Bayang-Bayang Wilwatikta, Narasi Kehancuran dan Kelahiran Sang Saka

PEMALANG -​ Abu di Atas Reruntuhan Singasari.

​Malam di Singasari bukan lagi malam yang dihiasi tembang dan nyala dipa keemasan. Malam itu adalah saksi bisu dari kepedihan yang merajam dada. Istana yang selama ini berdiri megah di bawah naungan Wangsa Rajasa kini tinggal puing-puing yang membara, menyisakan bau jelaga dan amis darah. Di hadapan puing-puing kejayaan yang runtuh itu, seorang pangeran muda berdiri dengan jemari mencengkeram hulu keris. Tatapannya kosong, namun di balik sorot matanya, bara dendam dan tanggung jawab bergemuruh hebat.
​"Jika aku gugur hari ini, Wangsa Rajasa akan berakhir," bisik Raden Wijaya pada angin malam yang dingin, suaranya parau menahan sesak.
​Namun, takdir belum berkehendak menyerurahkan garis keturunan kertajasa begitu saja. Di tengah kepungan maut yang ditebarkan oleh pemberontakan Jayakatwang dari Gelang-Gelang, harapan terakhir Singasari kini sepenuhnya bertumpu di pundak pemuda tersebut. Demi para leluhur Wangsa Rajasa, ia bersumpah di dalam hati: ia akan merebut kembali kejayaan yang dirampas, merangkak bangkit dari abu kehancuran.
​Langkah kaki kuda berpacu membelah kepekatan malam. Raden Wijaya memilih jalur pelarian tersulit namun paling masuk akal demi menyelamatkan sisa-sisa pengikut setianya.
​"Pastikan semua naik! Kita tak punya waktu!" serunya tegas kepada para pengawal setia yang mendampinginya.
​Di bawah naungan rembulan yang tertutup awan kelabu, iring-iringan kecil itu meninggalkan tanah leluhur menuju tempat perlindungan terakhir di ujung timur pulau.
​"Ke mana tujuan kita, Paduka?" tanya seorang pengawal dengan napas memburu.
​"Kita menuju Madura, menemui Arya Wiraraja," jawab Raden Wijaya mantap. "Inilah awal perjalanan kita yang baru."


​Persekutuan Dua Rubah.
​Perjalanan panjang melintasi lembah dan pesisir membawa Raden Wijaya dan segelintir pengikutnya tiba di gerbang Kadipaten Sumenep. Di balik gerbang kayu yang kokoh itu, bersemayam seorang politikus ulung yang namanya ditakuti sekaligus diperhitungkan di seluruh tanah Jawa: Adipati Arya Wiraraja. Tokoh cerdik inilah yang dahulu sempat membantu Jayakatwang menjatuhkan Kertanegara, penguasa Singasari.
​Keraguan sempat menggelayut di benak para pengikut Raden Wijaya.
"Apa kita benar-benar akan mempercayai Arya Wiraraja? Bukankah ia yang membantu menjatuhkan Singasari, Gusti?" bisik seorang pengikut dengan tangan tetap siaga pada pedang.
​Raden Wijaya menggeleng pelan. "Kadang, musuh lama adalah jembatan menuju kemenangan yang lebih besar."
​Di hadapan gerbang utama, Raden Wijaya tidak sekadar mempertaruhkan nyawanya sendiri, melainkan juga sisa-sisa napas Wangsa Rajasa.
​"Berhenti! Sebutkan siapa kalian!" bentak prajurit penjaga gerbang dengan tombak terhunus.
​"Aku Raden Wijaya, menantu Sri Kertanegara. Aku datang untuk menghadap Adipati Arya Wiraraja," ucap sang pangeran tanpa gentar.
​Berita kedatangan pewaris Singasari itu dengan cepat merayap naik hingga ke pendapa kadipaten. Arya Wiraraja, sang penguasa tua dengan tatapan setajam elang, menyambut mereka dengan senyum penuh perhitungan.
​"Terima kasih, Paman, karena telah menerima kami," ucap Raden Wijaya saat mereka duduk berhadapan di ruang dalam yang temaram.
​Di samping Raden Wijaya, seorang pengikut setianya berbisik geram, "Satu perintah saja dari Paduka, aku akan mengakhiri hidup pengkhianat itu."
​"Tahan amarahmu," tegur Raden Wijaya tenang. "Kita datang membawa harapan, bukan peperangan."
​Arya Wiraraja mengamati pemuda di hadapannya dengan saksama. Keteguhan hati Raden Wijaya jauh melampaui usianya yang masih muda.
​"Semua kekuasaan dimulai dari memahami wilayah, Raden," ucap Arya Wiraraja memecah keheningan malam. "Aku memang membantu Jayakatwang menyingkirkan Kertanegara, tetapi Jawa tidak akan pernah aman di tangan penguasa Kediri itu."
​Pengakuan itu meluncur tanpa beban dari bibir sang adipati. Suasana malam itu menjadi titik balik penentuan nasib tanah Jawa.
​"Bantu aku mendirikan kerajaan baru," pinta Raden Wijaya to the point. "Sebagai balasannya, Jawa akan kita bagi bersama."
​Tawaran itu terlalu besar untuk diabaikan oleh seorang politikus licik. Arya Wiraraja tersenyum tipis. "Setengah Jawa untuk keturunanku, setengah lagi untuk keturunanmu."
​"Bagaimana aku bisa mempercayaimu?"
​"Demi darah Wangsa Rajasa, aku tidak akan mengingkari janjiku."
​Malam itu, di bawah temaram lampu minyak Sumenep, lahirlah sebuah persekutuan tersembunyi—persekutuan dua rubah cerdik yang kelak akan mengubah peta sejarah Nusantara. Siasat besar mulai ditenun: Jayakatwang tidak boleh diserang secara membabi buta, melainkan harus dibuat percaya bahwa sisa-sisa Singasari telah sepenuhnya tunduk dan tak berdaya.

