Taujihat K.H. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam acara Halaqah RMI (Rabithah Ma’ahid Islamiyah) Muktamar ke-35 NU

PEMALANG - ​Gus Mus di Halaqah RMI NU, Pesantren Adalah Lembaga Educating (Tarbiyah), Bukan Sekadar Pengajaran, lebih lanjut KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) menyampaikan pandangan mendalam mengenai hakikat pesantren, peran kiai, serta reposisi struktur Nahdlatul Ulama (NU), penyampaian tersebut disampaikan dalam ceramah arahan (taujihat) pada acara Halaqah Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) menjelang Muktamar Ke-35 NU, Sabtu (29/8/2026).


​-Kiai Sebagai 'Raja' dan Fenomena Putra Mahkota Pesantren, ​Gus Mus membuka tausiyahnya dengan mengenang perdebatan hangat bersama Almaghfurlah K.H. Sahal Mahfudh. Kala itu, Gus Mus mengistilahkan bahwa kiai adalah "raja" dan pesantren adalah "kerajaannya". Hal ini didasari atas kepatuhan penuh para santri terhadap dawuh serta arahan kiai.

​Gus Mus juga menyoroti regenerasi kepemimpinan pesantren. Dahulu, keberlangsungan kepemimpinan secara otomatis diteruskan oleh para "Gus" sebagai putra mahkota. Namun seiring berjalannya waktu, ketika anak kiai tidak meneruskan estafet keilmuan sang ayah, lahirlah institusi yayasan untuk menjamin kelangsungan pesantren agar tetap dipimpin oleh kiai yang kapabel.

​-Kritik Terhadap Pendidikan Modern, Bedakan Tarbiyah dan Taklim...!
​Memasuki inti pemikirannya, Gus Mus menguraikan perbedaan mendasar antara Tarbiyah (Pendidikan) dan Taklim (Pengajaran).
​Taklim (Pengajaran), hanyalah transfer informasi atau ilmu pengetahuan semata (seperti komputer yang hafal berbagai kitab tetapi tidak memiliki akhlak).
​Tarbiyah (Pendidikan), merupakan pembentukan amaliah dan moral santri selama 24 jam.

​Gus Mus mengkritik pergeseran di dunia pendidikan formal modern yang kerap mengesampingkan tarbiyah. Menurut beliau, di masa lalu, kiai-kiai mendidik santri tidak hanya lewat kata-kata atau dalil, melainkan melalui keteladanan perilaku (laku).

​-Esensi Sosok Kiai, Melihat Umat dengan Mata Kasih Sayang
​Gus Mus menekankan definisi utama seorang kiai melalui ungkapan, ​"Alladzina yanzuruna ilal ummah bi'ainir rahmah" — Orang-orang yang melihat umat dengan pandangan kasih sayang.

​Bagi Gus Mus, setinggi apa pun ilmu seseorang, sebesar apa pun serbannya, jika tidak memiliki rasa kasih sayang dan kepedulian terhadap problema masyarakat, maka ia belum memenuhi syarat hakiki sebagai kiai. Dahulu, kiai adalah tempat mengadu dan solusi bagi segala urusan masyarakat—mulai dari ilmu agama, masalah pertanian, hingga urusan perjodohan.

​-Metafora Idham Khalid, "Pesantren adalah NU Kecil, NU adalah Pesantren Besar"
​Mengutip ucapan mantan Ketua Umum PBNU K.H. Idham Khalid, Gus Mus mengingatkan bahwa pesantren adalah NU dalam skala kecil, dan NU adalah pesantren dalam skala besar.
​Beliau mendorong RMI untuk menggali kembali arsip-arsip serta amanah Khittah NU 1984 yang sangat rinci mengatur hubungan antarorganisasi, negara, dan masyarakat.

​-Syuriyah Sebagai "Kiai" dan Tanfidziyah Sebagai "Lurah Pondok", ​dalam menata struktur organisasi, NU pada hakikatnya mengadopsi struktur kepemimpinan di pesantren, dengan fungsi setruktur Orhanisasi sebagai berikut ;
-​Syuriyah (Kiai), Berperan sebagai pengarah (taujih), pemegang komando, dan penentu arah navigasi.
-​Tanfidziyah (Lurah Pondok), Berperan sebagai manajer eksekutif yang menjalankan operasional agar berjalan sesuai arahan Syuriyah.
Dalam hal ini ​Gus Mus menegaskan agar tidak ada pembalikan peran di mana Tanfidziyah melangkahi atau mengabaikan kewenangan Syuriyah.

​-Penutup dan Doa Bersama
​Mengakhiri tausiyahnya, Gus Mus memimpin pembacaan Al-Fatihah secara bersama-sama dengan mengulang ayat Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in sebanyak 11 kali. Beliau meminta para hadirin untuk memohon serta membatin (ngerentek) hajat-hajat besar mereka kepada Allah SWT, lalu ditutup dengan pembacaan Asmaul Husna dan doa kebaikan bersama.

(Eko B Art).

​(Sumber: [FULL] TAUJIHAT GUSMUS | HALAQAH RMI MUKTAMAR KE-35 NU — Channel YouTube Ngopi | https://www.youtube.com/watch?v=Z2CkWdD5xfI). 

Comments

Popular posts from this blog

​HUT IGTKI ke-76 Kabupaten Pemalang Meneguhkan Komitmen Guru Sejahtera dan Pendidikan Berkualitas Menuju Wajib Belajar 13 Tahun

​Gagas Visi "Sinau Seduluran", Eko Budiarto Ajak Warga Losari Membangun Desa dengan Hati

M. Danu Ginanjar, Hadir Dalam Kontestasi Pilkades Sokawati, Menyamakan Persepsi Dengan Seluruh Warga, Menuju Era Tata Kelola Pemerintahan Mewujudkan Kesejahteraan