Bara Dendam Di Tepi Bengawan
Cerpen ; Kisah Epik Arya Penangsang vs Jaka Tingkir
PEMALANG - Langit di atas Glagah Wangi tak lagi berwarna emas sejak Sultan Trenggana gugur di ujung timur Jawa, tepatnya di Panarukan. Cahaya yang dulu menerangi Kesultanan Demak Bintoro seolah meredup perlahan, digantikan oleh kabut kelabu yang membawa aroma perpecahan dan pengkhianatan. Ibu kota yang dahulu menjadi pusat peradaban Islam dan mercusuar kekuasaan di Nusantara itu kini terluka dari dalam.
Sepeninggal sang sultan yang perkasa, kursi singgasana di Keraton Demak seakan kehilangan wibawanya. Tidak ada lagi sosok yang mampu menyatukan para adipati pesisir dan penguasa pedalaman. Kekosongan kekuasaan ini mengundang para adipati untuk mulai mengasah taring mereka masing-masing. Bisik-bisik rahasia di bangsal pertemuan terasa lebih nyaring daripada doa-doa yang dipanjatkan. Kesetiaan menjadi barang langka yang terkalahkan oleh ambisi pribadi untuk mencicipi manisnya takhta tertinggi di tanah Jawa.
Penerus yang ada dianggap tak cukup kuat untuk memegang kendali. Sunan Prawoto, sang putra mahkota, adalah sosok yang lebih mencintai kesunyian ibadah dan laku prihatin daripada urusan tata negara atau strategi perang yang berdarah-darah. Kelembutannya yang merupakan sebuah kebajikan, di sisi lain justru menjadi titik lemah yang dimanfaatkan oleh mereka yang haus kuasa. Demak terpecah menjadi faksi-faksi kecil yang saling mengintai, menunggu saat yang tepat untuk saling menerkam. Zaman keemasan telah berlalu, dan yang tersisa hanyalah bara api yang siap membakar siapa saja.
Di ufuk timur wilayah kekuasaan Demak, di mana aliran Sungai Bengawan Solo meliuk-liuk membelah hutan jati yang lebat, berdirilah sebuah kadipaten yang disegani: Jipang Panolan. Tanah ini bukan sekadar wilayah agraris yang subur, melainkan benteng pertahanan yang dihuni oleh para kesatria tangguh. Di jantung kadipaten inilah tumbuh seorang pemuda yang kelak namanya menggetarkan seluruh tanah Jawa: Arya Penangsang.
Darah yang mengalir di nadinya bukanlah darah sembarangan. Ia adalah putra dari Raden Kikin—atau yang lebih dikenal sebagai Pangeran Sekar—putra sulung Raden Patah dari istri yang merupakan putri Adipati Terung. Secara garis keturunan, Penangsang memegang legitimasi yang sangat kuat atas takhta Demak. Namun, Penangsang membawa watak yang berbeda dari pangeran-pangeran di keraton pusat. Jika pangeran lain dididik dalam kelembutan tata krama yang kaku, Penangsang ditempa oleh kerasnya alam dan disiplin militer yang tanpa ampun.
Sifatnya keras, teguh, dan tak kenal takut. Ia lebih memilih berada di barak-barak prajurit atau di tepian sungai daripada duduk mendengarkan gending di pendapa. Ketangkasannya berkuda melegenda dan ia terlatih menguasai ilmu kanuragan di bawah bimbingan guru spiritualnya, Sunan Kudus. Bagi Penangsang, sang ayah adalah sosok ideal seorang kesatria yang seharusnya memimpin Demak setelah Raden Patah. Ia tumbuh dengan keyakinan bahwa garis keturunannya adalah pemegang sah mandat langit.
Namun, dunia Arya Penangsang berubah ketika ayahnya dibunuh. Tragedi kelam melanda ketika Raden Kikin tewas di tepi sungai oleh utusan Sunan Prawoto—sebuah peristiwa hitam yang dicatat oleh para pujangga sebagai Sekar Seda Lepen (Bunga yang Gugur di Sungai). Kematian sang ayah meninggalkan luka mendalam yang berubah menjadi api dendam membara di dada Penangsang. Di depan jasad sang ayah, Arya Penangsang meraba hulu keris pusakanya, Setan Kober, dan bersumpah tidak akan berhenti sampai darah yang sama tertumpah demi menagih utang nyawa.
Tahun-tahun berlalu, namun waktu tidak pernah mampu mendinginkan bara dendam di dada Arya Penangsang. Di balik kekuatannya, Sunan Kudus memberikan legitimasi dan dukungan moral atas tuntutan hak Penangsang. Dengan persiapan pasukan khusus yang disumpah di atas keris pusaka Setan Kober, target pertama pembalasan dendam pun ditetapkan, Sunan Prawoto.
Pada suatu malam yang pekat tanpa rembulan, Arya Penangsang mengutus Rangkud, seorang pembunuh bayaran yang dingin dan setia, untuk menyusup ke kediaman Sunan Prawoto. Sunan Prawoto yang sedang dalam kondisi lemah dan menghabiskan waktu di atas pembaringan tidak mampu berbuat banyak. Ketika Rangkud melangkah masuk ke dalam kamar pribadi, Sunan Prawoto menyadari bahwa hari pembalasan telah tiba dan memohon agar hanya dirinya yang menjadi korban.
Namun, keremangan malam memicu kekacauan fatal. Istri Sunan Prawoto yang berusaha melindungi suaminya dengan memeluk erat turut tertusuk oleh bilah senjata yang sama. Keduanya gugur bersimbah darah di atas lantai kayu. Pembunuhan ini bukan sekadar kematian seorang raja, melainkan deklarasi perang terbuka.
