Saatnya Beralih ke Hijau dengan Edukasi Pembuatan Pestisida Nabati dari Tanaman BerkhasiatSelsi Nurlaila Arafah

PEMALANG – Pada tanggal 9 Agustus 2025 di hari Minggu Sore telah dilaksanakan kegiatan program kerja sosial masyarakat oleh kelompok 4 Tim KKN-T Tim 123 untuk warga RT 5 Dusun 4 Desa Klareyan, Kecamatan Petarukan, Kab. Pemalang, Jawa Tengah.

Kegiatan program kerja Sosialisasi Masyarakat merupakan wadah untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta kepeduliaan warga terhadap isu-isu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Terselenggaranya kegiatan program kerja Sosial Masyarakat yang diadakan oleh kelompok 4 mendapatkan antusiasme yang tinggi dari warga RT 5 dusun 4 yang dibuktikan dengan banyaknya warga yang datang, baik ibu-ibu maupun bapak-bapak. Kegiatan ini dimulai pukul 15.00 WIB yang dimana terdapat 4 kegiatan sosialisasi yang diadakan, yaitu dimulai dengan “Edukasi Pengelolaan Social Media sederhana dan bermanfaat” yang kemudian selanjutnya kegiatan sosialisasi kewaspadaan terhadap pinjaman online, setelah itu kegiatan program kerja Sosial Masyarakat dengan judul “Edukasi Pembuatan Pestisida Nabati dari Kombinasi Tanaman Berkhasiat sebagai Alternatif Hijau Pengendali Hama Tanaman”, dan yang terakhir yaitu kegiatan sosialisasi mengenai edukasi pengolahan limbah lele menjadi pupuk organik cair. 
Program kerja Sosial Masyarakat mengenai edukasi pembuatan pestisida nabati dari kombinasi tanaman berkhasiat sebagai alternatif hijau pengendali hama tanaman ini, selain menjelaskan mengenai pestisidanya sendiri dan cara pembuatannya, dijelaskan juga mengenai prinsip fisika yang terdapat pada cara kerja pestisida nabati yang tidak kalah ampuh seperti pestisida kimia. Warga RT 5 dusun 4 mayoritas berprofesi sebagai petani serta banyak juga warga yang memiliki kebun kecil, seperti tanaman sayuran maupun hanya sekedar tanaman hiasan saja di depan rumah. Sehingga dengan mengambil tema mengenai pestisida nabati ini sangat cocok untuk warga RT 5 dusun 4.
Sebagian besar masyarakat Desa Klareyan salah satunya yaitu masyarakat RT 5 di dusun 4 menggantungkan perekonomian mereka dari hasil bertani, baik berupa tanaman pangan, sayuran, maupun tanaman perkebunan. Namun, salah satu tantangan utama yang dihadapi oleh para petani adalah serangan hama tanaman. Kehadiran hama, seperti ulat, belalang, kutu daun, dan berbagai jenis serangga perusak lainnya, dapat menurunkan hasil panen secara signifikan.
Selama ini, sebagian petani masih mengandalkan pestisida kimia sintetis sebagai solusi utama dalam pengendalian hama. Meskipun efektif, penggunaan pestisida kimia dalam jangka panjang membawa dampak negatif, antara lain pencemaran lingkungan, residu berbahaya pada hasil panen, gangguan kesehatan manusia, serta meningkatnya resistensi hama akibat paparan bahan kimia terus-menerus.
Untuk menjawab tantangan tersebut, diperlukan alternatif hijau yang lebih ramah lingkungan, aman, mudah didapat, serta ekonomis. Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah pestisida nabati, yaitu pestisida yang dibuat dari bahan-bahan alami seperti tumbuhan yang memiliki senyawa bioaktif penolak atau pembunuh hama.
