Banyak Investasi Atau Bisnis Yang Hancur Bukan Karena Strateginya Yang Salah, Melainkan Karena Kondisi Emosi Pelaku Ekonominya Yang Tidak Stabil
PEMALANG — Mengelola keuangan di masa depan bukan sekadar urusan kecerdasan menghitung angka atau kemampuan memprediksi pergerakan pasar. Tantangan terbesar dalam hidup, termasuk bagi generasi muda, justru terletak pada kemampuan mengelola perilaku dan mengendalikan emosi diri sendiri.
Hal tersebut menjadi gagasan pokok yang diangkat dari pemikiran Morgan Housel dalam bukunya Psychology of Money, yang disampaikan Dr. Fahruddin Faiz dalam sebuah sesi pengajian dan belajar bersama mahasiswa di Yogyakarta baru-baru ini.
Pentingnya Mengelola Perilaku Sejak Dini, dalam pemaparannya, pembicara menekankan bahwa menaklukkan pasar—seperti meraih kesuksesan dalam bisnis dan investasi—memang membutuhkan keterampilan, waktu, serta faktor keberuntungan. Namun, fondasi utama untuk mencapai hal tersebut adalah kemampuan mengelola perilaku.
Banyak investasi atau bisnis yang hancur bukan karena strateginya yang salah, melainkan karena kondisi emosi pelaku ekonominya yang tidak stabil. Sifat-sifat seperti serakah, penakut, egois, impulsif, serta ketidaksuburan dalam berdisiplin menjadi kerikil tajam yang kerap menggagalkan usaha.
"Mengelola uang itu seperti diet. Semua orang tahu makan sehat dan olahraga itu penting, tapi yang sulit adalah konsisten dan disiplin melakukannya. Kita semua tahu menabung itu baik dan boros itu jelek, tinggal menjalankannya yang sulit," ujar Dr. Fahruddin Faiz di hadapan para mahasiswa.
Latihan membentuk perilaku finansial yang sehat ini harus dimulai sejak dini dan tidak bisa ditunda hingga seseorang sukses atau memiliki modal besar. Pola hidup sehari-hari, seperti kedisiplinan bangun pagi dan ketahanan mental untuk tidak terjebak fenomena FOMO (Fear of Missing Out) dalam berinvestasi, menjadi simulator penting sebelum terjun ke dunia kerja atau bisnis yang sesungguhnya.
Filosofi "Cukup" vs "Lebih".
Salah satu poin krusial yang paling disorot adalah prinsip bahwa kata "Cukup" jauh lebih penting daripada "Lebih". Sifat mengejar sesuatu yang lebih dinilai tidak akan pernah ada habisnya dan berpotensi merusak ketenangan hidup.
Pembicara mengingatkan fenomena banyak pengusaha yang mengalami kebangkrutan justru setelah meraih sedikit kesuksesan. Alih-alih mempertahankan stabilitas, mereka kerap terdorong ego untuk membuka lini bisnis baru secara membabi buta tanpa perhitungan matang, hingga akhirnya seluruh usahanya hancur. Konsep ini juga dianalogikan seperti kecanduan judi online, di mana seseorang kehilangan titik henti karena selalu ingin membalas kekalahan atau melipatgandakan kemenangan.
"The hardest financial skill is getting the goalpost to stop moving. Salah satu kemampuan finansial paling berat adalah membuat gawangnya berhenti bergerak. Jangan digerakkan terus gawangnya, sehingga kita merasa tidak gol-gol dan kurang bersyukur terus," tegasnya.
Prinsip ini dinilai sangat selaras dengan pesan teologis dalam Al-Qur'an (Surah At-Takatsur) yang mengingatkan bahaya bermegah-megahan dan berlomba-lomba dalam perkara duniawi hingga manusia masuk ke liang kubur. Cukup sendiri ditegaskan sebagai urusan mental dan kepuasan batin, bukan urusan nominal atau angka semata.
Rasional vs Reasonable, serta Menghadapi Ketidakpastian.
Dalam praktiknya, mengelola keuangan juga tidak selalu kaku berdasarkan hitungan matematika atau rasionalitas absolut. Ada kalanya keputusan yang diambil harus bersifat reasonable (masuk akal dan dapat diterima secara emosional). Pembicara mencontohkan keputusan seseorang yang memilih langsung melunasi utang demi ketenangan batin, meskipun secara rumus matematika mencicil mungkin dinilai lebih menguntungkan. Faktor kedamaian mental dan kebahagiaan orang terdekat tetap menjadi variabel penting yang sah dalam keputusan finansial.
Di akhir sesi, para peserta diajak untuk lebih fokus bersiap menghadapi ketidakpastian ketimbang membuang energi meramal masa depan. Dunia yang kompleks, perubahan geopolitik, pandemi, hingga lompatan teknologi yang cepat terbukti sering kali meleset dari prediksi para ahli.
"Sebagai langkah konkret menghadapi ketidakpastian masa depan, Housel menyarankan untuk membangun sistem keuangan yang tahan banting melalui tiga langkah utama:
Memiliki Dana Darurat: Selalu menyisihkan sebagian uang untuk kebutuhan tak terduga yang dipegang secara konsisten.
Diversifikasi Aset: Tidak menaruh semua modal dalam satu keranjang investasi (don't put all your eggs in one basket).
Menerapkan Margin of Safety: Menjaga batas aman pengeluaran agar selalu berada di bawah ambang batas kemampuan finansial yang sebenarnya," pungkas Dr. Fahruddin Faiz.
(Eko B Art).
Comments
Post a Comment