​Sandiwara di Hutan Tarik.
​Langkah demi langkah, sandiwara besar itu dimainkan. Raden Wijaya kembali ke hadapan Jayakatwang di Kediri. Dengan kepala tertunduk dan pakaian sederhana, ia melangkah memasuki singgasana musuh, merendahkan harga dirinya demi masa depan yang jauh lebih besar.
​"Hamba datang untuk mengakui kekuasaan Paduka atas tanah Jawa," ucap Raden Wijaya di hadapan singgasana Kediri.
​Jayakatwang tertawa gelak, merasa di atas angin. "Akhirnya, anak Singasari tahu juga di mana tempatnya. Kini kau hanyalah anak macan tanpa taring."
​Namun, di balik sikap tunduknya, Raden Wijaya tengah merajut siasat pamungkas. Ketika ditanya hadiah apa yang ia inginkan sebagai tanda takluk, Raden Wijaya dengan cerdik meminta sebidang tanah terpencil di pedalaman yang penuh semak belukar dan angker: Hutan Tarik.
​"Hamba ingin hidup sebagai petani dan membangun benteng luar bagi Kediri di tempat terpencil itu," ujar Raden Wijaya pura-pura memohon.
​Merasa telah memberi hadiah kepada seekor macan ompong yang tidak berbahaya, Jayakatwang mengibaskan tangan dengan remeh. "Baik, Hutan Tarik menjadi milikmu."
​Ia tidak menyadari bahwa ia baru saja menghadiahi musuhnya tempat lahirnya sebuah imperium raksasa.
​Di Hutan Tarik, perubahan besar terjadi dalam diam. Bantuan tenaga dan logistik dari Arya Wiraraja berdatangan. Di siang hari, mereka adalah para petani yang mencangkul tanah dan menebang belukar; namun ketika matahari tenggelam, mereka berubah menjadi barisan prajurit terlatih yang siap mengangkat senjata.
​Suatu hari, ketika Raden Wijaya dan pengikutnya tengah mencari sumber air di tengah belantara hutan yang lebat, seorang pengikut memetik buah liar dari sebuah pohon dan menggigitnya.
​"Pahit sekali! Gusti, buah ini sangat pahit!" serunya sambil meringis.
​Raden Wijaya tertegun sejenak, lalu tersenyum penuh makna. Buah itu memberikan inspirasi abadi bagi tanah baru tersebut.
​"Mulai hari ini, tempat ini dinamakan Majapahit," ucap Raden Wijaya mantap.
​Dari rasa pahit buah di hutan belantara, lahirlah sebuah nama yang kelak akan mengguncang seluruh penjuru dunia.


