Inovasi Produk Shampoo Jahe sebagai Upaya Peningkatan Nilai Jual Jahe dan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Desa Klareyan

PEMALANG - Pada periode pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) tahun 2025, saya Ersa Fadilansah sebagai mahasiswa Program Studi Akuntansi Perpajakan mendapatkan kesempatan untuk melaksanakan pengabdian masyarakat di Desa Klareyan, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang. Pada kegiatan KKN yang didampingi oleh Bu Dr.Siti Fatimah, M.Kes, saya membuat variasi produk dari bahan dasar jahe yang mana memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk lain dan meningkatkan nilai jual dari jahe tersebut. 
Meskipun jahe memiliki nilai ekonomis tinggi, sebagian besar pelaku usaha belum mengoptimalkan pengolahannya menjadi produk bernilai tambah. Sesuai dengan jurusan saya maka saya merancang sebuah program kerja multidisiplin yang memadukan inovasi produk berbahan baku lokal dengan ilmu akuntansi yang saya tekuni, sehingga hasilnya tidak hanya berupa barang yang dapat dijual tetapi juga memberi pengetahuan manajerial kepada masyarakat.


Program tersebut saya beri nama “Pembuatan Shampoo Jahe untuk Peningkatan Nilai Jual Produk Pertanian serta Perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP) dan Penetapan Harga Jual”. Pemilihan shampoo jahe sebagai produk inovasi didasarkan pada tren meningkatnya permintaan pasar terhadap produk perawatan tubuh berbahan alami. Jahe dikenal memiliki manfaat untuk kesehatan rambut, antara lain merangsang pertumbuhan rambut, mengurangi ketombe, dan memberikan sensasi segar pada kulit kepala. Mengubah jahe menjadi shampoo berarti mengubah bentuk dan nilai jualnya secara signifikan: dari sekadar bahan rempah menjadi produk kosmetik dengan harga jual yang jauh lebih tinggi.


Persiapan program dimulai jauh sebelum tanggal pelaksanaan. Saya melakukan observasi melalui pertemuan dengan UMKM Jahe yaitu Pak Eko mengenai apa saja variasi produk dari jahe yang selama ini dibuat. Dari pertemuan tersebut, diperoleh gambaran bahwa minat masyarakat untuk mengembangkan produk turunan dari jahe cukup tinggi, tetapi keterampilan teknis dan pengetahuan terkait penghitungan biaya produksi masih terbatas. Pelaku usaha kecil yang menentukan harga jual hanya berdasarkan perkiraan tanpa menghitung secara rinci seluruh biaya yang telah dikeluarkan. Akibatnya, keuntungan yang diperoleh sering kali tidak maksimal dan usaha sulit berkembang.


Selain survei lapangan, saya melakukan studi literatur mengenai formulasi shampoo jahe yang sederhana, ekonomis, dan sesuai dengan bahan-bahan yang mudah diperoleh di daerah setempat. Uji coba resep dilakukan beberapa kali untuk mendapatkan tekstur, aroma, dan daya busa yang sesuai standar produk perawatan rambut. Pemilihan peralatan produksi juga mempertimbangkan ketersediaan di lingkungan rumah tangga agar peserta pelatihan nantinya dapat memproduksi secara mandiri tanpa memerlukan modal besar untuk membeli mesin khusus.

Setelah survei, saya melakukan studi literatur mengenai formulasi shampoo jahe. Beberapa resep diuji coba dengan bahan-bahan yang sederhana dan mudah diperoleh di lingkungan desa. Tujuannya adalah menghasilkan shampoo yang memiliki kualitas baik, busa cukup, tekstur lembut, serta aroma khas jahe yang segar. Peralatan yang digunakan juga dipilih berdasarkan ketersediaan di rumah tangga, seperti blender, panci, saringan, dan botol plastik. Dengan demikian, peserta pelatihan nantinya tidak perlu membeli mesin khusus yang mahal untuk memproduksi shampoo.