Bahan-bahan seperti sereh, bawang putih, daun sirsak, daun pepaya, dan lidah buaya merupakan tanaman yang banyak ditemukan di sekitar rumah warga, mudah diperoleh, dan memiliki kandungan senyawa aktif yang terbukti ampuh mengendalikan hama. Misalnya, sereh  mengandung sitronelal yang berfungsi sebagai penolak serangga, bawang putih mengandung allicin yang bersifat antibakteri dan antijamur, daun sirsak kaya akan acetogenin yang bersifat insektisida alami, daun pepaya mengandung papain yang mampu mengganggu sistem pencernaan serangga, sementara lidah buaya dapat digunakan sebagai perekat alami sehingga larutan pestisida menempel lebih lama pada daun tanaman.
Atas dasar inilah, penulis menginisiasi program kerja sosial masyarakat dengan judul:
"Edukasi Pembuatan Pestisida Nabati dari Kombinasi Tanaman Berkhasiat sebagai Alternatif Hijau Pengendali Hama Tanaman".
Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman praktis sekaligus teoritis kepada masyarakat mengenai cara membuat, menggunakan, dan memahami prinsip fisika di balik kerja pestisida nabati.
Banyak petani di lapangan salah satunya di RT 5 dusun 4, Desa Klareyan ini yang hingga saat ini masih mengandalkan pestisida kimia dalam jumlah berlebihan, bahkan sering kali digunakan tanpa memperhatikan aturan dosis, cara aplikasi yang benar, maupun dampak jangka panjangnya. Kebiasaan tersebut tidak hanya berisiko menimbulkan berbagai masalah kesehatan bagi petani dan konsumen akibat paparan residu kimia, tetapi juga berdampak buruk terhadap lingkungan. Tanah menjadi kurang subur, air tercemar, dan ekosistem alami yang seharusnya seimbang—termasuk keberadaan serangga bermanfaat, mikroorganisme tanah, hingga hewan lain—perlahan terganggu. Akibatnya, muncul ketergantungan tinggi pada pestisida kimia, biaya produksi semakin meningkat, dan daya dukung alam terhadap pertanian semakin menurun. Dengan penggunaan pestisida nabati ini untuk menghalau hama tanaman tidak akan menimbukan pencemaran lingkungan serta aman bagi manusia karena residunya yang mudah hilang disamping bahan-bahan yang digunakan dalam pembuaatannya juga banyak terdapat di sekitar kita sehingga dapat lebih menghemat pengeluaran.
Desa Klareyan sebenarnya memiliki potensi besar dalam pengembangan pestisida nabati karena banyak tanaman lokal yang tumbuh subur di lingkungan sekitar dan pekarangan rumah warga. Beberapa di antaranya adalah sereh, bawang putih, daun sirsak, daun pepaya, dan lidah buaya. Tanaman-tanaman ini tidak hanya mudah ditemukan dan ditanam, tetapi juga menyimpan khasiat alami sebagai bahan pengendali hama yang ramah lingkungan. Misalnya, sereh yang dikenal memiliki aroma khas dapat mengusir serangga. Tanaman serai wangi/sereh mengandung zat-zat seperti geraniol, metil heptenon, terpen-terpen, terpen alkohol, asam-asam organik dan terutama sitronelal yang dapat dimanfaatkan sebagai pengusir hama serangga. Bawang putih mengandung senyawa sulfur yang efektif untuk menekan pertumbuhan hama dan penyakit tanaman. Kmudian hasil dari ekstrak bawang putih mengandung senyawa seperti allisin dan minyak atsiri yang bersifat sebagai insektisida dan fungisida. Tanaman selanjutnya, yaitu daun sirsak kaya akan senyawa acetogenin yang bersifat insektisida alami. Didalam daun sirsak mengandungan kandung senyawa Fitosterol, Tanin, Ca-oksalat clan Alkaloid murisine yang sangat bermanfaat untuk dijadikan sebagai bahan pestisida nabati yang dimana Pestisida nabati berjenis insektisida atau racun serangga ini bersifat racun kontak yang juga bisa sebagai penolak (repellent) dan penghambat nafsu makan (antifeedant) pada hama khususnya hama serangga. Daun pepaya memiliki enzim papain yang dapat menghambat serangga perusak. Daun papaya berperan sebagai insektisida, larvasida, revellent (penolak serangga), dan antifeedant (penghambat makanan) dengan cara  kerja sebagai racun kontak dan racun perut. Kumudian bahan alami yang digunakan untuk membuat pestisida nabati ini adalah lidah buaya yang dimana tidak hanya bermanfaat untuk kesehatan kulit manusia, tetapi juga dapat digunakan sebagai campuran pestisida karena mengandung senyawa antibakteri dan antijamur. Sayangnya, meskipun tanaman tersebut tersedia melimpah di sekitar pekarangan warga, pemanfaatannya sebagai pestisida alami masih sangat minim. Sebagian besar masyarakat lebih memilih produk pestisida kimia instan yang mudah dibeli di pasaran tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjangnya. Padahal, jika potensi lokal ini digali dan dimanfaatkan dengan baik, Desa Klareyan dapat menjadi contoh desa mandiri yang mampu mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia sekaligus menjaga kesehatan masyarakat serta kelestarian lingkungan.
