Kritik Menohok Kebijakan Negara dan Oligarki, Menyeru Kesadaran Rakyat dan Keberanian Melawan Ketidakadilan
PEMALANG - Latar Belakang & Pembuka, Dalam sebuah pemaparan yang persuasif dan kritis, Mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM Tiyo Ardianto menyerukan pentingnya keberanian bagi rakyat Indonesia menghadapi para pemegang kekuasaan.
Rakyat diingatkan agar tidak merasa takut terhadap penguasa, tidak peduli seberapa besar pilar kekuatan, kekayaan, maupun pengawalan yang dimiliki oleh penguasa tersebut.
Tentang Pergeseran Nilai dan Mentalitas Bangsa, Tiyo Ardianto menyatakan bahwa, Masalah utama bangsa saat ini dinilai berakar dari pergeseran orientasi nilai. Pembicara menyoroti fenomena di mana rakyat yang seharusnya bermental penceramah/spiritual (Brahmana) dan pejuang (Ksatria) justru diarahkan oleh negara untuk berorientasi pada transaksi serta eksploitasi (Waisya dan Sudra).
-Orientasi Nilai Kasta, Pembicara menegaskan bahwa kasta bukanlah status sosial, melainkan orientasi nilai.
-Sudra, Didefinisikan sebagai pihak yang berorientasi mengambil dari alam (seperti eksploitasi tambang).
-Waisya, Didefinisikan sebagai pihak yang mementingkan diri sendiri dan memperjualbelikan harga diri serta kehormatan.
-Ksatria & Brahmana, Didefinisikan sebagai pihak yang orientasi nilainya murni untuk kemanfaatan masyarakat dan Pengabdian kepada Tuhan.
Kritik Perilaku Politik, Seluruh partai politik dan lembaga dianggap memiliki insting untuk bertindak seperti pedagang yang menjual kebenaran dan harga diri demi keuntungan pragmatis.
Tiyo Ardianto juga menyampaikan bahwa Cengkeraman Oligarki dan Ketimpangan Ekonomi, Kondisi sosial-ekonomi saat ini digambarkan sebagai bentuk "penjajahan modern" oleh sistem oligarki.
Tiyo Ardianto kembali menyoroti ketimpangan ekstrem di mana kekayaan 50 orang terkaya di Indonesia setara dengan kekayaan 55 juta rakyat. Ditambah lagi, keberadaan pejabat yang memiliki kekayaan tidak wajar di luar laporan resmi (LHKPN) serta ketiadaan pajak kekayaan (wealth tax) dinilai semakin mempersehat kondisi tersebut.
Sindiran Korupsi dan Gagasan Satiris, Sebagai bentuk keprihatinan atas maraknya korupsi, pembicara melontarkan gagasan satiris mengenai perlunya penegakan hukum berbasis ilmu pengetahuan. Secara berseloroh, diusulkan formulasi rekayasa biologi/neurosains untuk mendeteksi rekam jejak koruptor ;
-Korupsi Skala Kecil (1 M - 100 M): Diberi efek jera berupa penyakit kulit di sekujur tubuh.
-Korupsi Skala Menengah (1 T - 100 T): Diberi sanksi kelumpuhan total.
-Korupsi Skala Besar (>100 T): Diberi sanksi fatal.
Pendidikan Kewarganegaraan dan Esensi Demokrasi, Menutup pemaparannya, pembicara menegaskan bahwa demokrasi pada hakikatnya adalah alat untuk mengambil keputusan bersama demi kemaslahatan publik, yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Kerusakan yang terjadi saat ini dianggap bukan karena sistem demokrasinya, melainkan karena akhlak para pengelolanya.
Rakyat diimbau untuk tidak putus asa dan terus berjuang serta berdoa demi perubahan struktur politik dan ekonomi Indonesia ke arah yang lebih baik. Kesadaran kritis ini dinilai penting agar rasa syukur yang dimiliki rakyat tidak menjadi "syukur buta", melainkan diiringi semangat perjuangan sebagaimana meneladani para Nabi dan tokoh sejarah dalam melawan ketidakadilan.
(Eko B Art).
Comments
Post a Comment