Setelah dilakukan berbagai survei lapangan dan studi literatur, tahap berikutnya dalam program kerja ini adalah proses pembuatan produk shampoo jahe yang dilaksanakan pada tanggal 25 Juli 2025 yang kemudian disosialikasika kepada Pak Eko tanggal 27 Juli 2025. Proses ini merupakan implementasi nyata dari hasil penelitian dan observasi yang telah dilakukan sebelumnya. Dengan memanfaatkan bahan baku utama berupa jahe yang banyak tersedia di Desa Klareyan, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi komoditas lokal. Proses pembuatan shampoo tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya memanfaatkan potensi lokal secara kreatif dan inovatif.
Tahap pertama dalam pembuatan shampoo adalah menyiapkan bahan utama, yaitu jahe segar sebanyak 50 gram. Jahe dikupas bersih dan dipotong menjadi bagian-bagian kecil agar mudah diolah. Pemilihan jahe segar memiliki tujuan khusus, yakni untuk memastikan kandungan zat aktif di dalamnya masih terjaga. Jahe mengandung senyawa gingerol dan shogaol yang bermanfaat untuk merangsang sirkulasi darah di kulit kepala, memperkuat akar rambut, serta membantu mengurangi ketombe.

 Kandungan antimikroba dalam jahe juga berfungsi melawan bakteri dan jamur penyebab masalah kulit kepala. Dengan demikian, jahe tidak hanya menjadi bahan utama secara kuantitas, tetapi juga menjadi inti manfaat dari produk shampoo ini.
Tahap berikutnya adalah memasukkan potongan jahe ke dalam blender. Sebelum diblender, ditambahkan air mineral sebanyak 200 ml untuk memudahkan proses pelarutan. Air mineral dipilih karena sifatnya yang murni, bebas dari bahan kimia berbahaya, serta lebih aman digunakan dalam produk perawatan tubuh. Selain berfungsi sebagai pelarut, air juga berperan penting dalam menjaga kelembapan rambut dan kulit kepala. Rambut yang kering cenderung mudah patah dan bercabang, sehingga keberadaan air dalam formula shampoo membantu menjaga keseimbangan kelembapan alami.


Bahan selanjutnya yang ditambahkan adalah madu sebanyak 40 ml. Madu dikenal luas sebagai bahan alami dengan berbagai manfaat, baik untuk kesehatan maupun kecantikan. Dalam konteks perawatan rambut, madu memiliki sifat humektan, yakni mampu menarik dan mempertahankan kelembapan pada rambut. Hal ini menjadikan rambut lebih lembut, berkilau, dan mudah diatur. Selain itu, kandungan antioksidan dalam madu mampu melindungi rambut dari kerusakan akibat paparan radikal bebas. Sifat antibakteri madu juga membantu menjaga kebersihan kulit kepala sehingga mengurangi risiko gatal dan ketombe.
Tidak kalah penting, ditambahkan pula aloe vera atau lidah buaya sebanyak 20 gram. Aloe vera sudah lama dikenal sebagai bahan alami yang sangat efektif untuk merawat rambut dan kulit kepala. Gel lidah buaya mengandung vitamin A, C, dan E yang berperan sebagai antioksidan, serta vitamin B12 dan asam folat yang membantu mencegah kerontokan rambut. 

Lidah buaya juga memiliki sifat menenangkan sehingga dapat meredakan iritasi pada kulit kepala. Dengan adanya aloe vera dalam shampoo, diharapkan rambut menjadi lebih kuat, tumbuh lebih sehat, serta terhindar dari masalah kerontokan berlebih.
Selain jahe, madu, dan aloe vera, bahan alami lain yang ditambahkan adalah minyak kelapa. Minyak kelapa merupakan salah satu minyak nabati yang kaya akan asam laurat. Asam laurat memiliki kemampuan penetrasi tinggi ke dalam batang rambut sehingga mampu menutrisi rambut dari dalam. Fungsi utama minyak kelapa dalam shampoo ini adalah sebagai pelembap alami yang membuat rambut terasa lebih lembut dan tidak mudah kusut. 

Selain itu, minyak kelapa memiliki sifat antimikroba yang membantu menjaga kesehatan kulit kepala serta mencegah infeksi jamur. Dengan kombinasi manfaat ini, minyak kelapa menjadi pelengkap ideal dalam formula shampoo jahe.
Setelah semua bahan—jahe, air mineral, madu, aloe vera, dan minyak kelapa—dicampurkan ke dalam blender, langkah selanjutnya adalah memproses campuran tersebut hingga halus. 