Dengan melimpahnya potensi tanaman lokal yang berkhasiat sebagai pestisida alami di Desa Klareyan, seharusnya masyarakat dapat memanfaatkannya sebagai solusi alternatif untuk menggantikan pestisida kimia yang mahal dan berisiko. Pemanfaatan bahan nabati ini tidak hanya memberikan keuntungan secara ekonomi karena dapat dibuat dengan biaya yang sangat rendah, tetapi juga memberikan nilai tambah berupa keberlanjutan lingkungan dan kesehatan masyarakat. Bayangkan, tanaman yang selama ini tumbuh begitu saja di pekarangan rumah warga, seperti sereh atau daun pepaya, bisa diolah menjadi racikan pestisida alami yang ampuh mengendalikan hama sekaligus aman bagi tanah dan air. Dengan mengoptimalkan kekayaan hayati lokal ini, masyarakat tidak hanya mampu mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia, tetapi juga berperan aktif dalam menjaga keseimbangan ekosistem desa. Hal ini sekaligus membuka peluang bagi Desa Klareyan untuk menjadi contoh penerapan pertanian ramah lingkungan berbasis kearifan lokal yang dapat ditiru oleh desa-desa lain.
Tujuan utama dari program ini adalah memberikan pengetahuan yang lebih luas kepada masyarakat mengenai pentingnya alternatif ramah lingkungan dalam pengendalian hama tanaman. Selama ini, sebagian besar petani masih mengandalkan pestisida kimia yang justru berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan manusia maupun keseimbangan ekosistem. Melalui program ini, masyarakat diperkenalkan pada pilihan lain berupa pestisida nabati yang lebih aman, mudah dibuat, dan bahan-bahannya tersedia di sekitar lingkungan desa. Selain memberikan pengetahuan, program ini juga berfokus pada peningkatan keterampilan praktis masyarakat, khususnya dalam meracik dan mengolah bahan-bahan sederhana seperti sereh, bawang putih, daun pepaya, daun sirsak, hingga lidah buaya menjadi pestisida nabati yang efektif. Dengan adanya pelatihan keterampilan tersebut, masyarakat diharapkan mampu memproduksi pestisida nabati secara mandiri tanpa bergantung pada produk pabrikan yang harganya mahal.
Lebih dari itu, program ini juga bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menerapkan praktik pertanian berkelanjutan yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan. Pertanian berkelanjutan menjadi fondasi penting bagi ketahanan pangan desa, karena tanah yang subur dan ekosistem yang sehat akan mendukung produktivitas pertanian dalam jangka panjang. Menariknya, program ini tidak hanya berfokus pada aspek pertanian semata, tetapi juga mengaitkan ilmu pengetahuan, khususnya fisika, dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, melalui contoh penggunaan pestisida nabati, masyarakat diperlihatkan bagaimana prinsip-prinsip fisika seperti difusi, tekanan osmosis, dan sifat senyawa dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Dengan demikian, ilmu fisika tidak lagi dipandang abstrak, tetapi justru hadir sebagai ilmu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan bermanfaat langsung bagi masyarakat.
Secara keseluruhan, program ini diharapkan mampu menjadi langkah nyata dalam mendukung ketahanan pangan desa melalui praktik pertanian yang sehat, aman, dan berkelanjutan. Masyarakat tidak hanya semakin mandiri dalam menghadapi tantangan pertanian, tetapi juga mampu mengembangkan kesadaran kritis bahwa menjaga alam berarti menjaga kehidupan generasi mendatang.
