​Kajian Rutin Hadits Arbain Nawawi di Pemalang, Ustadz Zahid Shuhufi Tekankan Pentingnya Memudahkan Urusan dan Menutup Aib Sesama

​PEMALANG – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Albarokah, Dukuh Plondongan, Desa Losari, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Pemalang. Antusiasme jamaah terlihat dalam kegiatan kajian rutin yang digelar ba'da subuh, yang kali ini mengupas tuntas kitab hadits monumental, Arbain Nawawi, Minggu (12/7/2026).


​Dalam kesempatan tersebut, pemateri utama, Ustadz Zahid Shuhufi, menyampaikan bahwa kajian telah memasuki hadits ke-36. Dengan menyisakan enam hadits lagi hingga hadits ke-42, Ustadz Zahid memproyeksikan bahwa kitab Arbain Nawawi ini akan khatam dalam kurun waktu kurang lebih tiga minggu ke depan. Beliau berharap, para jamaah yang menyimak secara istiqamah dari awal hingga akhir dapat mempraktikkan ilmu yang didapat sebagai landasan kokoh dalam beragama.

​Pesan Mendalam Hadits Ke-36, ​Ustadz Zahid Shuhufi membacakan hadits ke-36 yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dari Nabi Muhammad shallallahu 'alihi wa sallam. Beliau menggarisbawahi beberapa poin penting yang wajib dicatat dan diresapi oleh seluruh jamaah:
​Kelonggaran di Hari Kiamat: Siapa saja yang meringankan atau memberikan kelonggaran (naffasa) terhadap kesulitan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan memudahkan kesulitannya pada hari kiamat. Ustadz Zahid menjelaskan kata naffasa berakar dari kata nafas. Seperti halnya bernafas yang memberikan kelonggaran bagi jantung dan paru-paru, membantu sesama berarti memberikan kelonggaran hidup bagi mereka.

​Kemudahan di Dunia dan Akhirat: Bagi siapa yang memudahkan urusan orang yang sedang dilanda kesulitan atau kesusahan (seperti membantu melunasi atau memberikan tenggang waktu utang secara bijak), Allah berjanji akan memudahkan kehidupannya, baik di dunia maupun di akhirat.

​Keutamaan Menuntut Ilmu: Hadits ini juga kembali menegaskan bahwa siapa pun yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu agama, maka Allah akan memudahkan jalannya menuju surga.

​Keberkahan Majelis Ilmu: Berkumpulnya suatu kaum di rumah Allah (masjid) untuk membaca dan mempelajari Kitabullah akan mendatangkan ketenangan (sakinah), curahan rahmat, naungan para malaikat, serta nama-nama mereka akan disebut-sebut oleh Allah di hadapan penduduk langit.

​Larangan Keras Membuka Aib (Al-Mujahirin)
​Poin krusial lain yang menjadi sorotan dalam kajian ini adalah perintah untuk menutup aib sesama muslim. Ustadz Zahid mengingatkan secara lugas kepada para jamaah agar menjauhi kebiasaan bergosip atau menggunjing.
​"Siapa yang menutup aib saudaranya, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat. Salah satu nikmat terbesar yang sering kita lupakan hari ini adalah sitrun jamil, yaitu nikmat Allah yang masih berkenan menutup aib-aib kita," ujar Ustadz Zahid.
​Beliau kemudian mengutip hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim yang menegaskan bahwa seluruh umat Nabi Muhammad akan diampuni dosanya, kecuali golongan Al-Mujahirin—yaitu orang-orang yang secara terang-terangan berbangga dan menceritakan kemaksiatan atau dosa yang telah mereka lakukan, padahal Allah telah menutupinya di malam hari.
​Mengakhiri kajian, Ustadz Zahid mengingatkan bahwa pada hakikatnya amalan-amalan harian umat Islam—mulai dari shalat, puasa Asyura, puasa Arafah, hingga dzikir—adalah penghapus dosa. Oleh karena itu, beliau mengajak jamaah Masjid Albarokah untuk tidak merusak pengguguran dosa tersebut dengan kesombongan membuka aib diri sendiri maupun orang lain. Kajian subuh ini pun ditutup dengan doa bersama, berharap keberkahan ilmu dapat tertanam dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Ampelgading.

(Eko B Art). 

Comments