Proses blending ini dilakukan untuk memastikan semua bahan tercampur merata dan tidak ada gumpalan besar yang tersisa. Hasil blender yang halus memudahkan proses penyaringan, sehingga tekstur shampoo lebih lembut dan nyaman digunakan. Pada tahap ini, penting untuk menjaga kebersihan alat agar produk yang dihasilkan higienis dan aman bagi konsumen.
Tahapan berikutnya adalah proses penyaringan. Campuran yang sudah halus disaring untuk memisahkan ampas jahe dan serat-serat kasar yang mungkin masih tersisa. Proses ini bertujuan agar shampoo yang dihasilkan memiliki tekstur lebih cair, lembut, dan tidak meninggalkan residu ketika digunakan di rambut. Saringan yang digunakan harus bersih dan rapat, sehingga hanya ekstrak cair yang lolos. Proses penyaringan ini juga membuat produk lebih tahan lama karena ampas yang tersisa bisa mempercepat proses fermentasi atau pembusukan.
Setelah tahap penyaringan selesai, cairan shampoo yang dihasilkan siap untuk dimasukkan ke dalam wadah atau botol kemasan. Pemilihan wadah tidak hanya mempertimbangkan fungsi, tetapi juga estetika. Botol yang digunakan sebaiknya transparan agar konsumen dapat melihat isi produk, dengan penutup yang rapat agar shampoo tidak mudah tumpah. Pada tahap ini, produk dapat diberi label sederhana yang mencantumkan nama produk, bahan-bahan yang digunakan, serta manfaat utamanya. Label ini menjadi bagian penting dari strategi pemasaran, karena memberi informasi yang jelas kepada konsumen.
Setelah melalui tahapan produksi, baik dari persiapan bahan hingga proses pencampuran, penyaringan, dan pengemasan, maka langkah selanjutnya adalah melakukan analisis biaya. Analisis biaya ini menjadi sangat penting dalam rangka menentukan kelayakan produk untuk dipasarkan. 




Dari data yang dihimpun selama kegiatan KKN, total biaya produksi untuk menghasilkan 19 botol shampoo jahe adalah sekitar Rp106.175. Biaya ini mencakup semua komponen yang digunakan, mulai dari pembelian jahe, madu, aloe vera, minyak kelapa, air mineral, hingga botol kemasan.
Perhitungan biaya produksi dilakukan secara detail agar dapat memberikan gambaran yang realistis mengenai jumlah dana yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu produk. Dari total biaya sebesar Rp106.175, kemudian dihitung Harga Pokok Produksi (HPP) per botol. Dengan hasil 19 botol shampoo, HPP per botol mencapai sekitar Rp5.588. Nilai ini menjadi dasar penting untuk menentukan strategi harga jual, karena HPP merepresentasikan biaya minimal yang harus ditutupi agar usaha tidak merugi.
HPP per botol ini memperlihatkan bahwa pembuatan shampoo jahe cukup ekonomis jika dilihat dari sisi bahan baku yang digunakan. Bahan-bahan alami seperti jahe dan aloe vera bisa diperoleh dengan harga terjangkau, bahkan di Desa Klareyan sebagian masyarakat sudah menanamnya sendiri. Dengan demikian, biaya utama justru lebih banyak terserap pada kebutuhan botol kemasan yang memang harus dibeli dari luar. Fakta ini menunjukkan bahwa optimalisasi sumber daya lokal dapat menekan biaya produksi secara signifikan.



Setelah memperoleh angka HPP, langkah berikutnya adalah menentukan harga jual. Dalam hal ini, kondisi pasar dan daya beli masyarakat menjadi pertimbangan utama. Dari hasil observasi sederhana terhadap harga produk sejenis di pasaran, ditetapkan bahwa harga jual yang wajar untuk shampoo herbal jahe ini adalah Rp8.000 per botol. Harga tersebut dinilai cukup kompetitif sekaligus masih terjangkau oleh konsumen lokal.
Penetapan harga jual pada Rp8.000 tidak hanya menutup biaya produksi, tetapi juga memberikan margin keuntungan. Jika dibandingkan dengan HPP sebesar Rp5.588 per botol, maka diperoleh keuntungan sekitar Rp2.412 untuk setiap botol yang terjual. Keuntungan ini menjadi indikator bahwa produk shampoo jahe memiliki potensi finansial yang cukup baik apabila diproduksi dan dipasarkan secara konsisten.
Selain itu, margin keuntungan yang diperoleh juga dapat dialokasikan untuk berbagai kebutuhan pengembangan usaha. Misalnya, sebagian keuntungan bisa digunakan untuk memperbaiki kualitas kemasan, menambah variasi aroma, atau meningkatkan strategi promosi. Dengan manajemen yang baik, usaha produksi shampoo jahe tidak hanya berfokus pada keberlangsungan produksi, tetapi juga pada inovasi dan daya saing di pasar.