Dengan gugurnya Sunan Prawoto, Arya Penangsang secara resmi telah menumpahkan darah keluarga kerajaan di pusat kekuasaan, menyulut api perang saudara yang hebat di seluruh tanah Jawa.
Gugurnya Sunan Prawoto disusul oleh pembunuhan Pangeran Hadiri, suami dari Ratu Kalinyamat (adik Sunan Prawoto). Duka dan amarah mendalam mendorong Ratu Kalinyamat untuk melakukan tapa telanjang di Gunung Danaraja. Ia bersumpah tidak akan berpakaian dan menyisir rambutnya sebelum mengelap darah Arya Penangsang.
Dukungan emosional dan legitimasi politik Ratu Kalinyamat serta para adipati yang terancam oleh keganasan Penangsang mengalir kepada Mas Karebet atau Jaka Tingkir, Adipati Pajang yang juga merupakan menantu Sultan Trenggana.
Pajang bertransformasi dari daerah agraris yang damai menjadi barak militer yang besar. Jaka Tingkir yang kemudian bergelar Sultan Hadiwijaya tampil sebagai pemimpin yang tenang, bijaksana, dan penuh perhitungan. Kendati memiliki kesaktian tinggi, Jaka Tingkir menyadari bahwa melawan Arya Penangsang secara langsung adalah tindakan yang rumit, mengingat Penangsang didukung oleh Sunan Kudus—yang juga merupakan guru dari Jaka Tingkir.
Untuk menuntaskan benturan ini tanpa mengotori tangannya sendiri secara langsung, Sultan Hadiwijaya mengumumkan sebuah sayembara terbuka: barang siapa yang berhasil menumpas Arya Penangsang dan membawa bukti kematiannya akan diberi hadiah tanah perdikan Pati dan Alas Mentaok, sebuah hutan belantara yang luas dan misterius di pedalaman selatan.
Dua kesatria senior yang setia kepada Pajang, Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi, menyambut tantangan tersebut bersama putra angkat Sultan, Danang Sutawijaya. Pemuda tampan itu memiliki keberanian meluap-luap dan kemampuan bertarung yang luar biasa.
Ki Ageng Pemanahan merancang strategi pertarungan dengan memanfaatkan titik lemah Arya Penangsang, yaitu sifatnya yang mudah terprovokasi dan harga dirinya yang tinggi. Sebuah surat tantangan berisi penghinaan dikirimkan ke Jipang, bahkan utusan Penangsang dipotong telinganya untuk memastikan emosi sang Adipati meledak. Terpancing oleh amarah yang membabi buta, Arya Penangsang memacu kuda jantan hitam kesayangannya yang perkasa, Gagak Rimang, menuju batas wilayah di tepi Sungai Bengawan Sore.
Di seberang sungai, pasukan Pajang dan Danang Sutawijaya telah menanti. Atas petunjuk Ki Ageng Pemanahan, Sutawijaya menunggangi seekor kuda betina. Ketika Arya Penangsang menerjang menyeberangi arus sungai tanpa memedulikan pantangan spiritual, keberadaan kuda betina tersebut membuat Gagak Rimang gelisah akibat birahi dan sulit dikendalikan.
Memanfaatkan celah pertahanan yang terbuka, Danang Sutawijaya melesatkan tombak pusaka Kiai Pleret. Mata tombak menembus ilmu kebal Arya Penangsang dan menghujam tepat di perutnya hingga ususnya terburai. Namun, dalam puncak kengerian dan kehebatannya, Arya Penangsang tidak langsung runtuh. Dengan kesaktiannya yang melegenda, ia menyampirkan ususnya sendiri ke hulu Keris Setan Kober yang terselip di pinggangnya dan tetap berdiri gagah di atas kuda.
Nahas, tatkala Arya Penangsang mencabut Keris Setan Kober dari warangkanya untuk menghabisi Sutawijaya, gerakan tajam bilah keris pusaka itu justru memotong ususnya sendiri yang tersampir di hulu senjata. Sang kesatria yang tak terkalahkan oleh senjata musuh justru gugur oleh senjatanya sendiri. Tubuh Arya Penangsang terhempas ke tanah becek tepi sungai, mengakhiri riwayat Sang Singa Jipang.
Kematian Arya Penangsang menjadi lonceng kematian bagi era Demak secara keseluruhan dan mengakhiri klaim takhta dari garis keturunan Pangeran Sekar Seda Lepen. Kadipaten Jipang runtuh, dan pusat gravitasi kekuasaan di Jawa bergeser secara permanen dari pesisir utara menuju pedalaman Pajang.
Sebagai pemenang sayembara, Sultan Hadiwijaya menepati janjinya dengan menyerahkan Alas Mentaok kepada Ki Ageng Pemanahan dan Danang Sutawijaya. Proses babat alas atau pembukaan hutan belantara Mentaok dilakukan dengan kerja keras dan ketabahan. Wilayah yang dulunya hutan gelap bersarang binatang buas itu perlahan bertransformasi menjadi permukiman yang makmur dan diberi nama Mataram.
Tanpa disadari oleh Sultan Hadiwijaya, penyerahan Alas Mentaok menjadi fondasi lahirnya sebuah kekaisaran baru. Di bawah kepemimpinan Danang Sutawijaya yang kelak bergelar Panembahan Senopati, Mataram berkembang pesat hingga akhirnya menggantikan Pajang dan menyatukan tanah Jawa di bawah Panji Mataram Islam. Kematian Arya Penangsang di tepi Bengawan Sore menjadi tumbal sejarah yang membukakan jalan bagi lahirnya kebangkitan Mataram.
(Eko B Art).
Comments
Post a Comment