Manfaat dari pelaksanaan program ini dapat dirasakan oleh berbagai pihak, baik masyarakat, lingkungan, mahasiswa, maupun desa secara keseluruhan. Bagi masyarakat, program ini memberikan solusi murah, praktis, dan aman dalam mengendalikan hama tanaman melalui pemanfaatan pestisida nabati yang dapat dibuat sendiri dari bahan sederhana di sekitar rumah. Hal ini tentu membantu mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia yang harganya relatif mahal dan berisiko menimbulkan dampak kesehatan. Dari sisi lingkungan, penggunaan pestisida nabati berkontribusi dalam menekan pencemaran tanah, air, dan udara akibat residu kimia yang biasanya sulit terurai. Dengan demikian, keseimbangan ekosistem dapat lebih terjaga, serta keberadaan organisme bermanfaat bagi tanah dan tanaman tetap lestari.
Sementara itu, bagi mahasiswa, program ini menjadi sarana nyata untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh di bangku kuliah, khususnya ilmu fisika, dalam konteks kehidupan sehari-hari. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mengasah kemampuan akademik, tetapi juga keterampilan sosial dalam berinteraksi dengan masyarakat. Adapun bagi desa, program ini berperan penting dalam memperkuat potensi lokal yang selama ini belum termanfaatkan secara optimal, sekaligus mendukung visi pembangunan berkelanjutan di sektor pertanian. Dengan adanya program ini, Desa Klareyan dapat berkembang menjadi desa mandiri yang berdaya saing, ramah lingkungan, serta mampu menjaga ketahanan pangan bagi warganya.
Rangkaian kegiatan yang dilakukan dalam pemaparan sosialisasi mengenai “Edukasi Pembuatan Pestisida Nabati dari Kombinasi Tanaman Berkhasiat sebagai Alternatif Hijau Pengendali Hama Tanaman”, yaitu setelah pemaparan materi disertai dengan menunjukkan hasil dari pestisida nabati yang telah dibuat terlebih dahulu, yang kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Pada sesi tanya jawab ini mendapatkan feedback yang cukup baik dari warga RT 5 dusun 4 dibuktikan dengan antusiasme warga mengenai cara pembuatan pestisida nabati. Dan diakhir kegiatan, setelah semua sosialisasi terpaparkan dilanjutkan dengan sesi dokumentasi bersama.
Pada saat pemaparan sosilisasi mengenai pembuatan pestisida nabati, tidak hanya dijelaskan metode pengolahan bahan tersebut, tetapi juga diberikan pemahaman ilmiah sederhana agar warga semakin memahami dasar pengetahuan yang melatarbelakanginya.
Dalam edukasi, ditekankan bahwa ilmu pengetahuan, khususnya fisika, sesungguhnya selalu dekat dengan kehidupan sehari-hari dan dapat dipahami melalui contoh nyata. Beberapa prinsip fisika yang diperkenalkan antara lain difusi, yaitu saat pestisida nabati disemprotkan ke daun, senyawa aktif seperti allicin dari bawang putih atau sitronela dari sereh akan menyebar ke permukaan daun sehingga hama tetap terkena meskipun tidak tepat pada titik semprotan. Kemudian dijelaskan pula tentang tegangan permukaan, di mana lidah buaya berperan menurunkan tegangan permukaan air sehingga larutan dapat menempel merata pada daun, berbeda jika tanpa lidah buaya yang cenderung membuat air menggumpal dalam bentuk droplet dan mudah jatuh. Selain itu, pada proses fermentasi selama 24–48 jam, mahasiswa menjelaskan bahwa terjadi perubahan energi dan produksi gas akibat aktivitas mikroba, yang dapat ditinjau dari sudut pandang fisika maupun biologi. Tidak ketinggalan, warga juga diperkenalkan dengan konsep viskositas, di mana lidah buaya meningkatkan kekentalan larutan sehingga daya rekat pestisida lebih lama bertahan di permukaan daun. Terakhir, mahasiswa menekankan bahwa pestisida nabati tidak merusak permukaan daun, sehingga tidak menghalangi penyerapan cahaya untuk fotosintesis, proses vital bagi pertumbuhan tanaman.