​Memperdaya Dua Raksasa.
​Majapahit tumbuh perlahan namun pasti. Di balik kedok permukiman petani sederhana, kekuatan militer yang tangguh dan terlatih terus ditempa. Di tengah kesibukan itu, mata-mata Majapahit yang mengawasi laut Jawa membawa kabar yang mengejutkan istana hutan tarik.
​"Gusti! Armada asing berukuran sangat besar telah tiba memenuhi cakrawala laut Jawa!" teriak seorang utusan dengan napas tersengal.
​Itu bukan pasukan lokal. Itu adalah armada laut raksasa dari Kekaisaran Yuan, Mongol, di bawah pimpinan tiga panglima besar, termasuk Panglima Shibi, yang dikirim langsung oleh Kubilai Khan untuk menuntut balas atas penghinaan yang pernah dilakukan Kertanegara di masa lalu.
​Menghadapi kedatangan pasukan adikuasa dari utara, Raden Wijaya kembali menggunakan kecerdikannya. Target utama Mongol adalah Kediri, karena Kertanegara telah tiada. Alih-alih mengangkat senjata melawan armada Mongol, Raden Wijaya memilih jalur diplomasi yang paling berisiko: memanfaatkan pasukan Mongol untuk menghancurkan Kediri, lalu balik menghantam Mongol di saat mereka lengah.
​Utusan khusus dikirim menemui panglima Mongol di atas kapal perang raksasa mereka. Di hadapan Shibi yang duduk di singgasana megah di atas kapal, utusan Majapahit menyampaikan pesan damai.
​"Majapahit bersedia membantu Kekaisaran Yuan menghancurkan Jayakatwang di Kediri," ucap sang utusan dengan tenang.
​Shibi, sang panglima Mongol, melihat peluang emas. Kerja sama disepakati. Dua kekuatan besar bergerak bersama menuju jantung ibu kota Kediri, tanpa menyadari bahwa mereka sedang berjalan menuju perangkap kematian yang disiapkan oleh seorang pangeran yang mereka anggap remeh.
​Perang besar meletus di Kediri. Pasukan gabungan Mongol dan Majapahit menggempur pertahanan Kediri dari berbagai penjuru. Sungai Brantas memerah oleh darah, dan gerbang istana Kediri akhirnya runtuh dalam gempuran dahsyat. Jayakatwang, penguasa Kediri, tidak memiliki jalan keluar selain menyerah. Ia digiring keluar istana sebagai tawanan perang di bawah pengawalan ketat pasukan Mongol.
​Merasa telah menaklukkan seluruh tanah Jawa dengan mudah, pasukan Mongol larut dalam pesta pora dan perayaan kemenangan di perkemahan mereka. Gendang ditabuh, tuak berlimpah, dan kewaspadaan mereka perlahan-lahan runtuh terkikis oleh kesombongan.
​Di balik kemah-kemah pasukan Mongol yang mulai mabuk kepayang, rapat rahasia di Majapahit digelar.
​"Kediri hanyalah umpan," tegas Raden Wijaya di hadapan para panglimanya. "Target kita berikutnya adalah menghancurkan pasukan Mongol!"

​Fajar Kehancuran Mongol.
​Menjelang fajar, saat kesunyian malam merayap paling pekat dan pasukan Mongol tertidur pulas dalam kelelahan pesta semalam, pasukan Majapahit bergerak bagai bayangan maut.
​Sebelum serangan dimulai, utusan Majapahit sempat mendatangi perkemahan utama Mongol dengan alasan memohon izin untuk menyerahkan upeti dan keluarga kerajaan sebagai tanda ketundukan terakhir. Panglima Shibi mengangguk puas, merasa di atas angin.
​"Pergilah, kami akan menunggu," ujar Shibi meremehkan.
​Keputusan itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Begitu utusan itu keluar, aba-aba penyerangan dikibarkan. Dari barat, dari selatan, dan dari segala penjuru hutan, pasukan Majapahit menerjang bagai badai.
​Serangan itu datang begitu cepat dan tanpa ampun hingga pasukan Mongol tidak sempat mengenakan zirah perang mereka atau mengangkat panah. Formasi tempur mereka hancur berkeping-keping dalam hitungan menit. Panglima Shibi, yang terbangun oleh hiruk-pikuk jerit ketakutan, baru menyadari bahwa kemenangan di Kediri hanyalah tipu muslihat cemerlang dari Raden Wijaya.
​"Raden Wijaya... kau memperdayai kami!" teriak Shibi putus asa di tengah kekacauan medan perang.
​Sisa-sisa pasukan Mongol yang panik berlarian kocar-kacir menuju pantai Tuban, berebut menaiki kapal-kapal mereka untuk menyelamatkan diri dari pembantaian. Armada terbesar Kekaisaran Yuan itu meninggalkan bumi Jawa dengan sisa-sisa rasa malu dan kekalahan telak yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
​Hari itu, muslihat cemerlang Raden Wijaya berhasil mengusir ancaman terbesar dari utara dan mengubah jalannya sejarah Asia.


