuh. Kita rebus air dan garam ini hingga semua butiran garam larut sempurna," jelasnya sambil terus mengaduk. Para peternak mengamati dengan saksama, beberapa dari mereka mungkin sudah ratusan kali membuat air garam, namun kali ini mereka menyaksikannya sebagai bagian dari sebuah ilmu yang akan diperkaya. Setelah larutan garam mendidih dan jernih, tibalah pada langkah kedua, yang merupakan jantung dari inovasi ini. "Nah, ini adalah bagian rahasianya, yang akan memberikan sensasi aroma rempah khas Indonesia yang menyegarkan dan beda dari telur asin biasa," ujar sang mahasiswa dengan nada penuh antusiasme. Ia kemudian mengangkat sekitar 10 lembar daun jeruk purut segar yang berwarna hijau pekat dan beberapa batang serai yang sudah dimemarkan. Momen magis terjadi ketika ia memasukkan bahan-bahan aromatik tersebut ke dalam air garam yang masih mendidih. Seketika, uap yang mengepul membawa serta aroma. wangi sitrus yang tajam dan menyegarkan, menyebar ke seluruh penjuru, dan secara efektif mengalahkan aroma khas peternakan. "Kita rebus bersama rempah ini selama kurang lebih 5 sampai 10 menit, tujuannya agar semua sari dan aromanya keluar dan menyatu dengan air garam," lanjutnya menjelaskan proses tersebut. Para peternak tampak berdecak kagum. "Ini baru aromanya saja sudah beda, pasti rasanya juga lebih enak," komentar salah seorang dari mereka, yang disambut anggukan setuju dari yang lain. Langkah ketiga adalah proses pendinginan. Setelah 10 menit, kompor pun dimatikan. "Sangat penting untuk mendinginkan larutan rempah asin ini hingga benar-benar mencapai suhu ruang," tegas sang mahasiswa. "Jangan pernah menuang larutan panas ke telur mentah karena bisa menyebabkan protein telur rusak dan proses pengasinan tidak akan sempurna." Sambil menunggu larutan ajaib itu mendingin, mahasiswa lain mempersiapkan langkah keempat. Ia mengambil 10 butir telur bebek mentah segar yang sudah dibersihkan, lalu menyusunnya dengan hati-hati ke dalam sebuah toples kaca besar. Setelah larutan rempah benar-benar dingin, ia menuangkannya perlahan ke dalam toples hingga semua telur terendam sempurna "Sekarang masuk ke langkah kelima, yaitu proses 'meditasi' untuk telurnya," candanya. "Toples ini kita tutup rapat, lalu kita simpan di tempat yang sejuk dan tidak terkena sinar matahari langsung selama 10 sampai 14 hari," jelasnya. Selama periode inilah garam dan aroma rempah akan meresap perlahan ke dalam telur, menciptakan keseimbangan rasa dan wangi yang unik. Menjelang akhir demonstrasi, mahasiswa tersebut menjelaskan dua langkah terakhir. "Langkah keenam, setelah masa pemeraman selesai, telur sudah siap diolah. Bisa direbus atau dipanggang hingga matang sesuai selera," katanya.
Sore itu, waktu seakan berjalan begitu cepat. Ketika matahari mulai condong ke barat, dua purwarupa inovasi telah tercipta. Sesi praktik ditutup dengan momen yang paling ditunggu: dokumentasi. Para mahasiswa dan peternak berbaris bersama. Dengan senyum bangga yang merekah di wajah mereka, mereka mengangkat hasil kerja kolaboratif hari itu: seember pakan herbal yang siap menyehatkan ternak dan sebuah toples kaca berisi telur bebek yang terendam dalam larutan rempah aromatik. Foto yang diambil pada momen itu lebih dari sekadar dokumentasi program kerja; itu adalah simbol dari persatuan visi, perayaan atas kerja keras, dan bukti nyata bahwa kolaborasi antara semangat muda dan kearifan lokal mampu melahirkan sebuah karya nyata.

Saat senja mulai turun di Desa Klareyan, Kelompok 1 berpamitan. Namun, mereka tidak meninggalkan ruang hampa. Mereka meninggalkan jejak berupa pengetahuan baru, semangat yang kembali berkobar, dan yang terpenting, sebuah visi. Para peternak Dusun 1 kini tidak lagi hanya melihat diri mereka sebagai produsen komoditas, tetapi sebagai artisan kuliner yang mampu menciptakan produk bernilai tinggi. Mereka mulai membayangkan telur herbal mereka diminati oleh konsumen yang sadar kesehatan di kota, dan telur asin aromatik mereka menjadi oleh-oleh premium khas Klareyan yang diburu wisatawan.
Hari itu, 23 Juli 2025, menjadi titik balik. Sebuah hari yang dimulai dengan diskusi tentang masalah, diakhiri dengan lahirnya solusi yang konkret. Kelompok 1 dari Tim KKN-T 123 telah berhasil menanam benih perubahan di tanah sang juara. Mereka membuktikan bahwa pengabdian yang paling efektif adalah pengabdian yang mendengarkan, memahami, dan berjalan beriringan. Perjalanan untuk melihat produk "INOTEL" ini menguasai pasar mungkin masih panjang, namun fondasi yang paling kokoh telah diletakkan. Di Dusun 1 Desa Klareyan, kenangan akan piala juara nasional tahun 2021 kini tidak lagi hanya menjadi cerita masa lalu, melainkan telah bertransformasi menjadi bahan bakar untuk melahirkan inovasi-inovasi jawara di masa depan. (Eko B Art). 

Comments

Popular posts from this blog

Mahasiswa KKN Multidisiplin Dorong Kopi Jurangmangu Tembus Pasar Lewat Branding Berbasis Budaya Lokal

​HUT IGTKI ke-76 Kabupaten Pemalang Meneguhkan Komitmen Guru Sejahtera dan Pendidikan Berkualitas Menuju Wajib Belajar 13 Tahun

​Gagas Visi "Sinau Seduluran", Eko Budiarto Ajak Warga Losari Membangun Desa dengan Hati