Tragedi Gendhis Sang Bunga Desa (1)



Pemalang | - Ini adalah tentang kisah kehidupan dari masa kecil dari perempuan yang menjadi tokoh fiktif dalam Novel "Tragedi Gendhis Sang Bunga Desa", ketika ingatannya mulai terbuka, masih sangat jelas bahwa waktu itu dirinya dalam usia anak sekolah dasar (SD) sudah dituntut sama Bapak perihal ibadah ibadah sesuai dengan tuntutan dari keyakinan Bapaknya, dan hal tersebut dipaksakan secara terus menerus. 

Perempuan kecil bernama Gendhis, dirinya boleh bermain ke manapun, akan tetapi ketika tiba waktu selepas dhuhur/kisaran jam 1 siang, harus sudah selesai  waktunya dalam bermain, artinya ketika jam satu tiba Gendhis harus sudah pulang, dan pesan Bapaknya Gendhis selalu melekat dalam ingatan Gendhis 

Gendhis adalah anak perempuan yang patuh pada aturan, Kata Bapaknya, Gendhis dari kecil tidak pernah mengatakan tidak atas perintah orang tua, apalagi perihal beribadah. "Jadi berangkat dari hal itu, Gendhis selalu memastikan untuk pulang, sekalipun sedang asyik bermain bersama teman. 

Gendhis selalu harus bersembahyang selanjutnya nanti meditasi, dan hal itu Gendhis lakukan minimal setengah jam setiap harinya. 



Tidak hanya itu, Gendhis juga menerima aturan ketat dari Bapaknya, setiap jam 5 sore itu Gendhis diwajibkan sudah mandi kalau belum mandi, maka Gendhis harus menanggung rasa sakit karena di gebukin sama Bapaknya. 


Namun demikian Gendhis diam diam dalam benaknya menangkap pesan, bahwa itu adalah ajaran terbaik dari keluarganya, padahal semua itu sama saja berarti tekanan dan juga kekerasan. 


Dari 8 bersaudara Gendhis adalah adik yang paling disayang dari 4 kakaknya, tapi hal itu membuat kakak Gendhis yang ke 6 dan 7 terjadi kecemburuan dalam keluarga, sementara Gendhis disayang oleh keempat kakak kakaknya, justru di sana pula kakak kakak Gendhis yang ke 6 dan ke 7 malah membencinya. 


Kerap sekali Gendhis mendapatkan perlakuan kasar dan kekerasan dari kakak kakaknya yang ke 5 dan ke 6, (sembari dengan mendapat ancaman Gendhis mendapat perlakuan dipukul, di tampar, dijambak dan kekerasan ucapan) yang berupa ancaman......bersambung 
(Prawira Sasmita) / (Eko B Art). 

Novel Bersambung.. 

Comments

Popular posts from this blog

Mahasiswa KKN Multidisiplin Dorong Kopi Jurangmangu Tembus Pasar Lewat Branding Berbasis Budaya Lokal

​HUT IGTKI ke-76 Kabupaten Pemalang Meneguhkan Komitmen Guru Sejahtera dan Pendidikan Berkualitas Menuju Wajib Belajar 13 Tahun

​Gagas Visi "Sinau Seduluran", Eko Budiarto Ajak Warga Losari Membangun Desa dengan Hati