Pemaparan Kh Dr. Jalaluddin Rakhmat Tentang Sejarah Awal Munculnya Mazhab Dalam Islam

PEMALANG - Perkembangan Mazhab dan Peran Penguasa dalam Sejarah, ​Pada masa-masa awal, terdapat sangat banyak mazhab yang tumbuh di tengah masyarakat Islam, terutama pada era Dinasti Abbasiyah pasca-runtuhnya Dinasti Umayyah. Mazhab-mazhab seperti mazhab Sufyan Ats-Tsauri, Sufyan bin Uyainah, Al-A’masy, Al-Auza'i, hingga Abu Daud Az-Zahiri pernah ada.

Namun, sebagian besar mazhab tersebut hilang dari catatan sejarah dan hanya empat mazhab utama (Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hambali) yang bertahan dan dikenal luas hingga hari ini.


Melansir dari unggahan video https://youtu.be/B-GMu0AfMeI?si=OxwBbRGbgSIPbgtc, disebutlan bahwa Faktor utama yang menyebabkan sebuah mazhab mampu bertahan lama dan populer adalah dukungan dari para penguasa (kekuasaan). Jika suatu mazhab tidak didukung penguasa, keberadaannya cenderung memudar dengan cepat.

-​Mazhab Maliki, Khalifah Al-Mansur dan Harun Ar-Rasyid pernah berniat mewajibkan seluruh rakyat mengikutinya melalui kitab Al-Muwatta karya Imam Malik.

-​Mazhab Syafi'i,, Mulai berkembang pesat di Mesir setelah Salahuddin Al-Ayyubi menguasai wilayah tersebut dan mewajibkan rakyatnya bermazhab Syafi'i.

-​Mazhab Hanafi, Berkembang pesat di zaman Dinasti Abbasiyah (Khalifah Harun Ar-Rasyid, Al-Hadi, dan Al-Mahdi) setelah murid utama Abu Hanifah, yaitu Abu Yusuf, diangkat sebagai Qadi (hakim agung) yang berwenang menunjuk pejabat hakim di berbagai daerah.

-​Mazhab Hambali, Memiliki pengikut yang lebih sedikit pada awalnya, namun mendapat ruang saat Khalifah Al-Mutawakkil sering berkonsultasi dengan Imam Ahmad bin Hambal. Di kemudian hari, percabangan pemikiran ini diteruskan oleh Ibnu Taimiyah hingga Muhammad bin Abdul Wahhab (Wahabi), yang mengalami lonjakan pengikut besar-besaran setelah keluarga Saud berkuasa di Arab Saudi.

​Tentang Dinamika Mazhab pada Masa Sahabat Nabi, ​Pada masa Rasulullah SAW masih hidup, mazhab belum terbentuk karena seluruh hukum agama dirujuk langsung kepada Nabi. Setelah beliau wafat, hukum dan sunnah digali dari para sahabat, sehingga pada era tersebut mazhab dinisbahkan langsung kepada nama sahabat (seperti Mazhab Aisyah, Mazhab Umar, Mazhab Abdullah bin Mas'ud, dll.).

​Perbedaan penafsiran di antara para sahabat kerap terjadi akibat tingkat kebersamaan dan interaksi mereka yang berbeda-beda saat berguru kepada Rasulullah ;

-Kasus Hukum Persusuan Dewasa, Terjadi perbedaan pandangan antara Abu Musa Al-Asy'ari dan Abdullah bin Mas'ud mengenai status hubungan persusuan untuk orang dewasa.

-​Kasus Tayamum saat Junub, Umar bin Khattab berpandangan tayamum hanya untuk orang sakit/musafir yang tidak menemukan air, sedangkan Ammar bin Yasir berpendapat tayamum juga berlaku bagi orang junub yang tidak menemukan air meski tidak sedang bepergian.

-​Pengerasan Bacaan Bismillah, Sayyidina Ali berpendapat bacaan Bismillahirrahmanirrahim dikeraskan (jahar), sementara sahabat lain seperti Abu Hurairah memelankannya (sirr).

​Pembagian Dua Madrasah Utama dan Perkembangannya.
​Secara garis besar, pandangan sahabat terpecah menjadi dua lingkaran pemikiran utama ;

-​Madrasah Ahlul Bait, Berpusat pada keluarga Nabi Muhammad SAW yang diwakili oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib.
-​Madrasah Khulafa, Berpusat pada para khalifah dan sahabat di luar Ahlul Bait.

​Dari Madrasah Khulafa, pemikiran hukum Islam berkembang lagi menjadi dua cabang utama ;
-​Ahlul Hadits (Berpusat di Madinah), Berpegang teguh pada teks-teks hadits karena Madinah merupakan pusat berkumpulnya para sahabat dan tabiin.

-​Ahlur Ra'yi (Berpusat di Kufah/Irak), Menggunakan penalaran akal (ra'yu) dan pencarian illat (sebab hukum) ketika tidak menemukan hadits yang mencukupi, mengingat jumlah riwayat hadits yang sampai ke daerah tersebut relatif lebih sedikit.

​Sementara itu, Madrasah Ahlul Bait berkembang secara tertutup (underground) akibat mendapat penindasan politik yang ketat dari penguasa (seperti pada masa Umayyah di bawah Muawiyah). Untuk menjaga keberlangsungan pemikiran dan keselamatan para pengikutnya dari tekanan politik, dikembangkanlah konsep Taqiyah (menyembunyikan keyakinan saat situasi terancam).

​Keterkaitan dan Sanad Antara Empat Imam Mazhab.
​Meskipun keempat imam mazhab terbagi dalam kecenderungan pemikiran yang berbeda, secara historis mereka saling terhubung dan berguru satu sama lain ;
-​Imam Jafar Ash-Shadiq (tokoh utama Ahlul Bait) menjadi guru dari Imam Abu Hanifah (selama 2 tahun) dan Imam Malik.
-​Imam Syafi'i berguru kepada Imam Malik serta Asy-Syaibani (murid Abu Hanifah), lalu memadukan metodologi Ahlul Hadits dan Ahlur Ra'yi.
-​Imam Ahmad bin Hambal berguru kepada Imam Syafi'i dan sangat condong pada pendekatan Ahlul Hadits.

​Kesimpulan dan Pesan Pengajaran. ​Di akhir ceramah, KH Dr. Jalaluddin Rakhmat menekankan bahwa keberagaman mazhab merupakan kekayaan tradisi pemikiran dalam Islam. Seluruh imam mazhab memiliki rasa hormat dan keterikatan ilmiah dengan keluarga Rasulullah (Ahlul Bait) serta ajaran-ajaran sahabat lainnya. Sikap menyikapi perbedaan mazhab hendaknya didasari oleh saling menghargai, menjaga persatuan umat, serta menghindari fitnah dan perpecahan.

(Eko B Art). 

Comments

Popular posts from this blog

​HUT IGTKI ke-76 Kabupaten Pemalang Meneguhkan Komitmen Guru Sejahtera dan Pendidikan Berkualitas Menuju Wajib Belajar 13 Tahun

​Gagas Visi "Sinau Seduluran", Eko Budiarto Ajak Warga Losari Membangun Desa dengan Hati

M. Danu Ginanjar, Hadir Dalam Kontestasi Pilkades Sokawati, Menyamakan Persepsi Dengan Seluruh Warga, Menuju Era Tata Kelola Pemerintahan Mewujudkan Kesejahteraan