​Berdirinya Imperium Nusantara.
​Setelah ancaman Mongol sirna dan Kediri runtuh, Hutan Tarik disulap menjadi pusat peradaban baru yang makmur dan damai. Rakyat dari berbagai penjuru Jawa berdatangan mencari perlindungan dan penghidupan di bawah panji Majapahit.
​Untuk memperkuat fondasi politik dan menyatukan kembali trah Wangsa Rajasa yang sempat terpecah, Raden Wijaya menikahi keempat putri mendiang Raja Kertanegara. Pernikahan agung ini bukan sekadar ikatan keluarga, melainkan pilar kokoh penopang kekuasaan imperium baru.
​Tahun 1293 Masehi. Hari yang paling dinantikan dalam sejarah Nusantara akhirnya tiba. Di bawah naungan langit Wilwatikta, para pendeta Siwa dan Buddha memimpin upacara suci penobatan raja pertama Majapahit.
​Di hadapan para punggawa, pendeta agung mengangkat mahkota suci ke atas kepala sang pangeran.
​"Mulai hari ini, Paduka bergelar Sri Kertarajasa Jayawardana!" seru sang pendeta disusul sorai gemuruh para hadirin.
​"Hidup Sri Kertarajasa Jayawardana! Hidup Majapahit!"
​Mahkota Wilwatikta resmi menjadi simbol berdirinya kerajaan terbesar di Nusantara. Raden Wijaya berdiri di atas singgasana, mengenang kembali perjalanan panjangnya: dari seorang buronan yang kehilangan segalanya di reruntuhan Singasari, melintasi pelarian yang penuh darah, menipu imperium Mongol yang digdaya, hingga kini berdiri sebagai raja yang menyatukan bumi Nusantara.

​Intrik, Duri, dan Perpecahan di Istana.
​Namun, mendirikan sebuah kerajaan besar ternyata jauh lebih mudah daripada menjaganya dari dalam. Di balik kemegahan singgasana Wilwatikta, duri-duri pengkhianatan mulai tumbuh perlahan.
​Mahapati, seorang pejabat istana yang haus kekuasaan namun bermuka dua, melihat celah di antara para pahlawan yang dahulu berjuang bersama Raden Wijaya. Ia mulai membisikkan racun kecurigaan ke telinga para bangsawan, mengadu domba kesetiaan demi kepentingan pribadi.
​Rangga Lawe, Adipati Tuban yang berjiwa ksatria dan blak-blakan, merasa kecewa dengan pembagian jabatan yang dianggap tidak adil. Rasa kecewa itu disulut oleh intrik halus Mahapati hingga berubah menjadi bara pemberontakan. Perang saudara yang paling dihindari akhirnya pecah di Sungai Tambak Beras.
​Perang saudara itu meninggalkan luka mendalam yang tak terperi. Rangga Lawe gugur di medan laga, disusul oleh kematian tragis Lembu Sora akibat ledakan emosi dan kesalahpahaman yang digerakkan oleh provokasi Mahapati. Satu demi satu, sahabat-sahabat setia yang menemani Raden Wijaya membangun Majapahit dari nol gugur oleh pertumpahan darah sesama saudara sendiri.
​Sri Kertarajasa Jayawardana, yang kesehatannya kian merosot dimakan usia dan beban pikiran, hanya bisa meratapi runtuhnya persahabatan di sisa-sisa hari hidupnya.
​Suatu malam menjelang akhir hayatnya, sang pendiri memanggil putranya, Pangeran Jayanagara, yang dipersiapkan sebagai putra mahkota.
​"Dengarkan baik-baik, Nak," bisik Sri Kertarajasa dengan suara parau namun penuh wibawa, memegang pundak putranya di hadapan permaisuri Gayatri. "Tanah ini tidak diberikan kepada kita sebagai hadiah. Tanah ini kita rebut dengan cucuran darah dan air mata. Mendirikan kerajaan membutuhkan ribuan pengorbanan, tapi menghancurkannya hanya butuh satu keraguan."
​Pangeran Jayanagara mengangguk takzim, meresapi setiap kata dari sang ayah.
​Tahun 1309 Masehi. Sang Surya pendiri Majapahit itu akhirnya menutup mata untuk selamanya. Upacara pemakaman agung digelar dengan penuh duka cita mendalam dari seluruh rakyat Nusantara.
​Raden Wijaya telah pergi, namun warisannya tetap abadi. Dari buah maja yang pahit di tengah hutan belantara, ia telah menanam sebuah pohon besar yang akarnya mencengkeram kuat bumi nusantara—sebuah imperium agung bernama Majapahit, yang cahayanya akan terus bersinar menerangi sejarah zaman sepanjang masa.

Sumber : (MAJAPAHIT FULL MOVIE ||DARI BURONAN JADI RAJA!Menipu Mongol & Mendirikan Kerajaan terbesar Nusantara
https://www.youtube.com/watch?v=2GFaCLYn5WM
Musik dan video yang lebih populer ada di Go VideoTube #govideotube.

(Eko B Art). 

Comments

Popular posts from this blog

Sebanyak Tujuh Perwakilan Sekolah Siap Bertanding Membawa Nama Baik Kecamatan Petarukan Dalam FTBI Tingkat Kabupaten Tahun 2026

​HUT IGTKI ke-76 Kabupaten Pemalang Meneguhkan Komitmen Guru Sejahtera dan Pendidikan Berkualitas Menuju Wajib Belajar 13 Tahun

​Gagas Visi "Sinau Seduluran", Eko Budiarto Ajak Warga Losari Membangun Desa dengan Hati