Pemanfaatan Limbah Kulit Kopi Kering sebagai Bahan Antibakteri Dalam Produk Sabun Lantai
Salah satunya adalah kulit kopi yang dimanfaatkan hanya terbatas sebagai pakan ternak yang dijual murah ataupun langsung dibuang di sekitar tanaman oleh masyarakat. Disamping itu, pengolahan 1 ton buah basah kopi akan menghasilkan ±200 kg kulit kopi kering atau dari produksi 1 kg biji kopi akan dihasilkan juga 1kg kulit kopi.
Dapat dibayangkan dengan angka ini akan terjadi dampak buruk berupa munculnya polusi udara akibat bau busuk yang timbul.
Dalam keterangan konfirmasinya, Hasan pelaku UMKM pemilik kopi Cap Tugu Juang, menyebutkan “Hingga saat ini, saya memanfaatkan limbah kopi ini sebatas pakan ternak ataupun pembuatan minuman, namun sayangnya tidak maksimal.”
Hal ini menjadi perhatian oleh salah satu anggota kelompok mahasiswa Kuliah kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Diponegoro (Undip) tahun 2024 yang berfokus pada Optimalisasi Produksi dan Pengolahan Kopi menjadi Produk Unggulan Daerah. Gagasan ini berupaya untuk memberikan peluang bagi masyarakat dalam memanfaatkan limbah kopi menjadi produk rumah tangga, seperti Sabun Lantai.
“Berdasarkan beberapa penelitian, kulit buah robusta dan arabika menunjukkan adanya metabolit sekunder seperti senyawa fenol, alkaloid, saponin, dan terpenoid yang dimanfaatkan menjadi agen antibakteri. Mekanisme antibakteri ini yang saya manfaatkan untuk menjadi produk disinfektan rumah tangga”, hal tersebut disampaikan Rosaria, mahasiswa KKN Tematik Undip 2024, jurusan Bioteknologi, Fakultas Sains dan Matematika, usai menuntaskan tugas KKN di desa Pulosari, Sabtu (21/9/2024) .
Rosaria adalah Mahasiswa penggagas ide kreatif pemanfaatan kulit kopi ini,
"Berangkat dari produk sabun lantai di pasaran yang belum berbasis rumah tangga, Saya mencoba proses pembuatan sabun lantai yang mudah untuk diolah oleh kelompok petani desa maupun warga desa lainnya untuk menjadi nilai baru produk kopi".
Bahan utama yang digunakan adalah aquadest atau air bersih, Hydroxyethyl Cellulose (Cellosize), Sanisol (Benzalkonium Chloride), NP (Nonylphenol Ethoxylate 10), ekstrak kulit kopi kering, dan essence kopi.
“Adanya penambahan ekstrak kulit kopi, bahan alam tersebut telah terbukti mampu menghambat pertumbuhan berbagai jenis bakteri, baik Gram positif maupun negatif dengan mekanisme aktivitas antibakteri yang berbeda satu sama lain. Aktivitas antibakteri dapat mengganggu metabolisme bakteri yang berujung pada kematian sel bakteri tersebut. Pemanfaatan ini menunjukkan produk berbahan dasar alami yang cocok untuk kulit sensitif”, pungkas Rosaria.
Dalam kesempatan yang lain, Dr. Fahmi Arifan, S.T., M.Eng dan Dr. Heni Rizqiati, S.Pt., M.Si. selaku dosen pembimbing memberikan umpan balik, bahwa “Produk sabun lantai ini diharapkan memancing ide kreatif masyarakat desa Pulosari untuk memanfaatkan limbah kulit kopi dan memiliki produk rumah tangga mandiri dengan harga minimal dan hasil berkualitas.”
"Produk inovatif ini akan memberikan nilai tambah dari hasil produksi kopi, sehingga tidak hanya biji kopinya, namun seluruh bagian tumbuhan dari kopi bisa dimanfaatkan oleh masyarakat, melalui produk ini pula, UMKM Kopi Tugu Juang sebagai produsen mendapatkan peluang baru dalam pemanfaatan kopi mereka", pungkas Fahmi Arifan.
(Eko B Art).
Comments
Post a Comment