​DLH Pemalang Ajak Masyarakat Ubah Budaya Kelola Sampah: "Mulai dari Hulu, Selesaikan di Rumah"

​PEMALANG – Peningkatan aktivitas masyarakat di pusat keramaian, seperti Alun-Alun Pemalang dan sentra kuliner selama masa Lebaran, berdampak langsung pada lonjakan volume sampah yang signifikan. Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pemalang, Ahmady Stiawan Widiatmojo, A.P., M.M., menekankan pentingnya komitmen bersama untuk menyelesaikan persoalan sampah langsung dari sumbernya, yakni pada tingkat rumah tangga.



​Dalam keterangannya, Ahmady mengungkapkan bahwa komposisi sampah rumah tangga saat ini didominasi oleh sampah organik dengan persentase yang tinggi. Kondisi ini cenderung meningkat tajam, terutama pada masa libur Lebaran.



​"Harapan kami, masyarakat mulai melakukan pemilahan di hulu. Sampah organik diharapkan dapat selesai di rumah melalui pembuatan komposter, baik secara komunal maupun mandiri. Jika sampah organik sudah terkelola dengan baik, beban di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) akan berkurang drastis karena kita hanya perlu menangani sampah anorganik," ujar Ahmady di kantornya pada Senin (13/4/2026), awal pekan keempat pasca Lebaran Idulfitri 1447 H.



​Selanjutnya, Ahmady kembali menegaskan perlunya penguatan regulasi serta sinergi lintas sektor melalui pendekatan pentahelix. Saat ini, Pemerintah Kabupaten Pemalang tengah mengkaji berbagai aspek untuk mempercepat penanganan sampah, mulai dari penganggaran, teknis operasional, hingga penguatan regulasi.

​Upaya edukasi melalui pembinaan, pelatihan, serta pendampingan akan terus digencarkan guna mengubah perilaku masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan.



​"Pada prinsipnya, persoalan sampah tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah sendirian. Kita memerlukan komitmen pentahelix; mulai dari pemerintah, swasta, akademisi, media, hingga komunitas LSM harus bergerak bersama," tambahnya.

​Langkah ini selaras dengan visi RHA (Resik, Hijau, dan Apik) sebagai budaya baru. Visi tersebut diimplementasikan melalui program nyata, seperti gerakan Jumat Bersih di lingkungan perkantoran dan kerja bakti rutin di tingkat perumahan. Program ini mulai dihidupkan kembali sebagai pemicu inovasi di tingkat desa guna menciptakan keteladanan di tengah masyarakat.



​"Kami ingin budaya bersih menjadi budaya baru di masyarakat. Jadi, semua pihak tidak hanya menjadi penonton, tetapi terlibat langsung," tegas Ahmady.

​Saat ini, beberapa desa sudah mulai berinovasi dalam pengelolaan sampah. Tujuannya adalah agar lingkungan tetap bersih sepanjang waktu tanpa mengganggu aktivitas akademik maupun sosial masyarakat.
​Selain itu, DLH juga mengimbau setiap pedagang di area publik agar bertanggung jawab menyediakan tempat sampah di lokasi berjualan masing-masing. Di sisi lain, pasar-pasar yang menjadi penghasil sampah terbesar diharapkan mampu mengolah sampah secara mandiri sehingga tidak seluruh timbulan sampah dibuang ke TPA.



​"Dengan penerapan prinsip pengelolaan dari hulu ke hilir, Pemerintah Kabupaten Pemalang optimis volume sampah yang masuk ke TPA dapat ditekan secara bertahap demi mewujudkan lingkungan yang lebih sehat dan tertata," pungkas Ahmady.



​(Eko B Art)

Comments