Zaman Rasulullah Saw, Identitas Orang Munafik Hanya Diketahui Melalui Wahyu Yang Diamanahkan Khusus Kepada Sahabat Huzaifah Bin Yaman Ra, Yang Dijuluki Sebagai "Sahibul Sirr"
PEMALANG — Kajian rutin tafsir Al-Qur'an kembali digelar di Masjid Albarokah, Dukuh Plondongan, Desa Losari, Kecamatan Ampelgading, Pemalang, pada Jumat (11/9/2026) ba'da Subuh. Pembicara ustadz Zahid Shuhufi mengupas mendalam karakter dan sifat orang munafik berdasarkan Surah Al-Baqarah dan Surah Al-Munafiqun, sekaligus mengajak jemaah mengoreksi diri dari bahaya penyakit hati.
Pembahasan diawali dengan penegasan prinsip Al-Qur'an yufassiru ba'duhu ba'da (ayat-ayat Al-Qur'an saling menafsirkan). Ustadz Zahid Shuhufi menyoroti Surah Al-Munafiqun ayat 2, yang menjelaskan bahwa ciri utama orang munafik adalah menjadikan sumpah dan keimanan sebagai perisai (junnah) untuk menutupi kebohongan dan menghalangi manusia dari jalan Allah.Di tengah kajian, timbul pertanyaan krusial mengenai status ibadah orang munafik: "Apakah salatnya orang munafik diterima oleh Allah SWT?"
Ustadz Zahid Shuhufi menjelaskan status tersebut dari dua sudut pandang Secara Zahir (Pandangan Manusia) Salat mereka dianggap sah secara hukum fikih dan diterima secara kasat mata, sehingga manusia tidak berhak menghakimi atau menghukum status keimanan seseorang.
Secara Batin (Sisi Allah SWT): Mengenai penerimaan hakiki, berlaku Wallahu a'lam bisshawab. Namun, kepalsuan niat dan kelicikan hati membuat ibadah tersebut terancam tidak bernilai di hadapan Allah SWT.
Ia juga menceritakan sejarah zaman Rasulullah SAW, di mana identitas orang munafik hanya diketahui melalui wahyu yang diamanahkan khusus kepada sahabat Huzaifah bin Yaman RA, yang dijuluki sebagai Sahibul Sirr (pemegang rahasia Nabi).
Merujuk pada hadis Nabi SAW dan Surah Al-Baqarah ayat 8–13, Ustadz Zahid merincikan beberapa sifat mendasar orang munafik ;
-Tanda Utama, Apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila diberi amanah ia berkhianat (serta jika berselisih, ia berbuat jahat).
-Pura-Pura Melakukan Perbaikan, Saat dilarang membuat kerusakan di muka bumi (La tufsidu fil ardh), mereka berdalih sedang melakukan perbaikan (Innama nahnu muslihun).
-Penyakit Hati (Fi Qulubihim Marad), Hati mereka dihinggapi kesombongan dan kepalsuan. Jika dibiarkan, Allah SWT akan menambah parah penyakit tersebut hingga mengancam keselamatan akhirat mereka.
Sebagai benteng dari sifat tersebut, jemaah diajak rutin mengamalkan doa sesudah shalat, "Allahumma a'inni 'ala zikrika wa syukrika wa husni 'ibadatika" (Ya Allah, tolonglah aku agar senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbaiki kualitas ibadah kepada-Mu).
Kajian diakhiri dengan peringatan keras dari Surah An-Nisa ayat 145 bahwa ancaman bagi orang munafik yang tidak bertobat adalah tempat paling bawah di kerak neraka (Innal munafiqina fid darkil asfali minan nar). Seluruh jemaah diimbau untuk terus membersihkan niat agar terhindar dari sifat riya dan kemunafikan.
Setelah usai mengikuti kajian Rutin Ba'da Subuh, seluruh Jama'ah Masjid Albarokah mendapatkan pembagian beras Sedekah Subuh dari H, Oktawirawan, selaku Ketua Nadzir Masjid Albarokah.
(Eko B Art).
Comments
Post a Comment