Mengenang Dialog Kritis Gus Dur, Menjawab Reformasi, Ekonomi, hingga Polemik Pencalonan Kembali
PEMALANG — Dalam rekaman dialog interaktif Who Wants to be the President, Presiden Republik Indonesia ke-4, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), secara lugas merespons gelombang pertanyaan kritis dari panelis, mahasiswa, pengusaha, hingga pemirsa dari berbagai daerah.
Berikut adalah alur perjalanan dialog dan pokok-pokok pemikiran yang disampaikan oleh Gus Dur, dengan penegakan agenda reformasi. Gus Dur menegaskan bahwa langkah mendasar untuk menyelesaikan krisis nasional adalah membangun sistem baru di empat bidang utama, Politik Pemerintahan, Ekonomi, Pendidikan, Budi Pekerti/Moralitas Akhlak.
Ketika dicecar panelis terkait dugaan kompromi politik masa lalu, Gus Dur menyatakan bahwa hambatan utama dulu adalah mafia peradilan dan lembaga hukum yang belum independen. Ia berjanji akan melakukan pembersihan total dan menolak tawar-menawar politik jika kembali memimpin.
Dalam Sesi Panelis, Solusi Utang Luar Negeri & Usaha Kecil Menengah (UKM).
Menjawab pertanyaan mengenai program bunga 5% bagi pengusaha UKM, Gus Dur membantah bahwa hal tersebut adalah skema subsidi yang membebani negara. Ia menawarkan dua solusi logis, Moratorium Utang Luar Negeri, Menunda pembayaran utang luar negeri yang saat itu mencapai $80 miliar per tahun agar dana dapat dialokasikan untuk rakyat.
Kredit Bunga Rendah, Memanfaatkan pinjaman internasional berbunga sangat rendah (sekitar 2%) untuk disalurkan kembali ke rakyat/UKM. Gus Dur juga mengusulkan kenaikan pendapatan bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS), militer, dan pensiunan untuk mencegah praktik KKN.
Pembaharuan Sistem Pendidikan Berbasis Komunitas, Saat ditanya mengenai sektor pendidikan, Gus Dur mendorong perubahan sistem dari yang kaku/formal menjadi pendidikan berbasis komunitas (community-based education), mengutip pemikiran Romo Mangunwijaya. Ia menyoroti perlunya pengakuan atas kemampuan nyata masyarakat, bukan sekadar lembar ijazah.
Selanjutnya Mengenai anggaran, Gus Dur berkomitmen menaikkan jumlah absolut anggaran pendidikan seiring peningkatan penerimaan pajak negara.
Pertanyaan Peserta & Audiens, Isu Likuidasi, Agraria, dan UKM
Isu Likuidasi Negara, "Menjawab pertanyaan warga mengenai apakah Indonesia perlu dilikuidasi karena masalah utang", Gus Dur secara tegas menolak hal tersebut dan memilih renegosiasi utang tanpa harus keluar dari sistem perdagangan internasional.
Hak Milik atas Sumber Daya Alam: Menanggapi keluhan pengusaha kecil soal penguasaan lahan oleh asing/kroni, Gus Dur setuju bahwa Undang-Undang Dasar perlu direvisi agar hak atas kekayaan alam di atas tanah milik rakyat tidak dirampas begitu saja.
Desakan untuk Tidak Mencalonkan Diri Lagi & Jawaban Khas Gus Dur.
Seorang penanya meminta Gus Dur agar tidak mencalonkan diri lagi pada Pemilu 2004 karena persoalan bangsa sudah terlalu rumit.
Gus Dur merespons dengan santai bahwa pegangan hidupnya adalah patuh pada petunjuk para kiai dan ulama.
"Presiden itu kekecilan untuk Anda, kata teman saya. Tapi sebagai manusia, saya harus mendengar apa kata kiai," ujar Gus Dur.
Sesi Mahasiswa, Gaya Kepemimpinan Gus Dur vs Megawati.
Seorang mahasiswa menanyakan mengenai tingkat kesederhanaan presiden serta perbedaan kepemimpinannya dengan Megawati Soekarnoputri.
Gus Dur menjawab dengan tegas, "Kepemimpinan saya menghargai kedaulatan hukum. Kepemimpinan Megawati lebih ke penyelesaian politis."
Interaksi Penelepon Luar Daerah & Penutup.
Penelepon dari Makassar & Tangerang, Menanyakan pelajaran dari masa lalu, hubungan NU–Muhammadiyah, hingga kapasitas manajerial dan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos.
Kepemimpinan vs Manajerial, Gus Dur menegaskan bahwa Presiden adalah seorang pemimpin, bukan sekadar manajer. Perbedaan pandangan dan nada bicara yang tegas dilakukannya demi mempertahankan konstitusi.
Hasil Poling Pembawa Acara, Di akhir acara, pembawa acara membacakan hasil poling dari 7.000+ penelepon (42% berharap Gus Dur jadi presiden lagi, 55% tidak berharap, 3% ragu-ragu). Gus Dur menanggapi hasil poling tersebut secara berseloroh: "Iya, ini kan bukan Pemilu!".
(Eko B Art).
Comments
Post a Comment