Kegiatan berlanjut dengan sesi praktik langsung, di mana warga secara bersama-sama mencoba meracik pestisida nabati sesuai arahan mahasiswa. Suasana semakin hidup ketika warga saling berdiskusi mengenai pengalaman mereka menghadapi hama di lahan pertanian masing-masing, lalu membandingkan efektivitas pestisida kimia dengan pestisida nabati. Sebagai penutup, dilakukan sesi dokumentasi bersama, mulai dari foto kegiatan pembuatan pestisida nabati, diskusi interaktif, hingga foto kelompok sebagai kenang-kenangan bahwa masyarakat Desa Klareyan telah mengambil langkah penting menuju pertanian yang lebih sehat, aman, dan berkelanjutan.
Proses pembuatan pestisida nabati untuk 1 liter perstisida
Bahan-bahan yang digunakan antara lain: 
1 lembar daun pepaya
10-12 lembar daun sirsak
1 daun lidah buaya
2 serai
3 siung bawang putih
1 liter air 
Langkah-langkah:
Potong kecil-kecil semua bahan, lalu haluskan menggunakan blender dengan ditambahkan sedikit air ataupun bisa dengan ditumbuk dengan ulekan.
Lalu tambahan air secukupnya ke dalam bahan-bahan yang telah dihaluskan sampai mencapai 1 liter.
Kemudian masukkan perstisida yang sudah jadi ke dalam botol dan diamkan selama 24-48 jam.
Cara penggunaan: 
Perbandingan antara pestisida nabati dengan air adalah 1:10
Penyemprotan pestisida minimal 1 minggu sekali, baik itu ada atau tidak ada hamanya
Hasil dan Dampak Kegiatan. Dari kegiatan ini, warga RT 5 Dusun 4 Desa Klareyan merasakan manfaat nyata berupa: Pengetahuan baru mengenai alternatif pengendalian hama yang murah dan aman. Keterampilan praktis dalam membuat pestisida nabati. Kesadaran lingkungan meningkat karena memahami dampak negatif pestisida kimia. 
Penerapan sains sederhana dalam kehidupan sehari-hari membuat warga semakin antusias, terutama ketika melihat bahwa fisika tidak hanya ada di buku, melainkan juga dapat diaplikasikan langsung di kebun mereka.

Dengan adanya kegiatan ini menjadi pengalaman berharga untuk menerapkan ilmu dalam konteks sosial masyarakat. Penulis belajar bahwa sains dapat menjadi solusi nyata dalam permasalahan sehari-hari masyarakat, sekaligus memberikan kontribusi pada pembangunan berkelanjutan.
Selain itu, program ini juga memperkuat hubungan emosional antara mahasiswa dan warga desa. Interaksi yang terjalin melalui diskusi yang interaktif menciptakan suasana kebersamaan yang hangat.
Program kerja "Edukasi Pembuatan Pestisida Nabati dari Kombinasi Tanaman Berkhasiat sebagai Alternatif Hijau Pengendali Hama Tanaman" yang dilaksanakan pada 10 Agustus 2025 di Desa Klareyan, Petarukan, Pemalang berjalan dengan baik dan mendapat respons positif dari warga. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal menuju pertanian yang lebih ramah lingkungan, sehat, dan berkelanjutan.
Dengan memanfaatkan potensi lokal seperti sereh, bawang putih, daun sirsak, daun pepaya, dan lidah buaya, masyarakat tidak hanya mendapatkan solusi praktis, tetapi juga turut menjaga kelestarian alam. Dukungan ilmu fisika yang dijelaskan secara sederhana turut memperkaya pemahaman warga bahwa sains sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Melalui program ini, Tim KKN-T 123 berharap dapat meninggalkan jejak positif berupa pengetahuan, keterampilan, dan semangat gotong royong demi kesejahteraan masyarakat desa. (Eko B Art). 

Comments