Apabila dilakukan perhitungan dalam skala yang lebih besar, potensi keuntungan akan semakin terlihat jelas. Misalnya, jika dalam satu periode produksi dapat dihasilkan 100 botol shampoo, maka total keuntungan yang diperoleh bisa mencapai sekitar Rp241.200. Angka ini cukup menjanjikan bagi usaha mikro yang berbasis pada pengolahan komoditas lokal. Hal ini sekaligus memperlihatkan bahwa pemberdayaan masyarakat melalui produk inovatif seperti shampoo jahe dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan pendapatan.
Selain nilai ekonomis, analisis HPP dan harga jual juga memberikan edukasi kepada masyarakat, khususnya pelaku UMKM, tentang pentingnya pencatatan biaya yang sistematis. Melalui kegiatan ini, masyarakat dapat belajar bahwa keberhasilan usaha tidak hanya bergantung pada kualitas produk, tetapi juga pada ketepatan dalam menghitung biaya dan menentukan harga. Dengan pemahaman ini, diharapkan UMKM desa mampu bersaing secara lebih profesional di pasar yang lebih luas.
Keberhasilan dalam mengelola biaya dan menentukan harga jual shampoo jahe ini juga menjadi contoh konkret bagi mahasiswa KKN untuk mengaplikasikan ilmu akuntansi perpajakan dalam konteks nyata. Dari proses pencatatan bahan, perhitungan biaya, hingga analisis margin keuntungan, seluruh langkah ini relevan dengan teori yang dipelajari di kampus. Dengan demikian, program kerja multidisiplin ini tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat, tetapi juga memberikan pengalaman praktis bagi mahasiswa.
Secara keseluruhan, perhitungan HPP dan penetapan harga jual shampoo jahe menegaskan bahwa inovasi berbasis potensi lokal dapat menghasilkan produk yang bernilai ekonomis sekaligus berdaya saing. Kombinasi antara pemanfaatan jahe sebagai bahan utama, pengolahan yang sederhana namun higienis, serta strategi harga yang tepat, mampu menjadikan produk ini sebagai salah satu peluang usaha yang menjanjikan di Desa Klareyan. Hal ini sejalan dengan tujuan program KKN, yaitu memberdayakan masyarakat melalui pengembangan produk lokal yang inovatif, sehat, dan bernilai jual tinggi.
Sebagai penutup, program pembuatan shampoo jahe yang dilaksanakan di Desa Klareyan pada kegiatan KKN ini membuktikan bahwa potensi lokal dapat dikembangkan menjadi produk inovatif bernilai ekonomis. Melalui tahapan yang sistematis, mulai dari survei kebutuhan, studi literatur, hingga praktik produksi, mahasiswa bersama masyarakat berhasil mengolah jahe menjadi shampoo herbal dengan tambahan bahan alami seperti madu, aloe vera, minyak kelapa, dan air mineral. Proses ini tidak hanya menghasilkan produk kesehatan dan kecantikan yang aman, tetapi juga menambah nilai jual jahe yang sebelumnya hanya dipasarkan sebagai bahan mentah. Analisis biaya menunjukkan bahwa dengan modal Rp106.175 dapat dihasilkan 19 botol shampoo dengan HPP Rp5.588 per botol, sementara harga jual ditetapkan Rp8.000. Dari perhitungan ini, terdapat margin keuntungan Rp2.412 per botol yang cukup menjanjikan bila dikembangkan lebih luas. Hal ini menegaskan pentingnya pemahaman akuntansi biaya dan strategi penetapan harga bagi keberlangsungan usaha. Lebih jauh, program ini telah memberikan pembelajaran praktis baik bagi mahasiswa dalam mengaplikasikan teori yang dipelajari maupun bagi masyarakat dalam memahami manajemen usaha kecil. 


Diharapkan, produk shampoo jahe ini dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan UMKM desa serta langkah nyata menuju kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal.
(Eko B Art). 


Comments